Riap Windhu
Riap Windhu Sales

senang membaca dan menulis, cinta bersepeda, suka pada tema lingkungan. Menggemari dunia pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di sebuah perusahaan asuransi jiwa. Dapat dihubungi di 081287749530. Email: rwindhu@gmail.com. Instagram : riapwindhu dan twitter @riapwindhu. Bisa juga di www.rindhuhati.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Fintech, Kolaborasi Bank, dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

19 September 2017   18:10 Diperbarui: 19 September 2017   18:14 5679 2 1
Fintech, Kolaborasi Bank, dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Teknologi digital telah memunculkan banyak start up,salah satunya fintech. Perkembangan ekonomi digital menjadi bahasan dalam forum Kafe BCA VII. (sumber:BCA

Kehadiran teknologi digital  telah mendisrupsi  perusahaan dan industri  konvensional yang telah lama eksis. Di sisi lain, hal ini telah memunculkan banyak start up (perusahaan rintisan) digital yang bergerak di berbagai bidang layanan.

Salah satunya layanan teknologi finansial atau financial technology (fintech). Dengan mayoritas penggeraknya yang merupakan generasi muda milenial, start up digital berpotensi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam buku Digital Vortexyang ditulis oleh pakar IMD, salah satu sekolah bisnis terbaik dunia, disrupsi digital digambarkan mengancam  perusahaan yang tidak siap. Vortex yang diartikan sebagai pusaran bertenaga hebat, akan menyedot perusahaan tak siap dan melumatnya hancur, sehingga terbentuklah suatu model bisnis baru yang berbeda dengan yang awal.

Disrupsi digital menyentuh berbagai industri, termasuk perbankan (sumber:IMD-Cisco)
Disrupsi digital menyentuh berbagai industri, termasuk perbankan (sumber:IMD-Cisco)
Industri yang harus bersiap dari disrupsi digital itu salah satunya adalah layanan keuangan (financial services).  Perbankan sebagai industri yang menyediakan jasa keuangan tentu saja harus bersiap-siap, agar tetap eksis dalam menghadapi semakin bertumbuhannya jasa layanan teknologi keuangan (fintech).

Menyentuh Langsung Konsumen

Disrupsi digital, menjadi pembuka forum Kafe BCA VII, yang disampaikan moderator  Yuswohadi. Talkshow  dengan suasana ala kafe itu, diadakan di Breakout Area, Menara BCA Lantai 22, Jl. MH Thamrin no.1 Jakarta, Rabu 13 September  2017.

Selain menghadirkan  Direktur BCA Henry Koenaifi, Pengamat Ekonomi Faisal Basri, Senior Executive Vice President of Strategic Information Technology BCA Hermawan Thendean, juga menghadirkan pelaku Start Up Indra Wiralaksmana (Country Head & Director Ninja Xpress), dan Rama Mamuaya (Founder & CEO DailySocial.id).

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, fintech akan membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sedang melambat (dokpri)
Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, fintech akan membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sedang melambat (dokpri)
Perkembangan start-up di Indonesia memang sangat tinggi. Center for Human Genetic Research (CHGR) menyebutkan, Indonesia pada tahun 2016 tercatat sebagai negara yang memiliki jumlah start-up tertinggi di Asia Tenggara, yakni 2.000-an. Pada 2020, diperkirakan start up bertumbuh mencapai 13.000.

Dari jumlah itu, Bank Indonesia menegaskan,  para pengguna jasa perdagangan daring atau e-commerce telah membelanjakan 5,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp75 triliun selama tahun 2016. Jika dibagi per individu,  pengguna e-commerce  di Indonesia rata-rata membelanjakan uang Rp3 juta per tahun.

Rama Mamuaya (Founder & CEO DailySocial.id) mengatakan, potensi start up memang luar biasa besarnya meski juga luar biasa mematikan di sisi yang sama. Walaupun dalam 3 tahun pertama sebanyak 95 % start up dinyatakan gagal, sektor ini tetap kencang.

Penggeraknya,  kata Rama, bahkan lebih apresiatif untuk membuat yang baru. Revolusi smartphone terkoneksi internet yang saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup keseharian.

Rama Mamuaya (Founder & CEO DailySocial.id) mengatakan, potensi start up sangat luar biasa dan pertumbuhannya pun tinggi (dokpri)
Rama Mamuaya (Founder & CEO DailySocial.id) mengatakan, potensi start up sangat luar biasa dan pertumbuhannya pun tinggi (dokpri)
Ya, saat ini banyak masyarakat Indonesia sudah pernah merasakan dan merasa dipermudah kiprah para start up digital, yang kehadirannya dapat  langsung bersentuhan dengan para konsumen.

Minimal, masyarakat memanfaatkan start up transportasi online dengan pembayaran online. Menggunakan e-commerce untuk melakukan transaksi penjualan atau pembelian.

Pelaku Start Up Indra Wiralaksmana (Country Head & Director Ninja Xpress) mengatakan, start up memang memiliki keuntungan dibandingkan dengan  perusahaan besar. Lebih tahu yang diinginkan oleh pelanggan  karena bertemu langsung. 

Sebagai start up yang bergerak di jasa kurir, Ninja Xpress melihat peluang digital yang belum diambil oleh jasa kurir konvensional. Bisnisnya mempermudah orang yang memerlukan jasa pengiriman barang. Bila semula orang harus mendatangi tempat untuk mengirim sesuatu, saat ini justru dilakukan penjemputan barang yang akan dikirim.

Dalam menjalankan usaha, start up bidang logistik ini bekerja sama dengan start up layanan teknologi keuangan T-Cash Telkomsel. Satu hal yang masih dihadapi start-upnya  saat ini menurut Indra, terkait dengan metode pembayaran COD (cash on delivery) yang masih mencapai 30-40 %.

Indra Wiralaksmana (Country Head & Director Ninja Xpress) mengatakan, start up memang memiliki keuntungan bertemu langsung pada konsumen (dokpri)
Indra Wiralaksmana (Country Head & Director Ninja Xpress) mengatakan, start up memang memiliki keuntungan bertemu langsung pada konsumen (dokpri)
Fintech dan Perbankan

Senior Executive Vice President of Strategic Information Technology BCA Hermawan Thendean menyatakan saat ini masyarakat indonesia sedang menikmati online experience. Mulai dari makanan, tiket pada kelompok usia 15-50 tahun. Digital dan smartphone sudah menjadi lifestyle.

Hermawan mengakui, financial technology (fintech) atau layanan keuangan berbasis teknologi mengisi celah yang tidak bisa diisi oleh perbankan. Layanan perbankan saat ini masih dianggap kurang kendati sudah ada internet banking dan mobile banking.

Fasilitas yang disediakan bank ini, dianggap menurut persepsinya orang bank. Jadi, belum tentu itu yang diharapkan yang sesuai dengan anak-anak muda sekarang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3