Rop Pattip
Rop Pattip cook

lifE is a bo0k. . .everyday has a new page. . .with adventUres to telL. .things to learn and tales to remember. .

Selanjutnya

Tutup

Catatan highlight

Hati-hati Dengan Anggota Perusahaan QNET

21 Desember 2014   05:41 Diperbarui: 17 Juni 2015   14:50 32630 0 0

Sayaterkadang merasa lelah dengan hidup yang saya jalani, namun saya selalu mencoba bersyukur pada Tuhan yang telah memberi saya kesabaran dan keikhlasan untuk menjalani betapa luasnya dunia ini.


Kisah ini benar-benar terjadi, tanpa rekayasa dan tipu daya, karena ini kisah saya yang akan saya ungkapkan. Semoga bermanfaat, dan anda (pembaca) semoga bisa memberikan kritik, saran, motivasi dan memberi saya kekuatan untuk lebih bersyukur lagi pada Allah ta’ala.



Saya masih ingat, benar-benar masih terekam dimemori saya. Johan, kakak kelas kampus saya, mengenalkan saya pada temannya yang bernama Fahmi. Dari sanalah saya mulai dekat dengan Fahmi. Malam itu, ketika saya merasa bosan berada di rumah, dia (Fahmi) mengajak saya untuk pergi. Oke kita pergi disalah satu cafe daerah Seleman. Saya tak punya pikiran apa-apa, hingga saya dikenalkan oleh teman Fahmi yang bernama Sholeh. Ya, dari sana mas Sholeh menawri saya kerja, yang memang pada saat itu saya tidak memiliki pekerjaan tetap. Bilangnya bukan marketing, MLM dan apalah sejenis itu, yang menjanjikan seseorang bisa menjadi kaya sampai tujuh turunan dengan membeli satu produk (cakra namanya), untuk seumur hidup. Cukup mengajak dua teman, tiga kiri tiga kanan honor di tranfer lewat rekening. Sekian jadi sekian, ada yang join lagi sekian dan nambah sekian. Kalo berhenti dan begini-begini bla...bla...bla.... melakukan presentasi di berbagai daerah, di Salatiga, di Wedi, Klaten dengan menjanjikan bakal mengganti SEPULUH KALI LIPATNYA kalo merasa dirugikan, dan ini yang di janjikan oleh sang leader (mas Sholeh) pada saya, saya masih inget, “kalo anda merasa di rugikan oleh perusahaan ini, mobil merah itu jaminan saya.”


Begonya, karena faktor ekonomi keluarga saya, saya mengiyakan untuk join! Baaahhh!!!!! Sekarang saya merasa benar-benar dirugikan. Sungguh saya merasa durhaka pada ibu saya. Saya kerja siang, malam, pagi, sore untuk biaya kuliah saya, untuk mencukupi kebutuhan warung klontong ibu saya, menjatah sedikit uang pada ibu saya, membayar angsuran motor dan mencukupi kebutuhan saya sendiri, dengan gaji yang kurang dari rp1juta. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, semua itu lebih dari cukup, sebelum iming-iming ini di tembangkan oleh mas Sholeh. Saya pontang panting mencari pinjaman untuk membeli satu produk yang bilangnya itu cakra untuk ini, untuk itu, biar gini, biar gitu. Saya tak pernah berfikir untuk pinjam uang pada siapa pun kecuali dalam keadaan benar-benarterjepit. Entah lagu apa yang telah dinyanyikan oleh mereka (Fahmi, mas Sholeh, Babe, mas Budi, pak Iwan, pak Ari dan Usman dll) hingga saya pinjam teman saya uang kesana-kemari untuk pelunasan montor saya, kalo sudah lunas tebus BPKB dan di sekolahkan BPKB itu. Goblokkkknya saya, saya nurut aja dengan iming-iming yang mereka janjikan. Saat itu saya tidak ada uang sama sekali, mereka minta pada saya untuk mencari pinjaman uang pada entah siapapun untuk bisa join, dan saya lakukan! Saya berbohong pada ibu saya berkali-kali. Sungguh bu, maafkan anak mu yang durhaka ini, betapa semua ini saya lakukan untuk mengangkat keadaan perekonomian kita.


