Mohon tunggu...
Reza Ahmad Wildan
Reza Ahmad Wildan Mohon Tunggu... Pembelajar

Pembelajar || 081211011411 || ahmad.rezawildan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Eksistensi Bahasa Indonesia di Tengah Ancaman Arabisasi

21 September 2020   02:38 Diperbarui: 21 September 2020   10:42 743 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Eksistensi Bahasa Indonesia di Tengah Ancaman Arabisasi
dok. pribadi

Sejak lama, bangsa Indonesia telah menempuh politik kebahasaan, dengan menetapkan bulan Mei sebagai kelahiran bahasa Indonesia dan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa. Namun, jika kita melihat kenyataan di lapangan dewasa ini, secara jujur harus diakui, bahasa Indonesia belum difungsikan secara baik dan benar. Banyak para penuturnya masih dihinggapi sikap rendah diri, sehingga merasa lebih bangga, modern, terhormat, dan terpelajar jika dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulis, menyelipkan setumpuk istilah asing, walaupun sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak, pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah, kalimatnya rancu dan kacau, kosa-katanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakan nyata dari penuturnya.      

Sebelum kita masuk ke dalam eksistensi bahasa Indonesia, ada baiknya kita mengenal apa itu Arabisasi. Pada dasarnya kata ‘Arabisasi’ memiliki padanan kata searti yang lebih tepat, yaitu kata ‘peng-araban’. Kata ‘Arabisasi’ merupakan penggabungan antara kata ‘Arab’ dan akhiran isasi. Akhiran –isasi  bisa kita jumpai pada kata-kata bentukan seperti modernisasi, liberalisasi, spesialisasi, dan sebagainya. Lebih jelasnya, akhiran –isasi bersangkutan dengan (proses peng-an), yaitu Peng-arab-an, sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia justru tertulis ‘kearab-araban’, yaitu berarti bersikap dan bertingkah laku (berbahasa) seperti orang arab. Jadi, secara terminologi, definisi ‘Arabisasi’ adalah masuknya bahasa asing ke dalam bahasa Arab  setelah mengalami perubahan pada lafalnya, dan mengikuti pola atau kaidah dalam bahasa Arab.

Sejarah mencatat, bahwa bahasa Cina dan bahasa Arab masih ada dan digunakan oleh warga oleh warga negara Indonesia berasal dari etnis Cina dan Arab. Hal ini memang bisa dipahami, mengingat bahasa Cina dan bahasa Arab telah mempunyai sejarah yang cukup panjang dalam berkontak dengan bahasa Indonesia. Bahasa Arab sebagai bahasa percakapan sehari-hari masih digunakan secara terbatas oleh orang-orang tua etnis Arab, dan anehnya lagi, golongan muda malah jarang menggunakannya lagi.  Bahasa-bahasa lain yang bukan milik penduduk asli seperti salah satu di antaranya bahasa Arab memiliki kedudukan sebagai bahasa asing, yaitu berfungsi sebagai alat komunikasi agama (bahasa agama) dan bahasa budaya (Islam).

Sebagai bahasa asing, kedudukan bahasa Arab justru bertugas sebagai (1) sarana perhubungan antarbangsa, (2) sarana pembantu pengembangan bahasa Indonesia, (3) alat untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern bagi kepentingan pembangunan nasional. Bahasa Arab merupakan bahasa ketiga di dalam wilayah Negara Republik Indonesia, bukan sebaliknya, bahasa Arab dijadikan bahasa kedua atau bahasa pertama (bahasa Ibu/daerah).

Dalam Sosiolinguistik, bahasa berkaitan erat dengan masalah sosial budaya, menarik kiranya untuk dikemukakan sebuah kritik terhadap gejala ‘Arabisasi’ atau ‘Pengaraban’ atau ‘kearab-araban’. Kecenderungan semacam itu tampak, misalnya, dengan keracunan bahasa asing seperti penggunaan istilah-istilah bahasa Arab dan kebanggaan orang untuk menggunakan kata-kata atau kalimat bahasa Arab untuk sesuatu yang sebenarnya sudah lazim dikenal. Begitu pula ketidakpuasan orang awam jika tidak menggunakan kata ‘ahad’ untuk menggantikan kata ‘minggu’, dan sebaginya. Seolah-olah kalau tidak menggunakan kata-kata berbahasa Arab tersebut akan menjadi “tidak Islami” atau ke-Islaman seseorang akan berkurang karenanya.

