Mohon tunggu...
REDEMPTUS UKAT
REDEMPTUS UKAT Mohon Tunggu... Relawan Literasi

Lakukanlah segala pekerjaanmu di dalam kasih (1kor. 16:14)

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Aka Bilan, Kuliner Tradisional Khas Malaka

20 Mei 2021   15:38 Diperbarui: 20 Mei 2021   15:39 161 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aka Bilan, Kuliner Tradisional Khas Malaka
Ibu - ibu yang sementara membuat Aka Bilan di Pasar Lolowa Atambua (dok. pribadi)

Aka Bilan adalah salah satu kuliner tradisional khas Malaka. Kuliner ini terbuat dari sagu. Kalau di Maluku sagu diolah menjadi Papeda, di Malaka sagu diolah menjadi Aka Bilan. Bedanya Papeda adalah bubur sagu yang dimakan dengan ikan kuah asam sedangkan Aka Bilan dibuat  seperti roti pipih yang dibakar dengan taburan kacang hijau rebus di atasnya sebagai topping. Aka Bilan sangat nikmat jika dimakan panas - panas sambil menyeruput segelas kopi atau teh.

Nama Aka Bilan sendiri berasal dari dua kata bahasa Tetum yakni kata akar yang berarti sagu dan kata bilan yang  berarti  dibolak -- balik. Jadi  kita bisa mengartikan Aka Bilan sebagai sagu yang dibolak -- balik. Hal ini memang tidak terlepas dari cara membuat Aka Bilan yang harus dibolak -- balik saat dibakar di atas dua buah kuali kecil dari tanah liat yang biasa disebut dengan istilah babilak.

Pada zaman dahulu, Aka bilan merupakan makanan pokok masyarakat di perbatasaan dengan negara Timor Leste ini sebelum mereka mengenal ubi -- ubian, jagung dan padi. Ini terjadi karena banyaknya pohon gewang yang tumbuh subur di sini. Selain daunnya dibuat tali dan atap rumah, batang pohon gewang itu dimanfaatkan sebagai makanan sehari -- hari. Namun seiring perkembangan zaman, semakin banyak produksi padi dan jagung, makanan ini pun perlahan -- lahan berganti peran sebagai kudapan.

Untuk bisa membuat Aka Bilan memang bukan pekerjaan mudah. Pohon gewang harus ditebang dan dipotong menjadi beberapa bagian terlebih dahulu agar mudah diolah. Potongan -- potongan bagian gewang  itu kemudian dibelah menjadi dua, diiris kecil-kecil, dikeringkan pada panas matahari kurang lebih tiga hari, lalu ditumbuk menggunakan lesung untuk mendapatkan tepung sagu. Tak berhenti di situ saja, tepung sagu itu harus disaring lagi menggunakan air supaya bisa mendapatkan tepung yang layak untuk dimakan.

Setelah mendapatkan tepung sagu yang layak untuk dimakan, tepung tadi ditakar sesuai kebutuhan pada nyiru (nampan) lalu dicampur parutan kelapa, garam secukupnya dan air. Kemudian sediakan babilak pada tungku sehingga adonan sagu siap dibakar. Bahan bakarnya bukan kompor dan gas, tapi perlu kayu bakar agar hasilnya merata sempurna dan wangi.

Walaupun pengolahannya agak berat, namun sagu tetap dikonsumsi sebagai kudapan pada pagi dan sore hari karena kandungan gizinya yang tinggi. Dari panduan gizi Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Belu, dalam 100 gram sagu kering terkandung karbohidrat sebesar 94 gram, protein 0,2 gram, serat makanan 0,5 gram, zat besi 1,2 mg, dan kalsium sebanyak 10 mg. Total dalam 100 gram sagu terkandung 355 kalori serta protein, vitamin, dan mineral. Sedangkan dalam satu lempeng Aka Bilan terhitung energi sebesar 124,3 kcal, 1 gram protein, lemak sebesar 1,3 gram dan 26 gram karbohidrat murni. Itu belum termasuk kandungan gizi kacang hijau yang ditabur di atasnya.

Untuk wilayah Atambua, biasanya Aka Bilan dijual di Pasar Lolowa pada hari Jumat sampai hari Minggu. Penjualnya adalah mama - mama berusia 60-an tahun yang berasal dari Malaka. Aka Bilan itu dijual 3 lempeng 5000 rupiah.

Saat saya membeli Aka Bilan pada hari minggu yang lalu saya sempat bertanya tentang omzet yang mereka peroleh selama sehari. Kata salah satu mama di situ, dalam sehari mereka bisa mendapatkan Rp. 500.000 -- Rp. 700. 000 ribu. Sehingga selama 3 hari berjualan di Pasar Lolowa mereka bisa mendapatkan 1,5 juta -- 2,1 juta rupiah.

VIDEO PILIHAN