Mohon tunggu...
Ribut Achwandi
Ribut Achwandi Mohon Tunggu... Penulis - Peracik Kata

Peracik kata, Mentor gadungan, Penjaga toko Ibu, Penyiar radio/tv, kadang jadi penjaja ilmu di kampus-kampus.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Absen di Kompasiana Sejenak untuk Sebuah Perjalanan

11 Oktober 2021   15:28 Diperbarui: 11 Oktober 2021   16:02 118 13 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Dalam beberapa waktu, saya absen dari kompasiana.com. Tetapi, bukan berarti saya tak menulis. Sebaliknya, saya masih menulis. Hanya untuk keperluan yang berbeda.

Ada beberapa naskah yang rupanya perlu saya selesaikan pengeditannya. Terutama, naskah-naskah yang dikirim secara pribadi kepada saya oleh beberapa penulis untuk diedit. Dan, yang paling menyenangkan adalah, di antara sekian naskah yang terkirim secara pribadi itu, ada salah satu naskah yang dikirim langsung dari seorang mursyid tarekat yang masyhur.

Kabar ini tentu sangat menggembirakan dan membahagiakan saya. Namun, rasa-rasanya hal itu membuat saya merasa diberi tanggung jawab besar. Apalagi saya tergolong awam terhadap masalah-masalah agama.

Maklum, saya bukan seorang yang taat beragama. Bahkan, belajar agama pun sekadar di bangku sekolah. Tidak terlalu sering pula mengikuti majelis-majelis pengajian, sebagaimana orang-orang di tempat tinggal saya.

Makanya, kalau semisal saya diajak berdebat soal-soal agama, paling saya hanya jawab dengan senyum. Bukan karena saya berusaha tampil bijaksana, melainkan karena memang saya tidak tahu harus bilang apa.

Iya lho, di kota tempat saya tinggal, hampir rata-rata orang yang saya temui, entah ia awam atau tidak, cukup fasih membahas masalah agama. Dalam obrolan warung kopi sekalipun, mereka tak jarang akan memasukkan obrolan seputar masalah agama. Sampai terkadang saya merasa kurang percaya diri dan merasa seperti orang paling bodoh di antara mereka.

Bagaimana tidak, sementara mereka asyik mengobrol soal agama, saya hanya bisa diam. Melongo. Sementara mereka begitu fasih mengucapkan ayat-ayat dalam bahasa Arab, saya hanya bisa mendengarkan tanpa bisa menirukannya, juga tanpa bisa memahami apa arti dan maknanya. Betapa bodohnya saya ini.

Meski begitu, amanat yang saya emban ini harus saya syukuri. Barangkali ini cara Tuhan mendidik dan mengajari saya agar lebih memahami agama. Barangkali ini cara Tuhan pula agar saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang baik. Orang-orang saleh.

Dengan mengedit tulisan-tulisan para mursyid tarekat ini saya jadi punya kesempatan lebih untuk mempelajari agama. Punya peluang yang lebih luas lagi untuk menyelami diri. Sejauh mana rasa keimanan saya dan bagaimana saya mampu menjadikan agama sebagai praktik sehari-hari.

Tapi, jangan ditanyakan kepada saya soal sudah berapa ayat dalam Alquran yang saya hafal. Saya termasuk orang yang buruk dalam kemampuan menghafal. Jangan ditanya pula tentang hadis-hadis yang saya ingat, saya tidak pernah menghafalkan hadis-hadis itu.

Bahkan, kalau Anda menanyakan pada saya soal mazhab-mazhab, saya pun tak punya jawaban. Sebab, saya belum benar-benar punya kemampuan untuk mencerap pengetahuan yang disampaikan oleh para imam mazhab-mazhab itu. Paling banter, saya sekadar mendapatkan informasi tentang mazhab-mazhab itu ya dari pengajian-pengajian. Entah itu virtual maupun yang tanpa sengaja saya ikut hadir di sana. Itupun biasanya masuk telinga kanan, keluar lagi dari telinga kiri. Tak ada yang benar-benar nyantol.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan