Mohon tunggu...
Renita Arfiatti
Renita Arfiatti Mohon Tunggu...

I Love Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Hendropriyono Sang Sutradara Konflik KPK-Polri

12 Februari 2015   05:45 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:22 4548 0 0 Mohon Tunggu...

Konflik KPK-Polri telah memasuki babak baru, dimana ceritanya semakin kompleks, intrik semakin intensif digencarkan, dan para aktor semakin matang dalam menghayati perannya. Tapi layaknya penikmat film, sering kita lupa cerita di balik layar dan peran sang sutradara: A.M. Hendropriyono.

Dengan kepiawaiannya sebagai pengarah cerita, peran protagonis yang diperankan KPK dibuat tak berdaya dihadapan para koruptor. Walau bagaimana pun sulit untuk mengubah wajah KPK yang selama ini dianggap sebagai pahlawan bagi rakyat dalam memberantasan korupsi menjadi penjahat yang menakutkan, tapi tidak bagi Hendropriyono mantan Kepala BIN era Megawati Sukarnoputri.

Drama politik dan hukum ini, dimulai saat saat sang aktor pelaksana tugas Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto muncul dengan masker dan topi dihadapan media menuding Ketua KPK Abraham Samad pernah melakukan deal politik untuk meloloskan ambisinya sebagai Wakil Presiden saat Pilpres 2014. Hasto berdalih hanya merespon tulisan Sawito Kartowijoyo di sebuah blog yang berjudul ‘Rumah Kaca Abraham Samad’. Tulisan tersebut tampaknya menjadi naskah awal dalam rangkaian cerita yang tengah disorot publik saat ini.

Momentum tampaknya sudah diperhitungkan, sesaat sesudah calon tunggal Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Hasto sebagai aktor yang piawai langsung bergerak menangkap momentum dengan dua misi sekaligus: mendelegitimasi KPK secara politis, dan memlakukan pembelaan untuk Budi Gunawan. Dalam narasi Hasto, Abraham Samad dicitrakan punya dendam politik pribadi kepada Budi Gunawan. Cerita yang diulang kembali dari pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri dan di hadapan DPR.

Lantas apa yang dilakukan Hendropriyono? Sang sutradara tak banyak muncul di publik, perannya menjaga ritme cerita sangatlah penting. Saat ingin mengungkap peran Abraham Samad lewat konfrensi pers bersama Hasto, Hendro sempat diisukan akan hadir namun belakangan dibatalkan. Padahal dalam selebaran di dunia maya pada 22 Januari jelas tertera nama Hasto Kristiyanto dan Hendropriyono akan hadir di Jl. Cemara No. 19 dan sebuah apartemen. Hendropriyono belakangan menerangkan bahwa dia pernah bertemu dengan Abraham Samad satu kali saat Pilpres 2014.

Jejak sentuhan Hendropriyono juga terlihat saat kepergok wartawan menemui Presiden Jokowi di sela-sela memanasnya konflik KPK-Polri 3 Februari lalu. Desas-desus yang beredar ada pesan sederhana yang ingin disampaikan Hendropriyono: meminta agar Presiden Jokowi tetap melantik Komjen Budi Gunawan.

Peran sang sutradara dalam pelemahan KPK itu pun menampakkan sentuhannya ketika ada penggantian Kabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Budi Waseso, menggantikan Komjen Pol Suhardi Alius yang dituduh membocorkan data korupsi Budi Gunawan ke KPK. Jika Hasto berperan mendelegitimasi KPK secara politis, Budi Waseso dipasang untuk melemahkan secara hukum dengan mengorek kasus-kasus lama para Komisioner KPK.

Alih-alih menutupi perannya dalam bermanuver, Hendropriyono justru menampakkan namanya dalam sebuah karangan bunga waktu Budi Waseso naik pangkat menjadi Komjen. Secara simbolis Hendropriyono menjadi satu-satunya orang yang mengirim karangan bunga kepada Budi Waseso tersebut.

Hendropriyono memang handal dalam hal mengatur peran, terlebih menantunya Mayjen TNI Andika Perkasa sudah ditempatkan di istana sebagai Komandan Paspampres. Mata dan telinga Hendropriyono terus memantau pergerakan dipusat kekuasaan tersebut. Kabarnya arus kounikasi dan informasi ke Presiden Jokowi juga sangat sulit ditembuss untuk menjaga fokus pada pelantikan Budi Gunawan sebagai Kapolri.

Skenario canggih Hendropriyono ini, tampak terjalin rapih. Bahkan sehari setelah Hasto menggelar jumpa pers soal Abraham Samad, Bareskrim Mabes Polri langsung menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto atas tuduhan merekayasa kesaksian palsu pada sidang MK soal Pilkada Kotawaringan Barat tahun 2010.

Sulit di nalar jika Hasto bergerak terpisah diluar skenario untuk melakukan aksi berbahaya. Sebagai pelaksana tugas Sekjan PDIP, Hasto pasti bertindak atas restu dari sang Sutradara. Dari alur cerita yang ada, tampaknya sudah tersedia jaminan secara politik dari partai politik maupun secara hukum oleh Bareskrim Mabes Polri untuk aksi Hasto ini. Disinilah peran strategis Hendropriyon menjaga agar bakak cerita  demi babak berjalan baik.***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x