Riap Windhu
Riap Windhu Sales

senang membaca dan menulis, cinta bersepeda, suka pada tema lingkungan. Menggemari dunia pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di sebuah perusahaan asuransi jiwa. Dapat dihubungi di 081287749530. Email: rwindhu@gmail.com. Instagram : riapwindhu dan twitter @riapwindhu. Bisa juga di www.rindhuhati.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Bebas Beraktivitas dengan Krim Otot Bebas Pegal Geliga

4 November 2017   23:56 Diperbarui: 5 November 2017   00:04 1373 1 0
Bebas Beraktivitas dengan Krim Otot Bebas Pegal Geliga
Melakukan aktivitas olahraga ataupun bersama teman-teman di luar ruang, persiapkan selalu geliga krim untuk bebas pegal. Aktivitas pun bisa berlangsung tanpa hambatan (dokpri)

PERJALANAN menyusuri lereng Gunung Salak itu mulai terasa melelahkan. Beban bawaan ransel di pundak seakan memberat. Langkah kedua kaki pun perlahan melambat. Perlu hati-hati karena jalanan tanah yang dipijak cukup licin karena basah. Pepohonan lebat ada di sisi  kiri dan sisi kanan.

Beberapa kali, kawan saya bertanya kepada pemandu yang membawa kami, "Lokasinya masih jauh, kang?" Sementara Kang Deni,  yang membawa kami tertawa sebelum menjawab, "Tenang, sebentar lagi. Paling cuma 500 meter lagi."

Nyatanya, jarak yang ditempuh masih lebih dari 500 meter. Ucapan itu merupakan penyemangat  agar kami tetap melangkahkan kaki. Tetap berada pada jarak yang terjaga dengan rombongan komunitas yang diikuti.

Saya menghela napas  kemudian menghembuskannya. Segar  terasa. Kami sudah melalui hutan pinus. Akhirnya senyum lega menghias wajah saya saat  langkah kaki berhasil mencapai  lokasi punden Pasir Manggis, situs purbakala yang menempati areal yang sempit dan diapit oleh tiga jurang.

Saya bisa melihat di depan saya, batu-batu menhir yang usianya ribuan tahun. Batu-batu pipih yang merupakan bagian dari situs megalitikum. Mencermati seraya mendengarkan penjelasan dari pembina komunitas yang berpengalaman dan menguasai sejarah.

Setelah itu, kami beranjak ke situ-situs lainnya yang ada di kompleks situs Cibalay yang tersebar di kaki Gunung Salak. Tentunya, semua harus dicapai dengan berjalan kaki. Jalan yang dilalui tentu saja  menanjak saat naik, datar, maupun menurun saat meninggalkan lokasi. Lebih banyak jalan tanah yang licin dan basah. Sehingga kadang pula terpeleset bila meleng sedikit dan kurang hati-hati.  

Mengisi hari Minggu dengan mengunjungi lokasi baru, terutama yang bersejarah, menjadi salah satu hal yang menyenangkan buat saya bila ada kesempatan bersama komunitas.Bisa lebih tahu dan bukan sekedar jalan-jalan. Selain bisa menambah teman, wawasan pengetahuan pun meningkat.

Seperti halnya saat  ke situs megalitikum ini yang ada di Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Berangkat pagi-pagi dari Jakarta. Naik Commuter Line ke Stasiun Bogor, yang kemudian dilanjutkan dengan naik angkot lebih dari sekali. Selanjutnya sampai di tempat berkumpul dan memulai perjalanan dengan kaki. Plus ditambah guyuran hujan yang turun.  

Berjalan kaki menanjak di lereng gunung sambil ikut kegiatan termasuk olahraga lho! Butuh waktu berjam-jam! (dokpri)
Berjalan kaki menanjak di lereng gunung sambil ikut kegiatan termasuk olahraga lho! Butuh waktu berjam-jam! (dokpri)

Aktivitas yang bikin bahagia. Berjalan kaki menanjak berjam-jam saya anggap sebagai olahraga. Nggak bisa dipungkiri, walaupun senang hati, tetap terasa lelah di badan. Terutama pegal pada kaki. Teman saya sambil bersender di kursi commuter line saat perjalan pulang ke Jakarta, lepas maghrib berkata,"Pegal juga, padahal besok Senin. Hari kerja."     

Saya tersenyum sambil memijit bagian betis. Meski berujung pegal, saya suka melakukan berbagai aktivitas luar ruang yang memerlukan jalan kaki ataupun bersepeda. Terutama di akhir pekan. Ya, bersepeda merupakan olahraga yang saya sukai. Biasanya saya bersepeda melalui jalan-jalan perumahan. Berkeliling beberapa kali hingga saya berkeringat selepas subuh. Saya suka sekali menikmati pemandangan yang temui selagi bersepeda. 

Olahraga bersepeda modalnya hanya sepeda dan sepatu olahraga. Dilengkapi helm bila jarak tempuhnya jauh. Soal intensitas waktu bersepeda, saya sesuaikan dengan waktu luang yang miliki dan kesanggupan. Tiga puluh menit cukup kalau hanya berputar dekat rumah saja. Sesekali saya ikut fun bike ataupun berkeliling yang cukup jauh. Memanfaatkan momentum car free day, biasanya, saya memulainya dari rumah di slipi, menyusuri pinggiran jalan tol kebun jeruk, melewati jl panjang, permata hijau, senayan, hingga mencapai Jl. Sudirman dan Thamrin. Saya melakukannya hingga mencapai Monas tanpa jeda. 

Beristirahat di Monas, sebelum kemudian mengayuh kembali menempuh rute yang sama. Nah kalau mengambil rute ini biasanya butuh berjam-jam. Tentu saja plus istirahat dan mengayuh perlahan. Setelah adanya jalan layang Permata Hijau, lebih menantang karena harus mengeluarkan tenaga lebih. Kekuatan otot kaki pun harus lebih karena biasanya saat kayuhan menanjak terasa tekanan di paha dan betis. 

Monas, destinasi olahraga sepedahan yang saya lakukan setelah melewati jalan Jendral Sudirman Thamrin (dokpri)
Monas, destinasi olahraga sepedahan yang saya lakukan setelah melewati jalan Jendral Sudirman Thamrin (dokpri)

Aktivitas Dalam Ruang

Nyeri di paha, betis, atau punggung biasanya  baru terasa saat sudah selesai kegiatan. Beberapa jam setelah ada di rumah. Kalau bersepeda, agak njarem di bagian paha atas kalau terlalu memaksakan diri berlebih mengayuh. Padahal, sampai di rumah juga bukan berarti pekerjaan rumah usai.

Pekerjaan rumah? Hehehe, maksudnya mulai dari mencuci piring, menyetrika pakaian, mencuci baju, hingga beres-beres rumah. Pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan karena memang tidak akan ada yang mengerjakan selain diri sendiri jika tidak ingin rumah berantakan.

Selain pekerjaan rumah, aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari dalam ruang pun bisa menyebabkan pegal nyeri otot. Kesannya sepele banget sih, tapi pegal itu bisa terasa nggak cuma di kaki. Biasanya, saya merasa pegal di pundak, punggung dan leher.

Saya biasa mengetik di depan komputer cukup lama. Posisi duduk yang lama membungkuk dan tidak selalu  tegak, membuat punggung nyeri. Area di seputaran pinggang pun tikut terasa pegal bila saya tidak atau luput menyempatkan diri untuk melakukan peregangan tubuh. Terkadang, saya memutar musik dan bergerak mengikuti iramanya selama beberapa waktu untuk menghilangkan pegal.

Saat di rumah sudah capek, saya pun seringkali gampang tertidur saat di depan televisi. Padahal, posisi tidur yang tidak baik bisa juga menimbulkan pegal. Posisi badan yang salah, seperti penggunaan bantal yang nggak bener seringkali membuat  leher saya pegal.   

Belum lagi, kebiasan saya yang suka kepraktisan dengan membawa semua yang diperlukan dalam satu tas yang bisa diselempangkan atau dimasukkan seluruhnya ke dalam satu ransel. Nggak jarang kalau bawaan tas berat, pundak pegal. Ditekan tidak terlalu kencangpun, nyerinya sudah terasa.  

Berolahraga dapat memanfaatkan area car free day di hari minggu untuk sepedahan atau berlari. (dokpri)
Berolahraga dapat memanfaatkan area car free day di hari minggu untuk sepedahan atau berlari. (dokpri)

Krim Otot Sebagi Solusi

Untuk mengurangi rasa pegal ataupun nyeri otot yang saya alami, selain pijat dan istirahat tidur, biasanya saya menggunakan bantuan krim otot untuk meredakannya. Kalau nggak pakai krim otot, pegal yang saya rasakan bisa lama pulihnya. Saya nggak ingin aktivitas saya terganggu bila saya memanjakan pegal. Maunya, nyeri otot cepat hilang.

Saya ingin aktivitas sehari-hari tetap berjalan seperti biasa.Tidak mengganggu teman yang kebetulan dekat saya  ataupun tidak mengganggu keluarga saya karena saya menjadi lebih lelet mengerjakan sesuatu. Saya nggak mau bikin orang lain merasa gerah karena saya nggak bisa mengerjakan sesuatu karena nyeri otot.

Namun dalam memutuskan krim otot yang cocok digunakan, ternyata dihadapkan banyak pilihan di pasaran. Tapi saya tahu, saya nggak suka kalau krim yang dioleskan atau dipakai terasa terlalu panas. Selain itu, saya nggak suka banget kalau sisa krim otot menimbulkan lengket di badan. Apalagi kalau sampai ada noda berbekas di baju yang digunakan.

Saya  juga anti sama krim otot yang berbau menyengat. Pff, nggak deh kalau orang menganggap saya berbau manula dengan obat gosok. Meskipun memang butuh menggunakan krim otot, bukan berarti saya harus tersiksa dan merelakan saya pasrah menggunakan krim otot yang bakal mengganggu mood saya.

Beberapa obat gosok pernah saya coba. Hingga suatu saat, salah seorang penjual di toko obat pasar menyarankan untuk menggunakan krim otot Geliga. Baiklah, karena saya ingin hari-hari saya tetap fit dan produktif tanpa terganggu rasa nyeri otot, akhirnya saya coba.

Saat itu, saya memang sedang pegal banget setelah bersepeda mengikuti kegiatan fun bike bersama teman-teman. Paha depan, betis, hingga pergelangan kaki luar biasa pegal bikin meringis.

Nggak pikir lama. Saya oleskan secukupnya krim putih dari tube Geliga pada bagian yang terasa nyeri sambil memijat-mijat perlahan. Nggak butuh lama, olesan krim berwana putih Geliga terserap dengan sempurna di kulit.

Pemakaiannya bisa beberapa kali di daerah yang sakit hingga tersa nyaman. Menurut petunjuk yang tertera di cara pemakaian, krim otot yang hanya untuk pemakaian di luar itu, dianjurkan untuk diulangi 3 atau 4 kali hingga nyeri otot menghilang. Yeay, saya bisa beraktivitas normal.

Kenapa  Geliga Krim ?    

Geliga Krim  yang diproduksi oleh PT Eagle Indo Pharma memang memiliki indikasi untuk membantu meredakan sakit dan nyeri punggung, pundak, nyeri pada persendian, keseleo, kram dan masalah otot lainnya.

Dalam krim otot Geliga, mengandung Metyl Salicylate, Menthol, dan Camphor. Bahan-bahan yang teramu professional inilah yang menciptakan rasa panas saat digunakan dan ketika dioleskan mampu menyerap ke dalam kulit sehingga membantu untuk mengurangi rasa sakit. Kelelahan otot pun mereda hingga akhirnya lenyap setelah digunakan beberapa kali, tergantung kondisi sakit otot yang dirasakan.  Di pasaran, tersedia dalam kemasan tube 30 dan 60 gram.

 Aktivitas Jalan Terus

Buat saya, hal yang penting adalah kemudahan mendapatkan krim otot yang dibutuhkan. Geliga gampang banget ditemukan dimanapun. Lagipula harganya pun terjangkau.

Orang tua saya kemudian juga suka menggunakannya untuk mengurangi pegal. Selalu menyimpan krim otot Geliga sebagai persediaan di rumah. Namun, bila cucunya kelelahan, Geliga  tidak digunakan karena tidak untuk anak  di bawah 2 tahun. Untuk anak di bawah usia 12 tahun, bahkan dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Saat hadir ke sebuah konser Afterhours yang menampilkan Glenn Fredly di Empirica, saya mendapati ada stand krim otot geliga di dalam gedung. Sebelum acara konser berlangsung, diadakan sejumlah permainan yang melibatkan penonton dengan produk Geliga.

Ternyata, Geliga membantu banget buat para penonton konser untuk bebas pegal menikmati pertunjukan musik. Secara saat nonton konser, saya dan para penonton yang memenuhi ruangan harus berdiri lama beberapa jam ataupun melompat karena kegirangan saat mendengarkan lagu.

Pengetahuan saya mengenai krim otot pun bertambah saat mengikuti nangkring bersama Krim Otot Geliga yang menghadirkan olahragawan pesepakbola Ryuji Utomo.   

Untuk menunjang aktivitasnya sebagai pesepakbola  yang harus selalu prima dan segala kondisi, Ryuji pun menggunakan krim otot baik sebelum maupun sesudah berlatih ataupun bertanding.

Ya, penggunaan krim otot memang salah satu solusi yang mudah untuk siapa pun mengalami kelelahan. Saat nyeri otot terasa. Nggak perlu waktu lama untuk kembali aktif dan bisa produktif dalam menjalankan hari-hari.

Pegal yang datang dirasakan dan dialami, bukan berarti harus berhenti tidak melakukan apapun. Pegal atau nyeri otot yang dirasakan harus dibebaskan sehingga tubuh selalu fit. Bebas dari pegal itu berarti bebas melakukan aktivitas apapun tanpa ada yang menghambat langkah! Mau olahraga, aktivitas luar ruang, atau aktivitas dalam rumah, semuanya oke saja!