16 Juli 2014 dana pinjaman dari bank saya turun sebesar rp5 juta, saya berbohong uang itu untuk melunasi kuliah saya, padahal uang itu akan saya guankan untuk join di perusahan tersebut.Akhirnya uang rp5 juta ada di tanggan saya. Saya berfikir untuk mengembalikan uang teman-teman saya yang telah saya piinjam. Namun mas Sholeh bilang untuk menitipkan uang tersebut pada pak Iwan. Oke saya nurut, karena uangnya masih kurang rp2 juta sekian untuk bisa join (harga cakra sekitar rp7jt sekian), dan pak Iwan bilang akan membantu yang rp2 juta sekian tersebut. Hingga pada akhirnya saya menitipkan rp5.200.000,00 (lima juta dua ratus rupiah) (rp200rb tambahan dari teman saya) pada pak Iwan dengan saksi oom Bayu, yang bodohnya saya, baru hari itu saya bertemu dan kenal oom bayu tanpa hitam di atas putih. Baahhh!!!! LICIK nian! Pak Iwan dengan mudahnya bilang besok saja ngisi formulir pendaftarannya. Saya setuju-setuju saja karena saya percaya.


Agustus tiba, keadaan ekonomi ibu saya sedikit terangkat berkat bantuan dari Babe, yang membantu untuk berjualan bendera merah-putih. Ibu saya mendapat keuntungan sekitar rp2 juta. Saya bersyukur atas rizki yang telah Allah berikan pada ibu saya. Sementara saya masih pontang-panting mengumpulakn uang uantuk mengembalikan uang pinjaman saya dari teman-teman saya dan pinjaman dari bank. Freelanch saya mulai menurun karena bentrok dengan tugas-tugas kuliah yang semakin menumpuk belum lagi merampungkan tugas akhir yang deatleannya ternyata bulan Desember ini.


September, ketika ulang tahun saya yang ke-23 ibu memberikan kado pertama untuk saya berupaa cincin dari hasil penjualan bendera dengan berat 2 garm. Diam-diam saya menangis waktu itu. Betapa saya telah durhaka pada ibu saya, atas kebohongan-kebohongan yang saya lakukan pada beliau. Hingga saya memutuskan mengambil uang saya untuk membayar kuliah dan melunasi pinjaman saya pada teman-teman saya. Saya minta uang itu pada pak iwan, tapi ia mengulur waktu. Tanpa sepengetahuan saya uang tersebut terlah di kirim ke kantor bilangnya Fahmi. Saya marah, saya meminta uang tersebut pada pak Iwan, namun tak kunjung di berikan, hingga sekarang!!! Sampai pada suatu saat dia bilang kalo uangnya di pinjam Usamn untuk pulang ke Kalimantan. BEDEBAAAAHHH!!!!!!!!! Saya tidak ada urusan dengan Usman, urusan saya dengan Anda pak Iwan, anda telah meminjamkan titipan saya pada Usman. Saya merasa di rugikan!!!! Ah, iya, pada bulan Oktober 2014 saya bertemu dengan pak Iwan. Saya minta uang saya dengan membawa bukti kekurangan pembayaran kuliah saya. Dia berjanji tanggal 22 Oktober 2014 akan memberikan saya rp2juta dulu. Oke saya sabar hingga tanggal tersebut saya ke kontrakan lagi, dan dia ternyata minggat ke Sumbawa berlindung di ketiak istrinya. Ketika saya kesana lagi, saya hanya bertemu pasangan suami istri (yang istrinya baik banget sama saya). Pasutri itu tau ketika pak Iwan berjanji tanggal 22 Oktober 2014 akan memberi saya rp2 juta dulu. Ketika dia pulang ke Jogja, anak istri dan keluarganya telah di boyong di Jogja. Bilangnya enga ada uang tapi bisa membawa ke Jogja keluarganya, cih! Saya pontang-panting cari uang untuk mengembalikan pinjaman dan membayar kuliah. Angsuran dari bank telat 1 bulan. Pembayaran kuliah saya jualkan benda satu-satunya haiah dari ibu saya. Ya Allah, maafkan hamba, sungguh hamba tak berniat durhaka pada ibu hamba, tak ada niat sedikit pun Tuhan, ampuni hamba... ketika cincin itu tidak saya pakai, ibu saya selalu bertanya kemana cincin tersebut, kenapa pakai cincin imitasi. Saya asal menjawab bosan dengan cincin tersebut. Bulan berikutnya ibu saya bertanya lagi masalah cincin tersebut, saya jawab kalo kerja di dapur enga boleh pakai cincin. Oh Tuhaaaannnn, sungguh ampuni hamba. Hingga surat penagihan dari bank datang ke rumah saya bulan November 2014 kemarin. Tuhan, sungguh saya malu pada keluarga saya, setiap selembar kertas penagihan dari kampus, saya selalu pergi menghindari keluarga saya, sunggu Tuhan, saya tak ingin menyakiti ibu saya, sudah banyak pengorbanan ibu saya untuk saya. Kali ini saya yang harus berkorban pada ibu saya. Saya mulai sering merokok, saya mulai sering pergi dan enga pulang ke rumah. Sungguh cerita ini bukanlah fiksi belaka, dengan berlinang air mata saya memohon ampunan pada-Mu Ya Allah, saya menangis menuis ini semua. Sungguh saya merasa bodoh. Surat edaran untuk pembayaran kuliah datang lagi awal bulan kemarin. Saya bingung! Sungguh Tuhan, saya tak tahu harus bagaimana. Hingga ibu menanyakan lagi masalah cincin itu. Tuhan saya tak mampu menjawab apa-apa lagi. Saya berusaha mencari pekerjaan, memasukkan lamaran kesana kemari walo pada akhirnya tak satu pun yang di terima. Kuatkan hamba-Mu Ya Allah... sabarkan hamba, ikhlaskan hamba dalam melewati cobaan-Mu. Ibu saya tahu bahwa saya kerja hanya pada saat dibutuhkan saja, honor pun tak seberapa. Hingga ibu saya meminta saya untuk menjual cincin tersebut untuk melunasi pembayaran bank. Saya mengiyakan saja, padahal tanpa sepengetahuana ibu saya cincin terseut sudah saya jual. Saya menghubungi kakak pertama saya, saya pinjam uang padanya untuk pembayaran bank. Saya pun berbohong pada beliau, bahwa uang tersebuat akan saya gunakan untuk merampungkan laporan tugas akhir saya. Ketika saya bener-bener ada niat untuk merampungkan tugas akhir saya, laptop yang seharusnya saya pakai untuk merampungkan tugas akhir diambil kakak saya yang ke dua. Bah! Mood saya hilang begitu saja. Saya merasa lelah, sungguh... tak lama setelah mood saya hilang, saya langsung pergi ke Gamelan. Di sana kakak ke tiga saya menghubungi saya bilang pinjam uang untuk priksa kandungan dan meminta tolong saya untuk membelikan susu untuk hamil. Saya syokk, nyaris menangis di depan teman-teman satu kamus saya di Gamelan. Sungguh kawan tanpa kalian aku bukanlah apa-apa. Saya lantas ke rumah kekasih saya, dia bersedia mengantar saya ke rumah kakak ke tiga saya, yang memang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Karena kakak pertama saya baru saja mentranver rp200rb, saya berikan separuh pada kakak ke tiga saya sisanya saya bayarkan ke bank. Saya cukup bersyukur memiliki kakasih sepertinya, makasih sayang untuk lelucon-lelucon yang sering kamu candakan. Makasih selalu menguatkan aku. Dan kamu sahabatku yang kuliah di Jakarta, rampungkan kuliah mu segera.


Kembali ke masalah pak Iwan. Saya berkali-kali menghubingi dia untuk segera mengembalikan uang saya, namun dia mengulur waktu terus. Smsnya masih saya simpan, berikut smsnya ketika saya meminta uang saya:


Pak iwan 07/11/2014 03:07:26 PM


Sedang saya usahakan uangnya rei kemarin di pinjam sama Usman, ini baru saya ceritakan yg sebenarnya, saya juga schock, Usman sampai Kalimantan malah hpnya gak bisa di hubungi


Pak Iwan 07/11/2014 03:12:19 PM


Saya usahakan nanti saya yang tanggung jawab


Saya terus mendesak dia untuk segera mengembalikan uang saya bagaimana pun caranya. Dan ketika saya tanyakan pada Fahmi kenapa uangnya bisa di pakai Usman, ternyata Fahmi engak tahu kalo uangnya telah di pinjamkan ke Usman oleh pak Iwan. Setahu Fahmi uang tersebut sudah di kirim ke kantor. Saya tetap meminta pertanggung jawaban pada pak Iwan.


Pak Iwan 04/12/2014 01:27:56PM


Sabar dulu ya mba rei pasti saya tangggung jawab.


Saya 04/12/2012 01:30PM


Lha mau sampai kapan, saya enga enak sama dosen saya. Aku minta hitam di atas putih.m harus monggo pak iwan yang buat. Pokoknya sebelum tanggal 20 desember 2014 rp5.200.000 harus lunas.


Pak Iwan 08/12/2014 03:04:23PM


Mohon maaf sebelumnya rei kalo hari jumat bisa nunggu gak rei. Saya bener2 lagi berusaha.mohon maaf.


Saya tunggu hingga hari jumat, tapi dia sama sekali tidak menghubungi saya. Saya mulai jengkel. Hampir tiap hari saya sms meminta uang saya.


Saya 16/12/2014 08:22PM


Cepet pulangin uang saya, saya di sidang keluarga saya masalah cincin yang tak jual. Mikir engga sih kamu?


Setelah terus-terusan saya desak, akhirnya dia meminta saya untuk menagih uang ke mas Budi, padahal tanpa sepengetahuan dia saya dan mas Budi merencanakan sesuatu di bantu sesepuh (orang yang lebih tua maksudnya). Rencananya begini, saya pinjam uang ke mas Budi untuk bayar kuliah, padahal aku hanya pinjam rp15rb sama mas Budi untuk benerin velg motor dulu. Setelah hutang mas Budi di hitung ternyata ada rp730.000 (tujuh ratus tiga puluh ribu). Oke sebenarnya saya yang melunasi hutang mas Budi ke pak Iwan biar mas Budi enga dicari pak Iwan terus sampai tempat kerjanya. Jadi hutang pak Iwan pada saya tinggal rp4.470.000 (empat juta empat ratus tujuh puluh ribu) setelah dikurangi hutangnya mas Budi ke pak Iwan pr730rb. Mas Budi minta tempo pengembalian uang saya sebanyak 3x. Saya setuju karena saya tahu dia pun sama seperti saya, harus segera melunasi angusran-angsuran. Kemarin kami, saya dan mas Budi, tanggal 17 desember 2014 ke kontrakan pak Iwan. Saya emoh nek di angsur, pengembalian uangnya, tapi pak Iwan tetep minta di angsur. Saya kekeh emoh di angsur,sampai akhirnya saya setuju untuk di angsur dengan syart bunga 5% per bulan plus jaminan. Ehhh, dia nya enga mau malah minta aku buat jual motor bututnya Usman, yo wegah! shogun 125 biru jaman ra enak mung payu piro. Saya enga mau tau pokoknya begitu. Pak Iwan ngatain saya rentener. Eh! Kamu pikir saya enga kena bunga pinjem uang itu! Kamu yang pakek uang saya, saya yang angsur uangnya ke bank, saya yang bayar bunganya, saya pula yang pontang-panting ngembalikan uang ke bank, ke teman-teman saya. Beban mental pada keluarga saya. Kamu ki cah kuliahan tapi enga punya otak! Rugi le S1! Pak Iwan, dia diam, lalu berpaling ke mas Budi untuk hitung-hitungan. Setelah di total ternyata pinjaman mas Budi ke pak Iwan sebesar rp736rb. Saya tak terlalu peduli ketika mereka hitung-hitungan. Sampai pak iwan memotong penjelasan mas Budi, “dua ratus dari mana? Ini dua ratus ribu dari mana?!!” “PLAKKK!” pak iwan menampar mas Budi dengan buku piutang yang sering di catat mas Budi. Aku syok. Demi Allah, mas Budi sedang menerangkan rincian uangnya ke pak Iwan. Saya lerai mereka berdua. Mas Budi berusaha membalas tamparan pak Iwan, namun saya cegah dia. “kamu bud, enga tahu di untung, asu kamu! Makan minum kamu numpang saya, tidur kamu tinggal sama saya, mana balas budi kamu.” Pak Iwan dan istrinya bilang yang intinya sama-sama begitu. Istrinya malah itung-itungan masalah mas Budi tinggal, makan dan minum di tempat pak iwan. Oh, Tuhan, sungguh jika saja kala itu aku punya kekuatan untuk membalas omongannya, maka tak balas saja omongannya dalam tulisan ini. “pak, anda pernah bilang pada saya, kalo kita teman, kita udah kaya keluarga sendiri. Siapa yang minta mas Budi untuk tinggal bersama anda? Siapa pula yang meminta makan dan minum pada anada? Sunggguh pak, Allah Maha Tahu atas apa yang telah terjadi. Berapa bulan saya minta uang saya segera dikembalikan, dari september 2014, namun sampai saat ini belum juga anda kembalikan, apa saya masih kurang sabar??? Sesungguhnya semua itu akan kembali dan di perhitungkan lebih rinci lagi ketika kita akan melewati siratolmustaqim...”



Pembaca, terimakasih telah meluangkan waktu Anda membaca curhat saya, sungguh saat ini uang bukanlah segalanya bagi saya, namun saya benar-benar butuh untuk membayar kebodohan saya. Sampai saat ini uang saya yang tinggal rp4.470.000; di pak Iwan belum di kembalikan. Mungkin kalo mas Budi enga bikin rencana ini uang saya di pak Iwan masih rp5.200.000; dan entah kapan uang itu akan segera di kembalikan. Perjanjian tetap sebelum tanggal 20 Desember 2014. Tak ada hitam di atas putih, karena pak Iwan selalu mengelak ketika saya meminta hitam di atas putih. Saya berdoa semoga teman-teman saya bisa membantu saya. Mba fiana, petolongan mu saya butuhkan, dan segeralah membantu saya, agar saya tak semakin terbebani masalah uang. Pak Iwan masih minta batas waktu sampai akhir januari 2015, padahal, akhir desember 2014 saya harus melunasi tunggakkan kuliah saya. Mas Sholeh, yang meminta saya untuk menitipkan uang tersebut pada pak Iwan tak ada kabar sama sekali, semoga mie ayam mas x yang kamu kelola laku keras di kalangan masyarakat, amin, dan bertanggung jawablah pada Allah atas janji-janji mu. Fahmi, makasih atas perkenalan perusahaan ini, dan mengenalkan aku pada orang-orang tersebut hingga Tuhan menguji saya dalam masalah ini. Saya kuat, saya tegar melewati ujian-Nya karena ini adalah bukti bahwa Tuhan menyayangi saya, dan Dia percaya saya mampu menyelesaikan secara dewasa masalah ini.


Oh Tuhan, hanya pada-Mu lah saya mengemis rizki-Mu. Lancarkan kerja saya, lancarkan kuliah saya, tugas akhir saya, ujian semester V tanggal 4 januari 2015 besok, dan sukseskan saya untuk ujian sidang pendadaran februari 2015 kelak. Amin. Makasih teman-teman untuk hiburan yang sering kalian suguhakan padaku, makasih kawan atas tawaran bantuan mu, makasih sayang kau rela sisihkan waktu mu hanya untuk mendengarku menangis... makasih Ya Allah Engkau kirimkan teman-teman dan keluarga yang sangat mencintai dan menyayangi saya. Betapa saya juga cinta dan sayang pada mereka, dan keluarga saya...



Yogyakarta, 18 Desember 2014