Mohon tunggu...
Hendro Adrian
Hendro Adrian Mohon Tunggu...

Penggemar Dream Theater

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Rinjani, Surga Yang Tersembunyi (12)

16 Januari 2015   07:34 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:02 38 1 0 Mohon Tunggu...

Kami kembali berjalan di jalur yang berdebu. Selain tidak ada angin lagi, sekarang jalurnya juga menurun sehingga kami bisa berjalan dengan relatif cepat. Setiap kali melewati jalur terbuka saya selalu melirik ke kiri, ke arah tebing yang sangat curam. Di bawah, selain Segara Anak juga tampak Gunung Barujari yang dari sini hanya kelihatan seperti gundukan pasir. Pohon-pohon cemara di bawah juga hanya terlihat setinggi rumput liar.

Dari arah cekungan tempayan Segara Anak, tampak awan putih seperti gumpalan kapas mulai bergerak naik. Saya tahu di belakang kami sudah tidak ada pendaki lain. Saya dan Cemplung adalah rombongan pendaki yang pagi ini paling akhir turun dari gunung. Sepanjang jalur kami tidak beriringan ataupun menyusul pendaki lain, sangat sepi. Pelan-pelan jalur juga mulai tertutup kabut, kami makin mempercepat langkah.

Di keremangan jalur yang mulai tertutup kabut gunung, sekitar jam 10:30, saya dan Cemplung sudah menyeberangi igir berpagar yang menghubungkan pematang gunung dengan Plawangan Sembalun. Saya harus berhati-hati, sebab turunan di igir ini meski pendek tetapi sangat curam dan licin. Selepas igir berpagar, jalanan menuju lokasi perkemahan masih terus menurun dan sangat berdebu.

Perjalanan turun setelah melewati The Sickle. Awan putih tebal mulai menutupi pandangan ke arah puncak.

Beberapa belas menit kemudian kami sampai di lokasi perkemahan. Di depan tenda pertama yang kami lewati, saya lihat ada lima anak muda Indonesia yang sedang duduk sambil ngobrol. Begitu melihat kami, spontan mereka semua berdiri dan menyambut dengan senyum dan tawa sangat ramah, seolah-olah Cemplung dan saya baru saja turun dari Everest. Saya langsung tahu bahwa tiga diantara mereka pasti yang tadi ketemu di puncak.

Kami bersalam-salaman dan berbasa-basi dengan sangat meriah. Rupanya mereka berlima adalah dua rombongan yang berbeda, dua-duanya dari Jakarta. Yang dua orang lulusan Universitas Pancasila, sedang yang tiga lainnya lulusan UI. Mereka secara kebetulan bertemu di Sembalun lalu merencanakan untuk naik bersama-sama. Mereka naik ke Plawangan Sembalun hari Senin. Rencananya akan ke puncak Selasa pagi tapi cuaca tidak memungkinkan. Berkemah semalam lagi dan baru tadi pagi kembali naik, meski akhirnya hanya tiga orang yang sampai puncak.

Saya kemudian bertanya keputusan apa yang membuat mereka nekat tetap terus mendaki di tengah hempasan angin yang sedemikian kencang. Katanya selain karena sehari sebelumnya mereka gagal naik, juga karena melihat masih ada empat orang lain yang berani terus mendaki.Di depan mereka melihat ada dua orang expat yang terus naik, di belakang mereka juga melihat masih ada dua orang lain yang terus mengikuti.

“Saya mengira yang dibelakang saya tadi suami-istri bule. Saya menduga yang selalu duduk saat berhenti itu pasti istrinya. Rupanya Bapak berdua...” kata teman ini dengan tertawa.

Sebenarnya saya ingin menanyakan yang mana diantara mereka yang tadi pagi menunggu sambil tiduran di balik batu, tapi saya urungkan. Saya tidak ingin membuat yang bersangkutan malu di depan teman-temannya. Saya kemudian juga menceritakan bahwa keputusan yang kami ambil untuk terus naik, adalah karena melihat mereka bertiga yang terus mendaki di tengah hempasan angin.

Setelah cukup berbasa-basi, saya dan Cemplung melanjutkan berjalan pulang ke tenda kami. Nanti malam di Segara Anak saya akan punya banyak waktu untuk ngobrol lagi dengan mereka. Rencana perjalanan mereka sama dengan kami, turun ke desa Senaru melalui Segara Anak dan Plawangan Senaru.

Sepanjang jalan ke arah tenda, suasana sudah sangat sepi. Selain tenda ke-lima teman tadi, saya hanya melihat dua tenda lain yang dihuni oleh sepasang pendaki expat bersama dengan guide dan porter-nya. Dari kejauhan, saya lihat di lokasi perkemahan tinggal dua tenda kami yang terisa.

“Sudah sepi sekali, orang-orang sudah turun semua” saya bergumam ke Cemplung.

“Nanti sebentar lagi juga mulai ramai lagi Mas. Biasanya orang-orang dari bawah sampai sini sekitar jam empat-an sore, seperti kita kemarin” jawab Cemplung.

Begitu melihat kami,Subur, Sar dan Rean langsung sibuk membuat api untuk memasak. Mereka tidak menanyakan kenapa kami sedemikian lambat tiba kembali di perkemahan, atau tadi sampai ke puncak atau tidak, atau hal-hal semacam itu. Sambil mereka memasak teh dan mie-instant, saya menceritakan secara singkat bahwa Cemplung dan saya berhasil mencapai puncak dengan susah-payah di tengah tiupan angin kencang. Tapi tampaknya mereka tidak tertarik untuk mendengarkan cerita saya. Bagi mereka, naik ke puncak mungkin hanya seperti kita yang biasa hidup di kota pergi ke kantor, se-sederhana itu.

Selesai makan, kami segera berkemas. Jam 12:20 siang Cemplung dan saya berjalan mendahului ke Segara Anak. Ketiga porter kami masih membereskan dan membersihkan semua bekas tenda supaya tidak meninggalkan sampah di lokasi perkemahan. Seperti sebelumnya, mereka nanti pasti akan dapat menyusul dan tiba di Segara Anak lebih dahulu untuk mempersiapkan ‘hotel’ dan teh hangat sebagai welcome-drink kami.

Kami berjalan di jalur yang relatif datar ke arah Sembalun Lawang. Sekitar dua-ratus meter kemudian, berbelok ke kiri dan langsung dihadang oleh turunan curam yang berkelok-kelok dan sangat berdebu. Saya menuruni tebing sangat curam yang kalau kita lihat di Google Earth seperti mustahil untuk dilakukan.

Kami berjalan di keremangan siang yang tertutup kabut. Di beberapa tempat jalur jalan setapak hilang karena longsor, kami harus mencari-cari sendiri jalur yang relatif aman untuk dilalui. Untuk urusan ini, sepenuhnya saya serahkan pada Cemplung. Saya tinggal berjalan di belakang dan mengikuti bekas tapak sepatunya.

Sekitar setengah jam kemudian, kami mulai berpapasan dengan rombongan expat beserta guide dan para porter-nya yang mendaki ke arah Plawangan Sembalun. Makin ke bawah, kami makin sering berpapasan dengan mereka. Hampir setiap beberapa menit kami selalu berpapasan, mulai dari sekedar pasangan pendaki dengan guide-nya hingga rombongan besar. Cemplung dan saya selalu berhenti ke pinggir untuk memudahkan mereka yang mendaki untuk terus berjalan naik. Satu-satunya rombongan yang siang itu berjalan searah dan kemudian menyusul kami adalah ketiga porter kami.

Saya sangat terkesan dengan sedemikian banyaknya pendaki expat yang saya jumpai di sepanjang jalur trekking Rinjani. Dari hampir seratus-an lebih pendaki yang saya jumpai sejak kemarin, saya baru dua kali bertemu dengan orang Indonesia. Kemarin bertemu sekitar sepuluh-an orang di atas Pos-3 dan hari ini lima orang. Rinjani tampaknya sudah menjadi salah satu ikon wisata gunung internasional, seperti halnya Himalaya di Nepal atau Karakoram di Pakistan, tetapi dalam skala yang lebih kecil.

“Setelah lewat jembatan itu jalannya mulai lebih mudah Mas. Banyak bonus” kata Cemplung sambil menunjuk ke arah jembatan beton yang pagarnya hanya ada di satu sisi. Yang dia maksud dengan bonus adalah jalan yang relatif datar. Di jembatan ini saya berhenti sebentar untuk istirahat dan membuang kerikil yang banyak masuk ke sepatu.

Rute hari kedua : (1) Perkemahan di Plawangan Sembalun, elevasi 2645 m (2) Puncak Rinjani, elevasi 3726 m (3) Tempat terlindung pertama yang dijumpai setelah turun dari puncak, elevasi3520 m (4) Tiba kembali di perkemahan Plawangan Sembalun, elevasi 2645 m.(5) Segara Anak, elevasi 2025 m. Total jarak yang ditempuh : 7.8 km.

Saya sudah tidak sabar ingin segera sampai di Segara Anak. Saya ingin segera mandi berendam di mata-air panas. Seluruh badan saya, mulai dari jari kaki hingga kepala rasanya seperti berselimut debu. Debu Rinjani sungguh luar biasa. Saya memakai tiga rangkap kaus kaki tebal, tapi debu tetap bisa tembus dan menempel di sela-sela jari kaki saya.

Jam 15:05 akhirnya kami sampai di Segara Anak. Cuaca di sekitar danau terlihat sangat cerah karena kabut sudah mulai hilang. Saat kami tiba di lokasi perkemahan di pinggir danau, saya lihat Sar dan Rean sedang mendirikan tenda, sedang Subur memasak. Begitu kami tiba, Subur segera menyambut saya dan Cemplung dengan teh hangat dan kopi panas. Di gunung ini saya benar-benar mendapatkan pelayanan kelas satu.

(Bersambung…)

VIDEO PILIHAN