Mohon tunggu...
Rionanda Dhamma Putra
Rionanda Dhamma Putra Mohon Tunggu... Ingin tahu banyak hal.

Seorang pembelajar yang ingin tahu Website: https://rdp168.video.blog/ Qureta: https://www.qureta.com/profile/RDP Instagram: @rionandadhamma

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Bongkar Dua Sisi: Solusi Zaman Resesi Covid

20 Juli 2020   07:57 Diperbarui: 20 Juli 2020   08:05 63 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bongkar Dua Sisi: Solusi Zaman Resesi Covid
Sumber: coolmaterial.com

Di zaman resesi dunia pekerjaan sangat sukar
Juga pendidikan...
Di sudut-sudut jalanan banyak pengangguran
Jadi preman 'tuk cari makan...

Masih ingat dengan lagu ini? Karya Ikang Fawzi yang berjudul Preman ini dirilis tahun 1987. Namun, dia kembali relevan pada tahun 2020 ini. Mengapa? Sebab kita kembali mengalami hal yang sama. Iya, kita berada di pangkal resesi.

PDB Singapura sudah berkontraksi 41,2%. Sementara, PDB Indonesia diperkirakan mengalami penurunan sebesar 4,3%. Begitu pula dengan negara-negara lain. Mayoritas mengalami minus growth. Persis seperti yang terjadi pada zaman resesi dunia 1987.

Akan tetapi, karakteristik zaman resesi COVID ini berbeda. Jika ekonomi adalah orang, maka pemicu resesi adalah centeng yang menggebuk. Pada tahun 1987, ekonomi dunia digebuk dari satu sisi. Namun pada tahun 2020, kita digebuk dari dua sisi secara bersamaan. Bagaimana bisa?

Mari kita kupas masing-masing zaman. 1987 adalah tahun di mana Black Monday terjadi. Penurunan indeks pasar saham secara global ini mengawali resesi yang terjadi sampai tahun 1992. Artinya, resesi ini dipicu dari terjadinya kontraksi wealth effect secara makro.

Apa itu wealth effect? Istilah ini menggambarkan hubungan positif antara konsumsi/consumption dengan nilai kekayaan rumah tangga/wealth (Liberto dalam investopedia.com, 2019). Artinya, semakin tinggi tingkat kekayaan rumah tangga, semakin tinggi pula konsumsinya dan sebaliknya. Dalam teori ini, diasumsikan bahwa konsumen adalah investor di pasar modal.

Sehingga, ketika pasar saham secara global crash, nilai kekayaan rumah tangga menurun drastis. Maka, animal spirits kembali menguasai konsumen dan membuat mereka over-pessimistic. Pesimisme inilah yang membuat mereka mengurangi konsumsi.

Selanjutnya, pengurangan konsumsi rumah tangga membuat permintaan agreggat (agreggate demand/AD) mengalami penurunan. Jika AD menurun, maka tingkat harga dan PDB riil keseimbangan baru menjadi lebih rendah dibanding sebelumnya. Berikut adalah ilustrasinya.

Sumber: Dokumentasi pribadi
Sumber: Dokumentasi pribadi
Output yang mengecil inilah yang membuat pekerjaan sangat sukar. Juga pendidikan karena penerimaan pajak pemerintah menurun drastis. Sehingga, pengangguran semakin banyak. Lantas, mereka pun memilih jalan kriminalitas/menjadi preman untuk mencari makan.

Berbeda dengan zaman resesi COVID ini. Tanpa pandemi Corona, ekonomi dunia memang akan mengalami resesi seperti 1987. Akan tetapi, kehadiran wabah global ini membuat masalah semakin parah dan kompleks.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN