Mohon tunggu...
Riezky R Natadireja
Riezky R Natadireja Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa - Penulis Amatir

Memberikan opini pribadi terhadap kebijakan pemerintah untuk dianalisis dan memberikan alternatif kebijakan dalam rekomendasi.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Mudahnya Tingkatkan Perekonomian Melalui Sektor Pariwisata dengan Perbaikan Transportasi

12 Desember 2018   17:01 Diperbarui: 12 Desember 2018   17:06 129
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemerintahan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Apa yang pertamakali terngiang di pikiran anda ketika mendengar tentang Yogyakarta? Budaya, pendidikan, keramahan penduduknya atau pariwisata. Menurut data salah satu surat kabar bahwa Yogyakarta merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Indonesia dan berada pada peringkat ketiga. 

Kota ini memang layak mendapat predikat "istimewa", hal ini dikarenakan siapapun yang telah berkunjung pasti ingin kembali lagi ke Yogyakarta. Mengapa demikian? Karena destinasi yang ada di kota ini juga cukup beragam, mulai dari pantai, gunung, hingga bangunan-bangunan kuno, dan yang tak kalah pentingnya yaitu Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan di Indonesia.

Seperti yang kita telah tahu, bahwa beberapa destinasi pariwisata itu seperti candi Prambanan dan Ratu Boko, Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat, Kota Tua Kota Gedhe, Makam Raja-raja Mataram Kota Gedhe, museum-museum, dan adat-istiadat serta kesenian tradisionalnya. 

Kemudian untuk potensi keindahan alam Yogyakarta yang sangat mempesona, terdapat di beberapa Kawasan seperti kawasan Kaliurang dan gunung Merapi, kawasan Nglanggeran, Tahura Bunder, puncak Suroloyo/perbukitan Menoreh, gunung Gambar, pegunungan Karst, maupun keindahan pantai selatan (pantai Kukup, Baron, Krakal, Siung, Ngrenehan, Sundak, Sadeng, Parangtritis, Goa Cemara, Pandansimo, Glagah dll) dan yang tak kalah hits yaitu sederetan keindahan alam yang terdapat di Bantul seperti Gumuk Pasir,  Bukit Pangguk Kediwung, Jurang Tembelan, Kebun Buah Mangunan, Seribu Batu Songgo Langit, Puncak Becici, Hutan Pinus Pengger, Rumah Hobbit Mangunan, Gardu Pandang Pinus Asri dan masih banyak lagi.
Data statistik dari Dinas Pariwisata DIY pada tahun 2013 - 2017 menunjukkan bahwa grafik perkembangan wisatawan baik lokal maupun mancanegara terus mengalami peningkatan yang cukup masif. 

Di tahun 2013 total wisatawan berjumlah 2.837.967 orang dan terus meingkat sampai 5.229.298 di tahun 2017. Meningkatnya jumlah wisatawan di Yogyakarta harus diimbangi dengan terpenuhinya transportasi yang memadai, karena dapat berimplikasi kepada perkembangan jumlah wisatawan asing maupun lokal. Beberapa perbaikan transportasi yang dapat dilakukan antara lain:

Pertama yaitu mengatur kembali moda transportasi yang berada di stasiun maupun bandara. Baik masyarakat Yogyakarta maupun wisatawan yang datang kebanyakan enggan menggunakan transportasi konvensional yang ada di tempat-tempat tersebut seperti ojek dan taksi, penyebab utamanya yaitu tarif yang diberikan cukup mahal. 

Beberapa kerabat menyatakan bahwa baru-baru ini tarif ojek untuk jarak tempuh dari Stasiun Tugu menuju Pogung Raya (sekitar 4,5 km) berkisar antara Rp 30.000 -- Rp 40.000. Hal senada untuk tarif taksi konvensional juga dialami oleh penulis, di tahum 2017 tarif yang di tawarkan dengan jarak tempuh kurang lebih 5 km yaitu sebesar Rp 75.000,- padahal menurut Keputusan Gubernur DIY 21/Kep/2015 tarif taksi per km (Rp) yaitu 4.000, per buka pintu sebesar 6.650, tarif tunggu 45.000 per jam (400 per 30 detik), tarif minimum 25.000 dan biaya pembatalan 15.000. 

Kota Yogyakarta terkenal dengan citranya sebagai "Kota yang Murah", sehingga ketika wisatawan pertama kali menginjakkan kaki di Yogyakarta baik itu melalui bandara maupun stasiun, kita harus memberi first immperssion yang positif juga. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya didirikan juga office/ stand untuk ojek. Fungsinya yaitu untuk mengkoordinir dan mengatur antara ojek dan penumpang. Nantinya, admin yang berada di stand ojek ini yang megkalkulasikan tarif perjalanan dengan memperhitungkan jarak dan cuaca. 

Dalam hal ini dibutuhkan intervensi pemerintah untuk mengawasi penetapan tarif perjalanan, sehingga harga yang ditetapkan berada pada tarif normal. Begitu pula dengan taksi konvensional, selama ini stand-stand yang berdiri hanya sebagai marketing saja, alangkah lebih baik jika fungsi dari admin stand di tambah dengan pengaturan tarif taksi, sehingga dapat meminimalisir kecurangan argometer yang selama ini telah marak terjadi. Kedua penyelesaian  diatas menjadi win-win solution untuk kedua belah pihak, para penumpang tidak perlu lagi dirisaukan dengan masalah harga tarif perjalanan begitu juga dengan driver yang masih tetap mendapatkan penghasilan. 

Karena di zaman 4.0 ini, ojek dan taksi konvensional terkalahkan dengan munculnya versi online, sehingga mau tidak mau pemerintah juga ikut andil untuk berinovasi dengan ikut serta mengupgrade sistem-sitem transportasi yang ada, khususnya konvensional. Seperti yang kita ketahui untuk taksi maupun ojek online memiliki kelebihan yaitu kepastian harga, keamaan dan kenyamanan. Pengaturan angkutan konvensional ini tidak lain hanyalah untuk menjamin keberlangsungan hidup para driver konvensional dan meningkatkan kembali minat wisatawan terhadap Yogyakarta.

Kedua, perbaikan transportasi untuk menuju beberapa lokasi wisata yang berada cukup jauh dari Kota Yogyakarta, seperti contohnya untuk menjangkau daerah Bantul, Gunungkidul dan Kaliurang atas. Selama ini baik turis lokal maupun mancanegara terutama para backpacker, mereka kebingunan untuk menjangkau tempat tersebut. Mungkin alternatif yang mereka ambil yaitu dengan menyewa motor atau mobil pribadi, karena sampai saat ini belum ada transportasi umum yang dapat menjangkau tempat-tempat tersebut. Tak jarang juga wisatawan yang mengurungkan niatnya karena terkendala oleh transportasi. Perbaikan transportasi yang dapat dilakukan yaitu dengan pengadaan angkutan salah satu contoh bis mini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun