Rahmatul Ummah As Saury
Rahmatul Ummah As Saury wiraswasta

Ingin menikmati kebebasan yang damai dan menyejukkan, keberagaman yang indah, mendamba komunitas yang tak melulu mencari kesalahan, tapi selalu bahu membahu untuk saling menunjuki kebenaran yang sejuk dan aman untuk berteduh semua orang..

Selanjutnya

Tutup

Muda

Ketika Mahasiswa Tak Punya Masa Depan

24 November 2017   04:52 Diperbarui: 24 November 2017   06:07 273 0 0

Suram. Begitulah setidaknya tanggapan kita hari ini, melihat masa depan mahasiswa. Di tambah lagi dengan semakin panjangnya deretan sarjana yang menganggur.

Mereka yang tak berbaju gengsi, rela menggelar lapak di ruang-ruang publik sebagai penjual jagung bakar, gorengan atau es kelapa muda, tanpa terbebani dengan gelar kesarjanaan, tetapi bagi mereka yang setia memeluk gengsi, setiap hari akan menenteng map berisi ijazah, membaca lowongan kerja di koran-koran, dan bolak-balik kantor pos mengirim surat lamaran kerja, menunggu balasan, sembari setia menjadi parasit yang menumpang makan kepada orang tua.

Saya sebenarnya tidak kaget, melihat banyaknya sarjana seperti itu. Toh, ketika menjadi mahasiswa mereka adalah gerombolan yang datang ke kampus, masuk kelas mendengarkan dosen ceramah, entah mengerti atau tidak, ketika ujian nyontek dan ketika mengerjakan tugas akhirnya, tak segan membayar atau sekadar mengganti nama obyek dan lokasi penelitiannya (copy paste), jadilah skripsi yang menunggu nasib baiknya dihargai 3 ribu perkilo.

Mereka ini jumlahnya tak sedikit. Mereka memiliki kebiasaan berlama-lama di depan cermin, mematut-matutkan penampilan, dan enggan berlama-lama di perpustakaan kampus untuk memantaskan diri sebagai mahasiswa. Kebiasaan mereka yang lain adalah menulis dan memoles alis mata, tanpa mereka sama sekali tak biasa menulis ide dan gagasannya. Mereka lebih sering berkunjung dan nongkrong di cafe, atau minimal di kantin kampus daripada mengunjungi toko buku.

Para mahasiswa ini kebanyakan juga bukan berasal dari kelas menengah ke atas, mereka berasal dari keluarga menengah ke bawah, pekerjaan orang tuanya ada yang pedagang, petani dan sebagian pegawai negeri, yang separuh gajinya telah digadaikan di bank. Namun, penampilannya seperti kelas borjuasi yang menang judi, menebar wangi dan berpakaian seksi dan trendi, tema obrolannnya tentang film-film terbaru yang sedang tayang di bioskop, jarang sekali mereka membicangkan tema harga singkong yang anjlok dan pasar tradisional yang lesu, apalagi mau membahas serius soal penggusuran PKL, tutupnya warung-warung kecil dan maraknya pertumbuhan usaha-usaha ritel di kota ini.

Begitulah gambaran fakta kehidupan mahasiswa di banyak tempat, termasuk di kota ini, Kota Metro, hingga hari ini. Lebih miris lagi, di sebuah kampus Islam, saya menemukan mahasiswa yang masih terbata-bata mengeja surah al Fatihah, tak mengerti terjemahnya bahkan ketika disuruh menyebutkan nama surah-surah pendek, pun tak bisa, semisal al Kautsar, al Ikhlas dan seterusnya, dan ironisnya lagi mahasiswa-mahasiswa itu mengaku sebagai aktifis organisasi Islam.

Fenomena ini riil, bukan drama apalagi fitnah. Tak percaya, silahkan datang dan tentukan samplenya secara acak.

Jadi, saya akhirnya maklum, kenapa gerakan mahasiswa melempem dan kehilangan gairah di kota yang mengafirmasi diri sebagai kota pendidikan ini. Ini bukan soal dunia mahasiswa yang tidak lagi memiliki kepekaan sosial, bukan soal bergesernya peran mahasiswa sebagai kontrol sosial dan agen perubahan, melainkan soal mahasiswa yang memang tidak memiliki kapatutan menjadi mahasiswa, mereka hanyalah segerombolan anak-anak yang telah menyelesaikan sekolah menengah atas, tak siap menganggur kemudian terpaksa (menyamar) menjadi mahasiswa untuk menunda status sebagai pengangguran.

Maka, jikapun mereka aktif berorganisasi, hal itu bukanlah dalam rangka untuk mengembangkan diri, mengonsolidasikan kekuataan mahasiswa untuk kritis terhadap kekuasaan yang menyimpang, membangun jaringan, belajar kepemimpinan, apalagi sampai berinisiatif untuk mengadvokasi isu-isu kerakyatan, melainkan sekedar belajar membuat proposal, mencari sponsor dan sumber dana untuk mencari uang rokok berkedok kegiatan seminar dan pelatihan.

Meski mereka ini aktifis yang aktif, mereka jarang bahkan tak pernah membaca buku, apalagi hadir di forum-forum diskusi ilmiah. Mereka biasanya akan tampil di acara-acara serimonial yang banyak menghadirkan pejabat, mereka berkenalan dan meminta nomor kontak pejabat yang datang, kemudian beberapa bulan berikutnya mereka akan datang bersama proposal kegiatannya.

Menyedihkan? Tentu saja tidak, karena mereka akan mendapati masa depannya sesuai amal perbuatannya, menjadi pengangguran yang (tidak) terdidik, suatu saat kelak. Menjadi sampah masyarakat!