Mohon tunggu...
Rahmat Hadi
Rahmat Hadi Mohon Tunggu... karyawan swasta -

@rahmathadi

Selanjutnya

Tutup

Travel Story

Pulau Onrust, Serpihan Sejarah Bangsa yang Nyaris Terlupakan di Teluk Jakarta

27 Oktober 2015   11:07 Diperbarui: 27 Oktober 2015   11:20 352
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ingin tahu rasanya berada di lubang bawah tanah yang dibangun di abad ke 17 yang rada-rada spooky di Pulau Onrust? Ikuti kisahnya…

Salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu ini menyimpan banyak catatan sejarah dan menjadi saksi sejarah dalam perjalanan bangsa dan negeri tercinta ini. Sejarah masa lalu yang menggambarkan pedihnya nasib para pendahulu di jaman penjajahan yang bisa menjadi pelajaran berharga dalam mensyukuri kemerdekaan yang telah kita miliki selama lebih dari 70 tahun. Begitulah kesan pertama yang ada di  pikiranku sejak pertama menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di pulau seluas 12 Ha ini setelah menempuh perjalanan selama 15 menit dengan kapal kayu dari Pulau Bidadari.

Sebuah papan nama dan prasasti menyambut kedatanganku bersama 19 orang Kompasianer terpilih mengikuti Blog Trip Pesona Bahari yang diadakan oleh Kompasiana dan Kementerian Pariwisata Indonesia yang  ikut serta menjelajahi setiap sudut pulau Onrust yang terlihat sangat eksotis dan memiliki pesona magis.

Penjelajahan di mulai dengan mengunjungi museum yang letaknya tak jauh dari dermaga. Museum itu menyimpan artefak sekaligus saksi sejarah yang menggambarkan kehidupan masa lalu di Pulau Onrust. Mulai dari peralatan maritim seperti baut, mur, jangkar hingga ke peralatan kapal.  Museum ini juga menyimpan alat-alat rumah tangga berupa pecahan piring, gelas, pot bunga yang semuanya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Tak heran karena sebelum masa penjajahan pulau ini pernah dimanfaatkan sebagai tempat tetirah raja-raja Banten hingga akhirnya di ambil alih oleh pemerintah Belanda yang sempat memfungsikan pulau ini sebagai benteng pertahanan, penjara sekaligus tempat eksekusi pemberontak,  juga pernah di fungsikan sebagai tempat karantina Jemaah haji di tahun 1911 - 1933. Jemaah haji yang tiba dari tanah suci harus terlebih dahulu di karantina sebelum memasuki Batavia dan ditampung di barak-barak penampungan. Hal itu bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh Jemaah haji yang baru tiba tidak sedang terjangkit penyakit menular yang saat itu sedang mewabah.

Selain peralatan maritim dan perlengkapan rumah tangga, beberapa onggokan batu bata yang ada di sudut salah satu ruangan museum sempat menarik perhatianku. Aku menanyakan hal itu kepada bapak Candrian Attahiyat, anggota Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta yang mendampingi kami menjelaskan bahwa onggokan batu bata itu adalah pemberat di kapal-kapal VOC yang datang dari Belanda dalam keadaan kosong dan akan menyimpan batu bata itu lalu mengisi kapalnya dengan hasil bumi dari Indonesia untuk diangkut ke negeri kincir angin itu.  Jadi batu bata itu berasal dari Belanda!

Selain artefak, museum ini juga menyimpan 2 miniatur lay out pulau Onrust jaman dulu. Sebuah miniatur menggambarkan tata letak Pulau di saat pertama kali di bangun Belanda dan miniatur ke-2 menggambarkan tata letak pulau saat di gunakan sebagai tempat karantina Jamaah haji. Dari miniatur itu terlihat betapa pemerintah Belanda telah melakukan penataan yang sangat rapih. Bangunan berjejer dalam bentuk blok-blok serta beberapa bangunan penunjang juga di buat termasuk rumah sakit, perumahan, benteng dan kincir angin.

Foto-foto klasik yang menggambarkan hal-hal yang pernah terjadi saat pulau ini difungsikan sebagai  karantina haji terpasang di beberapa dinding museum, diantaranya foto kunjungan salah satu pejabat Belanda di masa itu, foto saat jemaah haji tiba di pulau yang pernah di luluh lantakkan oleh letusan Gunung Krakatau ini. Saat sedang asyik menikmati beberapa foto, tiba-tiba mataku tertuju pada salah satu foto yang menggambarkan situasi Jemaah Haji yang tinggal di barak-barak penampungan. Ekspresi mereka tak ubahnya seperti pesakitan yang di jebloskan ke penjara, dibatasi pagar kawat berduri dan pintu baja.  Seorang dengan pakaian tentara Belanda terlihat ada di tengah-tengah mereka.  Aku membayangkan situasi pada saat itu. Betapa menderitanya menjadi bangsa terjajah. Betapa tersiksanya para pendahulu bangsa ini. Bahkan untuk menjalankan ibadah haji pun seorang warga pribumi diperlakukan mirip  tahanan. Sesaat hadir rasa geram membayangkan nasib pendahulu dan nenek moyang kita di masa penjajahan yang pernah di lakukan selama 350 tahun oleh Bangsa Belanda.

