Mohon tunggu...
Rakyat Jelantah
Rakyat Jelantah Mohon Tunggu...

Ketika manusia tidak peduli terhadap manusia lain, siapa yang peduli dengan manusia lainnya ? - Rakyat Jelantah

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Bukan Mereka, tapi Kita

31 Maret 2017   20:21 Diperbarui: 31 Maret 2017   20:29 455 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bukan Mereka, tapi Kita
wallpaperawesome.com

Orang bilang, tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Orang bilang, tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Penggalan lirik lagu di atas adalah gambaran yang dibuat oleh musisi gaek Koesplus, yang populer pada tahun 1970an. Lagu yang menggambarkan betapa mudahnya masyarakat makan dari hasil alam negara kita ini. Tanah yang subur, laut yang luas dan kaya akan ikan – ikan. Itu yang ada di benak musisi gaek ini.

Tapi sayangnya, syair yang begitu indah dari Koes Plus, tidak relevan lagi untuk hari ini.

Terbukti berdasarkan data dari Bank Indonesia, sektor pertanian yang seharusnya bisa menjadi penyumbang terbesar PDB Indonesia, hanya berhasil menyumbang 13% (sumber). Selain rantai distribusi yang panjang, tekhnologi yang tidak memadai menjadi masalah di sektor ini. Dengan terus menurunnya hasil pertanian Indonesia membuat semakin mahalnya harga – harga kebutuhan hasil pertanian yang dilempar ke pasar. Belum lagi yang menjadi masalah karena adanya pengalihan lahan di Indonesia.

Lebih dari setengah dari petani di Indonesia, hanya punya kurang dari 1 hektar untuk bisa ditanami. Ini akibat eksploitasi daerah pertanian untuk pembangunan pabrik – pabrik yang juga selain bisa mengancam kerusakan ekosistem sekitar, juga bisa mengancam matapencaharian petani yang lahannya digunakan untuk pembangunan pabrik.

Bayangkan bila seluruh petani di Indonesia hanya memiliki lahan kurang dari 1 hektar akibat dari pengalihan lahan menjadi pabrik – pabrik, suplai bahan makanan dari para petani tidak mencukupi kebutuhan 255 juta lebih rakyat Indonesia. Impor pun terjadi, maka bahan makanan akan melambung tinggi. Biaya makan yang terlampau tinggi tidak diimbangi dengan pendapatan serta lapangan pekerjaan, banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan sulit untuk makan, makan saja sulit apalagi untuk sekolah, membeli pakaian, apalagi membeli tempat tinggal? Ah untung hanya angan saya saja.

Tapi nanti dulu, sepertinya itu bukan sekedar angan jika para petani kendeng gagal memaksa Jokowi untuk mencabut izin PT. Semen Indonesia untuk beroperasi di kawasan pegunungan Kendeng, Jawa Timur. Ya seperti yang sudah saya bahas di atas, kawasan pegunungan tersebut menjadi korban pengalihan lahan menjadi pabrik semen. Ini yang mendasari para petani dari daerah tersebut untuk protes ke depan istana langsung untuk meminta keadilan kepada orang nomor satu negara kita ini.

Aksi tersebut memang tidak seramai aksi 411, 212,  021, 022, dsb. Mereka tidak meminta untuk memberhentikan pejabat publik, mereka tidak menuntut menurunkan harga bbm, mereka hanya menuntut pencabutan izin operasional dari pabrik semen agar mereka bisa kembali bekerja, kembali mencari nafkah untuk memberi makan keluarga dan menyekolahkan anaknya. Massa mereka memang tidak banyak, hanya 50 orang, tapi apa benar mitos di negara ini, lebih banyak massa, lebih di dengar oleh pemerintah?

Saya ingin mengenalkan seorang Ibu paruh baya kepada kalian. Namanya Ibu Patmi, usianya sudah menginjak 48 tahun. Ibu Patmi merupakan salah satu dari sekian petani yang melakukan aksi semen kaki di depan Istana Presiden. Ibu ini meninggal pada tanggal 21 Maret lalu akibat serangan jantung, setelah menyudahi aksinya di depan Istana Presiden dan berencana kembali pulang ke kampungnya.

Mereka ini yang seharusnya mendapat pembelaan, dukungan massa dan moril dari kita. Suara mereka yang seharusnya lebih di dengar oleh pejabat. Masyarakat terlalu sibuk membela tokoh politik idola mereka, turun kejalan, menyakiti, mencaci, membela yang tidak perlu dibela.

Bagaimana jika energy yang keluar untuk membela tokoh politik dialihkan untuk mendukung golongan Rakyat Jelantah didengar aspirasinya? Bagaimana ratusan ribu massa yang turun ke jalan membela suara Rakyat Jelantah? Saya rasa akan lebih indah bangsa ini jika rakyatnya kritis terhadap pemerintahan, mendukung saudara kita yang ditindas karena pejabat yang seenaknya. Bukan membela pejabat sampai berkelahi dengan sesama rakyat. Ingat mereka tidak bertengkar ketika membahas kepentingan kita. Mereka tidak se-ekstrim kita yang membela mereka ketika berdebat di dunia maya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x