Mohon tunggu...
M.Elba Reza Koclak
M.Elba Reza Koclak Mohon Tunggu...

Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM)Univ.Azzahra Jak-Tim . dari kampus kumuh penghasil para pembesar,kelak..!!!\r\n\r\nklinik menulis Univ.Azzahra

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Pengemis Jadi "Milliyarder" Saat Imlek (Cerita dari Kaum Marginal)

22 Januari 2012   07:02 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:35 332 0 0 Mohon Tunggu...

Imlek (lafal Hokkian dari pinyin: yin li, yang artinya kalender bulan) atau Kalender Tionghoa, adalah kalender lunisolar yang disusun dengan menggabungkan kalender bulan kalender matahari. Kalender ini oleh masyarakat Tionghoa digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau membuka usaha.


Di tahun baru yang di peringati setiap tahun oleh seluruh masyarakat Tionghoa ini, ternyata ada sisi lain yang positif dapat kita pelajari makna dan tujuan dari setiap tradisi yang dilakukan ketika perayaan imlek berlangsung. Tradisi ini di kalangan masyarakat Tionghoa khususnya di Indonesia dikenal dengan istilah "membagikan angpao".

Tradisi imlek memang  erat kaitannya dengan budaya memberikan Angpao, dengan memberikan angpao masyarakat Tionghoa percaya bahwa akan menambah rezeki yang lebih banyak lagi. Pemberian angpao biasanya diberikan pada orang dewasa kepada anak kecil. Yang perlu diperhatikan dalam pemberian angpao ini biasanya berisi uang kertas bukan uang logam.

“Angpao bukan duit hari raya, apa lagi duit lebaran. Kata  angpao berasal dari lafal Hokian, kata ang=merah dan pao=amplop. Jadi angpao adalah amplop merah, (salah satu nama amplop), dalam bahasa Tionghoa masing-masing  amplop disebut sesuai dengan warnanya, misalnya amplop putih disebut phakpao (phak=putih pao=amplop),  amplop kuning = bongpao dll. Pada momen bahagia (Imlek,ultah,nikahan dll) amplop yang dipakai adalah warna merah/angpao dan untuk momen duka-cita amplop yang dipakai adalah amplop putih/phakpao.

Tradisi angpao juga bukan hanya di rasakan oleh anak-anak kecil di dalam keluarga masyarakat Tionghoa, tetapi lebih luas lagi "pembagian angpao" di rasakan oleh para pengemis yang dari pagi hari menunggu di kawasan sekitar klenteng (tempat peribadatan orang-orang Tionghoa) saat perayaan imlek atau tahun baru cina di peringati setiap tahunnya.

Para pengemis ini biasanya sudah mengetahui atau sengaja di undang oleh para pengurus klenteng untuk diberikan angpao secara gratis dari para pengunjung klenteng tersebut. Bagi masyarakat Tionghoa, mereka percaya dengan membagi-bagikan angpao kepada orang-orang yang membutuhkan akan lebih membuka pintu rezeki mereka dikemudian hari.

Ini lah momen dimana para pengemis menjadi seorang "Milliyarder" dari hari-hari biasanya. Biasanya ketika mereka mengemis setiap hari dipinggiran kota,hanya mendapat Rp. 20-30 ribu rupiah dalam satu hari (itu pun jika mereka beruntung). Namun saat perayaan imlek atau tahun baru cina datang,biasanya pendapatan mereka saat perayaan tersebut bisa mencapai 3x lipat dari hari biasanya.

Mungkin di mata orang-orang yang berpenghasilan tetap dan mapan, kata "Milliyarder" tidak pantas diberikan kepada para pengemis tersebut karena pendapatan mereka tidak lebih dari Rp. 100-200 ribu dalam sehari bukan Rp. 1 milyar. Jika kita perhatikan yang mereka dapatkan dengan seorang "Milliyarder" sebenarnya sama, kesamaannya adalah sama-sama mendapatkan keuntungan berlipat ganda dan memdapat rezeki yang tak terduga dan lebih banyak dari hari biasanya. sedangkan perbedaannya hanya di status sosial saja.

Untuk para pengemis penghasilan Rp. 100-200 ribu merupakan rezeki berlimpah, sebab dengan mendapatkan rezeki itu mereka bisa menyambung hidup selama satu bulan ke depan. Dari perayaan imlek lah ternyata hidup mereka "setidaknya" mendapat angin segar dengan mendapat rezeki yang cukup untuk digunakan dalam mempertahankan hidupnya.

Dari sinilah kita mendapatkan kembaki pelajaran yang berharga, dari masyarakat Tionghoa yang membagi0bagikan angpao dengan ikhlas tanpa mengaharapkan rasa "ria" (ingin di puji) dan dari para pengemis (kaum marginal) yang mampu bersyukur apa pun yang mereka dapatkan meskipun harus menadahkan tangannya serta menjatuhkan harga dirinya demi mempertahankan hidup di negeri ini.

Semoga kita semua lebih belajar bersyukur dari setiap hal yang kita jalani dan dapatkan, sehingga kita sadar bahwa setiap hal yang kita temui dimana pun, kapan pun dan dari siapa pun kita bisa mengambil hikmah dari pelajaran yang kita dapatkan itu.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x