Jejak-jejak kehidupan masa lalu di Pulau yang dulunya bernama Pulau Kapal ini juga terlihat dari reruntuhan bangunan yang menyisakan puing-puing yang saat ini nyaris rata dengan tanah. Beberapa bangunan dengan fungsinya hanya bisa dikenali dari papan informasi yang tertancap di beberapa titik diantaranya barak jemaah haji, rumah sakit, tempat cuci umum, dan tempat penampungan air bawah tanah.

Penampungan air bawah tanah yang dibangun di abad 17 berkapasitas 50.000 liter ini sangat menarik. Menurut pak Candrian, tempat penampungan dengan dinding setinggi 2 meter itu memiliki 8 kamar yang saling tembus satu sama lain.  Aku berasumsi bahwa selain sebagai tempat penampungan air, tempat itu mungkin pernah juga di fungsikan sebagai tempat perlindungan atau bunker. Karena penasaran, aku menerima tantangan Pak Candrian untuk turun ke bawah melewati sebuah lubang kecil yang merupakan akses masuk. Aku hanya bisa turun hingga ke pintu lubang karena setelah melihat ke dalam, tempat gelap itu terisi air. Saat menengok ke dalam, aku mencium bau yang sempat membuat bulu kudukku berdiri. Nuansa spooky sangat terasa di bangunan yang sudah berumur lebih dari 300 tahun itu.  Karena tidak bisa masuk ke dalam, Aku hanya bisa mengambil gambar dari luar.

Selain puing-puing bangunan yang pernah di fungsikan sebagai tempat karantina haji, pulau itu juga menyimpan situs bersejarah, pemakaman.  Terdapat 40 makam Orang Belanda maupun Indonesia terdapat di Pulau Onrust. Konon banyak Orang Belanda meninggal karena endemic penyakit malaria dan penyakit menular lainnya. Hampir sebagian besar makam-makam itu sudah rusak. Meski sebuah pagar sudah dibangun sebagai pembatas, namun siapapun bisa masuk ke dalam area itu tanpa pengawasan. Makam pendahulu kita yang Orang Indonesia terletak bersebelahan nampak masih terawat. Sebuah bangunan makam yang terlihat berpagar dan didalamnya ada bendera merah putih konon adalah makam Imam Kartosuwiryo, tokoh yang dieksekusi mati di salah satu pulau di Kepulauan Seribu tahun 1962 karena sepak terjangnya berbeda haluan dengan ideologi pemerintah RI saat itu. 

Usai mengeksplor Pulau Onrust yang sarat dengan sejarah, dalam perjalanan kembali ke kapal aku sempat terpikir betapa berharganya andai pulau ini masih bertahan seperti bentuk aslinya. Meskipun sudah berulang kali mengalami penghancuran karena peperangan dan bencana alam namun Pemerintah Belanda saat itu mampu membangun kembali bahkan membuatnya berfungsi. Meski saat ini sudah di tetapkan sebagai salah satu cagar budaya di DKI Jakarta, masyarakat penikmat sejarah bangsa belum mengetahui akan di buat seperti apa pulau yang hanya berjarak sejauh 12 km dari Jakarta ini. Aku membayangkan andai pulau ini bisa di bangun kembali mengikuti bentuk aslinya dan dijadikan objek wisata yang dikelola dengan baik, bukan hal yang tidak mungkin hal itu bisa menjadi sebuah sumber devisa bagi negara seperti penjara Alcatraz yang ada di Teluk San Fransisco, Amerika.  Selain menjadi objek wisata, pulau kecil dengan penjara terkejam yang pernah ada dalam sejarah dunia itu bahkan pernah diangkat ke layar lebar Hollywood. Banyak hal dan cerita menarik di Pulau Onrust yang bisa diangkat ke layar lebar dan pastinya akan membuat orang-orang kita lebih mengenal sejarah besar dan kekayaan tak ternilai yang dimiliki bangsa. Tahukah anda bahwa James Cook, Petualang Inggris penemu Benua Australia pernah singgah di pulau ini selama 8 hari  usai berlayar dari Australia untuk memperbaiki kapalnya di galangan kapal yang ada di Pulau ini?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun