Mohon tunggu...
-
- Mohon Tunggu... Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

-

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Turki Berhasil Jinakkan Beruang Merah, Rusia Tunduk Kepada Turki?

1 Desember 2015   17:36 Diperbarui: 1 Desember 2015   18:48 2532
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Presiden Rusia, Vladimir Putin (Dok: Reuters.com)"][/caption]Setelah sebelumnya sanksi tegas berupa embargo ekonomi yang diberlakukan oleh Rusia terhadap Turki sebagai hukuman atau sanksi atas Turki yang menembak jatuh jet SU-24 Rusia, Pada Rabu (25/11/2015). Hari ini secara mengejutkan Rusia menyatakan mencabut sebagian sanksi yang diterapkan terhadap Turki tersebut. Rusia ternyata menunda larangan impor dari Turki, yang tak lain disebabkan oleh Rusia yang khawatir akan meningkatnya inflasi negara Beruang Merah tersebut.

Pasalnya penerapan larangan produk asal Turki yang terkesan mendadak tersebut otomatis akan mengakibatkan kekurangan pasokan sayur-sayuran, buah-buahan dan produk lain yang di impor dari Turki. Keputusan Rusia yang memutuskan menunda pemberlakuan sebagian sanksi tersebut adaah bagian dari strategi politik Presiden Rusia, Vladimir Putin yang sangat cermat melihat suhu politik Rusia kedepan dan perekonomian negaranya.

Pasalnya, jika tak ada persiapan dari Rusia terkait embargo terhadap Turki tersebut, Sesungguhnya bukan hanya ekonomi Turki saja yang terpukul, Rusia juga perekonomiannya akan sedikit terganggu karena disetopnya impor dari Turki. Persoalan pemilihan umum Rusia 2016 juga diyakini sebagai pertimbangan utama Putin menunda dan pada akhirnya menyatakan membatalkan sanksi berupa larangan impor tersebut.

Selama ini diketahui bahwa, Rusia adalah mitra dagang terbesar kedua Turki setelah Jerman. Dimana diketahui Rusia selama ini sangat bergantung pada hasl impor dari Turki, dan bahkan sebelumnya Presiden Putin dan Presiden Erdogan pun, jauh hari sebelum Turki menembak jatuh jet SU-24 Rusia, Kedua kepala negara tersebut sempat berbicara mengenai penguatan hubungan ekonomi antar kedua negara.

Perlu diketahui bahwa, Menurut data statistik pemerintah, Rusia tahun 2014 sudah menghabiskan hampir 750 juta dollar AS, hanya untuk mengimpor buah-buahan dan sayur-sayuran dari Turki. Sekitar 90% lemon yang dijual di pasar Rusia adalah produk impor asal Turki, Begitupun dengan tomat, anggur, dan aprikot yang juga di impor langsung dari Turki. Dengan meilhat begitu besar angka ketregantungan Rusia terhadap Turki terutama persoalan untuk memenuhi kebutuhan buah dan sayur nasional, Maka Rusia diyakini akan membatalkan sanksi larangan impor, Karena jika tidak demikian, Kekhawatiran Presiden Putin akan inflasi akan segera terjadi.

Karena jika impor tersebut disetop, Maka bisa dipastikan Rusia dalam memenihi kebutuhan nasionalnya akan semakin sulit dan harga-harga diyakini bakal merangkak naik dan ini tentunya akan berimbas pada kepercayaan masyarakat Rusia terhadap Presiden Putin, terutama jika inflasi tersebut terjadi disebabkan oleh sikap keras Rusia yang sebelumnya sudah menjatuhkan sanksi ekonomi , Namun ditunda hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Dan hingga saat ini sanksi yang dijatuhkan oleh Rusia terhadap Turki hanya meliputi pelarangan semua warga negara Rusia berwisata ke Turki.

Pemilu legislatif Rusia 2016

Tahun 2016, Rusia akan segera menggelar pemilihan umum, dan makin dekatnya pemilihan umum di Rusia diyakini sebagai keputusan Rusia yang memuskan untuk menunda pemberlakuan larangan impor Rusia dari Turki. Tentunya Presiden Putin sudah melakukan hitung-hitung politik untuk terus dapat meningkatkan daya tawarnya yang dikabarkan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden Rusia pada Pilpres Rusia 2016 mendatang.

Terus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia tersebut, Adalah senjata jitu Putin untuk kembakli memenangkan pilpres 2016 yang akan didahului oleh pemilihan legislatif. Bahkan 2 partai anti-Putin sudah menyatakan diri bergabung dalam pemilihan umum legislatif 2016. Ini adalah upaya pertama yang dilakukan oleh dua petinggi partai tersebut untuk mempersatukan kekuatan-kekuatan anti-Putin.

RPR-Parnas, Partai politik yang didirikan oleh pembangkang Rusia, Boris Nemtsov, akan menggabungkan kekuatan yang dimiliki partai tersebut dengan Partai Kemajuan yang dimpimpin oleh aktivis oposisi Alexei Navalny. Perselisihan internal partai yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini telah melemahkan kemampuan oposisi politik Rusia untuk menantang Presiden Vladimir Putin dalam peta politik Rusia.

Bersatunya dua partai oposisi yang selama ini menjadi musuh politik utama dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, Ternyata sudah berhasil terbaca dengan cerdas oleh Putin. Penundaan yang pada ujungnya adalah pembatalan sanksi larangan impor Rusia dari Turki pasti akan dinyatakan tegas oleh pemerintah Rusia, Karena 2016 sudah makin dekat, Tentunya Putin tidak akan pernah melakukan kesalahan-kesalahan bodoh yang dapat melemahkan daya tawarnya dalam perpolitikan Rusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun