Mohon tunggu...
Humaniora

Mengasah Para "Book Smart" menjadi "Street Smart"

31 Desember 2017   22:38 Diperbarui: 31 Desember 2017   22:47 568 0 0 Mohon Tunggu...

Mengenyam pendidikan di perguruan tinggi seolah menjadi wahana pendidikan formal terakhir sebelum berjuang di dunia kerja. Sebagai pendidik di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, acapkali saya merasa khawatir bahwa bekal ilmu yang dikumpulkan oleh para mahasiswa belumlah cukup dan olah pikir yang mereka asah belumlah tajam untuk menghadapi kompleksitas di dunia kerja. 

Tantangan pertama dunia kerja di masa kini dan nanti adalah ketatnya kompetisi di bursa tenaga kerja sebagai akibat dari banyaknya jumlah sarjana lulusan perguruan tinggi yang rata-rata 750 ribu per tahun dengan persentase lulusan yang langsung bekerja baru mencapai 60,5% (www.ristekdikti.go.id).

Tantangan kedua datang dari tibanya era globalisasi yang sebenarnya membuka jendela kesempatan pada tenaga kerja Indonesia untuk bertarung di kancah global atau go global. Tantangan terakhir adalah dimulainya revolusi industri 4.0 atau era smart industry yang seolah mengantarkan alih daya dari kolaborasi tenaga manusia dan mesin produksi ke kolaborasi robot dan perangkat pintar dalam proses kerjanya.

Kolaborasi perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri (DUDI) menjadi alternatif strategi untuk mampu meretas tantangan-tantangan ke depan di dunia kerja tersebut di atas. Salah satunya melalui program magang kerja. Para mahasiswa peserta magang kerja mampu merefleksikan dan menguji secara nyata (reality test) seberapa berdaya bekal keilmuan yang diperolehnya di bangku kuliah.

 Di sisi lain mereka juga makin mengembangkan pengelolaan tugas secara efektif dan efisien, persistensi atau daya tahan saat mengalami tekanan, daya juang untuk meraih target, kerja tuntas, dan profesionalisme yang mengandung makna tanggung jawab dan pelayanan.

Dalam jangkauan pengalaman saya selaku pendidik, sejak 2006 cukup rutin program studi tempat saya berkarya diberikan kesempatan  untuk dilibatkan PT. Astra International dalam program magang mahasiswa, terutama untuk proyek-proyek di bawah fungsi Human Resources Development. 

Misalnya, tiga mahasiswa mendapat kesempatan magang di PT. ASTRA Daihatsu Motor (PT. ADM) dengan tanggung jawab mengerjakan proyek Employee Opinion Survey (EOS) untuk mengevaluasi derajat kepuasan kerja karyawan terhadap tata kelola sumber daya manusia di PT. ADM. 

Bahkan, di kesempatan magang tahun berikutnya di PT. ADM, salah satu mahasiswa yang diberi tanggung jawab untuk mengevaluasi program budaya organisasi di PT. ADM menjadikan tema magangnya tersebut sebagai skripsi. Selain PT. ADM, para mahasiswa juga mendapat kesempatan magang di PT. PAMA Persada dengan proyek evaluasi tata kelola budaya organisasi, PT. United Tractor dengan proyek asesmen SDM, PT. Isuzu Sales Operation juga dengan proyek asesmen SDM, PT. Isuzu Astra Motor Indonesia, PT. Honda Sales Operation,  dan PT. Astra Mitra Ventura dengan proyek pengembangan organisasi.

Selain bermitra dengan ragam perusahaan di bawah naungan PT. Astra International, kami juga bermitra dengan perusahaan-perusahaan lain dalam pengadaan tempat magang bagi mahasiswa. Meskipun jenis tugasnya relatif mirip, namun PT. Astra International memiliki keistemewaan yang membedakannya dengan perusahaan-perusahaan lainnya tersebut. 

Para mahasiswa magang ditempatkan secara setara dengan karyawan lainnya. Semangat  egaliter ini mewujud dengan lapangnya ruang gerak untuk berkreasi, otonomi untuk mengatur secara detil aktivitas kerja, dan kemandirian dalam mengambil keputusan. 

Misalnya, pada proyek evaluasi budaya organisasi, para mahasiswa magang diberikan kesempatan untuk menyusun alat ukur sesuai kajian teori yang bisa mereka pertanggungjawabkan keilmiahannya, kemudian menguji validitas dan reliabilitasnya, dan sesudahnya baru dilakukan pengambilan data di lapangan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x