Di samping itu, formalisasi dari fenomena ‘Arabisasi’ atau ‘Pengaraban’, menurut Gus Dur, merupakan akibat dari rasa kurang percaya diri ketika menghadapi ‘kemajuan barat’ yang sekuler, maka jalan satu-satunya adalah dengan mensubordinasikan diri ke dalam konstruk Arabisasi, bukanlah Islamisasi. Bukan hanya itu, Gus Dur pun mengatakan bahwa “proses penggunaan bahasa Arab dalam segala bidang secara vulgar, juga menjadi ciri Islam yang galak. Penguasaan bahasa itu tidak apa, asal jangan sampai membunuh kemampuan kita dalam beradaptasi dengan perkembangan yang ada”.

Mengapa harus menggunakan kata ‘usholi’, kalau dalam pembendaharaan kata bahasa Indonesia masih ada kata ‘sembahyang’ dan ‘salat’. Mengapa harus ‘di-musholahkan’, padahal  masih ada kata ‘langgar’ dan ‘surau’. Belum lagi kata ‘ulang tahun’ akan terasa salah dan tidak Islami jika dibandingkan dengan kata ‘milad’. Kenapa mesti panggilan kata ‘ustadz’ dan ‘syaikh’ baru terasa wibawa, jika kata ‘kiai’, ‘tuan guru’, atau ‘buya’ masih ada. Kenapa mesti mengharamkan kata ‘insya Allah’ dan mewajibkan menggunakan kata ‘in sha Allah’. Mengapa mesti menggunakan kata ‘silaturohim’ jika kata baku bahasa Indonesia sudah menetapkan kata ‘silaturahmi’. Dan bagaimana mungkin kita mengganti kata ‘saya’, ‘aku’, ‘kamu’, ‘anda’ dan 'saudara' dengan kata ‘ana’, ‘antum’, dan ‘akhi’ dalam kontak berbahasa di sosial masyarakat. Jadi pantas saja, jika dilihat dari ilmu Sosiolingistik, justru fenomena semacam itu akan menimbulkan interferensi berbahasa, kerancuan, ketidakjelasan kosakata, dan ketidaktepatan makna sebuah kata.

Perlu diketahui bahwa fenomena ‘Arabisasi’ atau ‘Pengaraban’ merupakan masalah Sosiolinguistik. Sebagai alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki manusia, bahasa dapat dikaji secara internal maupun secara eksternal. Kajian secara internal, artinya pengkajian itu hanya dilakukan terhadap struktur intern bahasa itu saja, seperti struktur fonologis, morfologis, semantis, dan struktur sintaksis. Sebaliknya, kajian eksternal berarti, kajian yang dilakukan terhadap hal-hal atau faktor yang berada di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh para penuturnya di dalam kelompok-kelompok sosial kemasyarakatan. Pengkajian secara eksternal inilah yang nanti akan menghasilkan rumusan-rumusan atau kaidah-kaidah  yang berkenaan dengan kegunaan dan penggunaan bahasa tersebut dalam segala kegiatan manusia di dalam masyarakat. Jadi, sebagai objek dalam Sosiolingustik, bahasa tidak saja dilihat atau didekati sebagai bahasa, tetapi juga dilihat atau didekati secara interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat.

 Menyikapi kenyataan-kenyataan dari fenomena tersebut, bahasa Indonesia jelas mengalami ancaman, terutama akibat semakin tidak terkendalinya pemakai bahasa dan pemakaian bahasa yang seakan menjadi mengasing ‘kearab-araban’ atau ‘Arabisasi’. Pemakai bahasa berkaitan dengan mutu dan keterampilan berbahasa seseorang. Dalam perilaku berbahasa tidak saja terlihat mutu dan keterampilan berbahasa, tetapi juga sikap pemakai bahasa terhadap bahasa yang digunakannya. Sedangkan pemakaian bahasa mengacu pada bidang-bidang kehidupan yang merupakan ranah pemakaian bahasa.

Dengan demikian, peningkatan pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi-perguruan tinggi, atau lembaga pendidikan baik formal ataupun nonformal perlu dilakukan melalui peningkatan kemampuan akademik, karena di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 33 ayat 1, tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa bahasa pengantar dalam pendidikan nasional adalah Bahasa Indonesia, bukan bahasa Arab.

Berpijak pada kanyataan tersebut, bahasa Indonesia perlu dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia, sehingga jati diri dan identitas bangsa tetap terjaga, dan eksistensi bahasa Indonesia akan terus hidup baik di dalam negeri ataupun di luar negeri. Sudah menjadi suatu keharusan, bahwa setiap warga negara Indonesia, sebagai warga masyarakat, pada dasarnya adalah pembina bahasa Indonesia. Hal ini tidak berlebihan karena tujuan utama pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia ialah menumbuhkembangkan dan membinaa sikap positif terhadap bahasa Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x