Politik

Sulitnya Mendefinisikan Terorisme

15 November 2017   04:16 Diperbarui: 15 November 2017   04:34 206 0 0

Terorisme atau bukan, ternyata bukan hal yang mudah untuk didefinisikan. Institusi besar sekelas Polri yang sudah banyak pengalaman dalam menangani tindakan pelanggaran hukum sepanjang sejarah negeri ini juga ternyata kadang tidak cukup memiliki dasar yang kuat. Apalagi kita warga negara awam yang tidak tahu menahu masalah pelik dan detil tentang hukum, keamanan, apalagi dunia intelijen.

Sebuah wawancara dilakukan oleh tvOne kepada Kapolres Dharmasraya berkaitan dengan insiden pembakaran Mapolres Dharmasraya pada dini hari tanggal 12 November 2017. Kapolres Dharmasraya menyatakan bahwa pelaku pembakaran adalah para teroris. Ia berkesimpulan demikian setelah mendapati beberapa temuan yang identik dengan terorisme. Menurutnya, temuan yang sudah terungkap adalah para pelaku meneriakkan takbir, menyatakan bahwa 'saya yang membakar', menyatakan bertanggung jawab terhadap pembakaran, mengatakan 'thoghut', serta ditemukan selembar surat yang didapat dari kantong pakaian pelaku berisikan tulisan kalimat-kalimat jihad.

Dari beberapa temuan tersebut, di sini hanya akan dibahas temuan tentang takbir. Akan dicari makna takbir dan makna tindakan terorisme. Bagaimana hubungan di antara keduanya?

Hubungan Takbir dan Terorisme

Sebagai institusi yang mengemban tugas menjamin keamanan masyarakat, polisi dituntut untuk bekerja dengan profesional. Profesionalisme kepolisian harus diwujudkan di dalam setiap prosedur operasi yang dilakukannya. Dalam menangani segala macam kasus, kepolisian pasti memiliki aturan main yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada para korban tetapi juga kepada masyarakat pada umumnya.

Mengenai terorisme, kepolisian juga telah memiliki persepsi yang jelas. Terorisme dikategorikan gangguan keamanan yang lain daripada yang lain. Terorisme adalah tindakan kriminal luar biasa dengan menggunakan kekerasan yang tidak hanya ditujukan untuk merusak situasi keamanan di masyarakat, namun lebih dari itu, tindakan ini juga ditujukan untuk menimbulkan suasana ketakutan yang meluas di masyarakat dalam usaha mencapai tujuan tertentu. Untuk itu, kepolisian merasa perlu membentuk sebuah satuan khusus yang dikenal dengan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) untuk menanggulangi ancaman keamanan yang berkaitan dengan terorisme.

Sebagai ancaman keamanan yang khusus dan serius, tentu saja penanganan terorisme agak berbeda dibandingkan dengan penanganan kasus keamanan yang lain. Penyelidikan harus lebih ketat, sebisa mungkin melibatkan intelijen yang mumpuni. Bukti-bukti yang diungkap harus benar-benar menuju kepada pengungkapan fakta yang meyakinkan serta masuk akal. Yang paling penting, pengambilan kesimpulan juga harus bisa dipertanggungjawabkan secara moral, memberi kepuasan kepada masyarakat dan tidak justru menggiring kepada keresahan baru yang tidak perlu di masyarakat.

Lalu bagaimana dengan takbir? Adapun takbir, adalah bagian penting dalam ibadah, terutama ibadah sholat, bagi umat Islam. Adzan pun yang dikumandangkan lima kali sehari juga mengandung kalimat takbir di dalamnya. Belum lagi ketika umat Islam merayakan dua hariraya mereka: sepanjang malam takbir berkumandang tidak henti-hentinya dari masjid-masjid dan mushola-mushola hingga pagi hari saat ditunaikan sholat Idul Fitri atau Idul Adha.

Takbir yang berbunyi "Allahu akbar" merupakan ungkapan pujian dan pengagungan nama Tuhan. Pengucapan takbir dilakukan sebagai pengakuan diri sebagai hamba yang kecil dan lemah bila dibandingkan dengan Sang Pencipta. Sebagai bagian dari ibadah, mengucapkan takbir dimaksudkan sebagai cara seorang hamba membersihkan diri, melakukan perbaikan diri, dan pada akhirnya memberikan kebaikan untuk manusia yang lain beserta lingkungannya.

Kesimpulan Instan dan Menyesatkan

Polisi sudah sejak awal melakukan simplifikasi dan menggampangkan dengan menarik kesimpulan instan bahwa ucapan takbir adalah indikasi atau paling tidak ucapan takbir adalah identik dengan terorisme. Kalau hanya seperti itu dasar yang dipergunakan, sebenarnya tidak diperlukan peran sebuah institusi kepolisian. Wajar apabila kesimpulan "hanya" seperti itu dinyatakan oleh orang awam saat mendapati temuan seperti yang diceritakan oleh Kapolres. Tidak selayaknya sekelas institusi kepolisian yang memiliki kapasitas luar biasa untuk melakukan penyelidikan mengambil kesimpulan seperti itu. Bagaimana logikanya kalimat takbir yang mulia disejajarkan dengan tindakan terorisme yang berorientasi pada kerusakan?

Untuk menjadi perwira menengah yang dipercaya menjadi Kapolres tentunya tidak sembarang polisi bisa meraihnya. Selain telah melalui tempaan pendidikan yang cukup memadai, ia juga harus benar-benar memiliki rekam jejak yang baik serta menunjukkan dedikasi dalam bentuk kepantasan dan kepatutan sebagai seorang polisi. Adapun spontanitas' apabila dijadikan alasan, maka ia tidak bisa mengklaim dirinya sebagai polisi profesional yang senantiasa menjaga kehati-hatian bersikap, mencerna dengan baik setiap input yang diterima,  dan mengambil kesimpulan tanpa menimbulkan kegaduhan lebih luas.

Terlepas pada akhirnya nanti kesimpulan yang dikeluarkan oleh Kapolres Dharmasraya ternyata benar, tetap saja mengaitkan takbir dengan terorisme adalah tindakan tidak masuk akal dan tidak nyambung. Bagaimana bila hal yang sebaliknya terjadi, misalnya si pelaku tidak meneriakkan takbir, maka ketika tindakan yang dilakukannya berupa tindakan teror, apakah para pelakunya batal ditetapkan sebagai teroris?