Zainal Khairul
Zainal Khairul Dosen

Dosen Universitas Pasifik Morotai Sekertaris bidang sastra budaya ICMI Orda Morotai Ketua Umum PD PII Metro Makassar 2009-2010, 2010-2011 enalok37@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Refleksi Hari Kasih Sayang dalam Menekan Perceraian

14 Februari 2018   13:38 Diperbarui: 14 Februari 2018   13:45 224 0 0
Refleksi Hari Kasih Sayang dalam Menekan Perceraian
Semoga Cinta Tetap Awet di Musim Hujan (.pinterest.com)

 

Hari Kasih sayang  yang  lagi dirayakan hampir di seluruh dunia dengan berbagai pernak-perniknya. Hotel-hotel dan tempat makan restaurant pun berlomba menawarkan paket malam romantic berdua dengan harga special. 

Dilengkapi dengan dekorasi romantis dan ditambah dengan live music untuk menghibur dua insan yang saling mencintai dan di mabuk asmara dan kasih sayang.

Semua itu merupakan perwujudan cinta dan kasih sayang akan dua insan dimana tidak mengenal tua muda bahkan yang sudah bertahun-tahun menikah pun ingin kembali mengulang kisah-kisah romantic ketika mereka baru pertama kali mengikrarkan cinta mereka sehidup dan semati.

 Para abg pun tak kalah romantic diberbagai media, terutama media cetak seperti Di tribun milenial para abg pun mengungkapkan ingin diberi coklat atau bunga di momen special mereka nanti. Sebagai wujud cinta mereka yang berharap abadi dan langgeng hingga maut memisahkan.

Ironisnya dikutip badan pusat statistik (BPS) khususnya di wilayah provinsi Sulawesi Selatan jumlah kasus perceraian dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2012 jumlah kasus perceraian pasangan mencapai 11.742 pasangan dan meningkat signifikan di tahun 2014 sebanyak 12.211 pasangan yang mengajukan cerai. 

Apa sebenarnya masalah ini mengapa pernikahan sekarang sangat mudah mengucapkan kata cerai. Semakin banyak jumlah peceraian tentunya akan semakin merusak tatanan hidup masyarakat. Sebab yang bercerai bukan hanya dua insan tetapi dua keluarga yang dipersatukan dalam sebuah pernikahan tak jarang menjadi renggang bahkan saling bermusuhan.

Dari data perceraian yang semakin meningkat tiap tahun sebaiknya pasangan yang akan menikah terlebih dahulu meniatkan dalam dirinya bahwa menikah dan berumah tangga itu adalah ada seperti seperti sekolah tiada akhirnya. 

Setiap hari adalah ujian, namun tidak pernah ada kelulusan dan nanti berakhir setelah kita dipanggil ke haribaan Allah Yang Maha Kuasa. Tidak jarang kita mendengar kisah seorang kakek dan nenek memutuskan bercerai, jika dipakai akal logis buat apa mengajukan cerai ? Apa lagi yang dicari dalam hidup namun itulah sebuah pernikahan layaknya sekolah tanpa akhir.

Pernikahan adalah sekolah tanpa akhir, tidak akan pernah ada yang ahli dalam sebuah pernikahan, bahkan penulis bisa menjamin tidak akan ada lembaga yang memberi sertifikat lulus dalam sebuah pernikahan. 

Sebab pernikahan adalah proses belajar tiada henti memahami pasangan anda dan melihat lebih jernih setiap persoalan yang datang silih berganti hingga maut datang memisahkan dua insan. Siapa sangka seorang kakek dan nenek pun masih terkena proses drop out.Belajar tiada henti disinilah letak seni dan keindahan sebuah pernikahan.

Kadangkala sebuah cinta dan pernikahan berdasarkan persyaratan ini itu. Seperti saya mau menikahi mu dan mencintai mu dengan beberapa bersyaratan sayangnya sudah dipertegas oleh Element dalam sebuah judul lagunya bahwa cinta tak bersyarat.

Cinta sesungguhnya adalah aku tahu siapa kamu dan aku siap menerima segala resiko apapun dari mencintaimu, karena aku tahu kamu pun tahu siapa aku dan kita sama-sama memiliki hati untuk saling membahagiakan.

Cinta ibarat mentari yang terbit di ufuk timur serta layaknya rembulan yang menerangi malam. Sebuah cinta bukanlah perkara menang dan kalah, bukan pula sebuah kesetaraan atau mengalah demi kesetaraan.

 Cinta adalah ketulusan menjalin perbedaa dalam sebuah alunan nada kasih yang penuh harmoni, ibarat alunan merdu sebuah orchestra yang menyatukan sebuah perbedaan menakjubkan.

Data lebih miris adalah pada tahun 2016 dikutip dari mantan menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa "Angka gugat cerai istri terhadap suami termasuk tinggi, yaitu di kisaran 60-70 persen. Daerah tertinggi di Makassar 75 persen dan DKI Jakarta 70 persen, " ujarnya. Sebuah angka yang cukup miris melihat kota daeng memiliki rekor gugat cerai istri terbesar di Indonesia.

Faktor dominan  menurut khofifa adalah perbedaan income antar suami dan istri. Tingginya pendapatan istri dan semakin lebar jurang pemisah antara keduanya membuat fungsi laki-laki sebagai kepala keluarga tidak lagi dihormati. 

Sang istri menuntut lebih karena merasa ia menjadi tulang punggung keluarga akibatnya riak-riak kecil menjadi besar dan perceraian menjadi tak terelakkan.

Sebenarnya rahasia awet pernikahan cukup simple dan mudah suami hanya perlu di hormati dan istri dicintai.  Seorang  suami punya hak di hormati dan sebagai imam dan sekaligus bertanggung jawab membimbing keluarganya dengan baik.

 Sedangkan istri punya hak untuk disayangi dan diberi kebebasan menjadi wanita seutuhnya tanpa meninggalkan semua kewajiban menjadi istri dan ibu bagi anak-anak.

Point utamanya adalah pernikahan zaman now banyak yang tidak menghargai lagi arti kesetiaan dan selalu menuntut menerima daripada memberi. Semoga refleksi hari kasih sayang tidak hanya dimaknai cinta semu dan buta dalam pernak pernik alunan coklat dan bunga melainkan menyatukan dua insan dalam alunan nada yang indah.