Mohon tunggu...
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)
Indrian Safka Fauzi (Aa Rian) Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat kelahiran 1 Mei 1994 yang dikelilingi Orang-Orang Hebat dan Luar Biasa. Sang pemerhati abadi. Penuh perjuangan dan kebahagiaan tiada batas. Sang Pemimpin di Masa Mendatang.

🌏 Akun Kedua yang Concern Humaniora (Sembari Menggali Hikmah dalam Al-Qur'an/Ajaran Islam) juga Sesekali Fiksiana, Lyfe, OIahraga dan Vox Pop 🌏 Berbagi Tulisan sarat Manfaat 🌏 Senang disapa Aa Rian oleh Keluarga Besar, Para Guru, Sahabat dan Kerabat 🌏 Visioner 🌏 Kritikus juga Solutif 🌏 Gamers 🌏 Sedang dalam kondisi Uzlah dan Tirakat 🌏 Pengetahuanku untuk Dirimu 🌏 Kekuatan Kata Dapat Merubah Dunia, Namun Kekuatan Terbesarmu adalah Merubah Karaktermu menjadi Luar Biasa 🌏 Seorang pemuda single belum pernah berpacaran yang mendambakan kehadiran Gadis Muslimah Salihah berhijab cantik dan mulia luar dalam 🌏 Bertekad Penuh dalam Menulis Sepenuh Hati Jiwa Raga untuk Kemajuan Peradaban 🌏 Link Akun Pertama: https://www.kompasiana.com/integrityrian 🌏 Surel: indsafka@gmail.com 🌏

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Jangan Biarkan Kata-kata yang Kau Tulis, Menghakimi Dirimu Sendiri!

21 November 2022   08:40 Diperbarui: 21 November 2022   08:43 73
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hai sahabat Pembaca!

Terima kasih sudah setia menemaniku menjadi pembaca setia bagiku heheheh~

Kali ini saya membahas tema tulisan tentang Kata-kata Penghakiman.

Orang bijak selalu dapat mengendalikan lisan dan jari-jemarinya ketika berhubungan sosial secara langsung maupun daring.

Akan tetapi kata-kata yang tertulis di media daring itu lebih tajam, dan membekasnya bisa sampai tahunan di hati seorang lho!

Kita sudah melihat sendiri fenomena orang-orang kurang bijak menggunakan medsos, dengan gegabahnya menghakimi saudaranya sendiri dengan umpatan, cacian dan hinaan.

Karena mengundang reaksi negatif, dihapuslah postingan tersebut, namun terlanjur basah, orang-orang sudah men-screenshotnya. Alhasil jadi bulan-bulanan netizen dan media.

Menghakimi seseorang jika tidak relevan dengan realitas, maka kata-kata penghakiman itu akan berbalik kepada kita dan bahkan kata-kata tersebut "memakan" diri kita.

Hingga akhirnya penyesalan di akhir, keputusasaan menanti.

Jika hendak menghakimi seorang baik buruknya, alangkah baiknya kita telaah dan kaji secara kritis dan jangan kedepankan emosi sesaat.

Karena saat emosi sesaat lalu kita melakukan penghakiman kepada diluar diri kita, itu hanya akan menyebabkan permasalahan baru. Disebabkan tidak akuratnya penghakiman yang dilontarkan oleh kita karena terdistorsi oleh emosi yang meledak-ledak.

Alangkah lebih baiknya mengkritisi apa-apa yang kelak kita tulis di sosial media, sebelum itu berbalik menerkam diri kita, apalagi jika postingan kita berupa kata-kata penghakiman.

Kata-kata penghakiman yang benar adalah yang relevan dengan realitas dan mampu memberikan kesadaran bagi seorang yang dihakimi.

Bijaklah bermedsos!

Salam Mantap!



Tertanda.
Rian.
Cimahi, 21 November 2022.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun