Mohon tunggu...
Ragile (Agil)
Ragile (Agil) Mohon Tunggu... Administrasi - seorang ayah yang kutu buku dan pecinta damai antar ras, agama, dan keyakinan

"Tidak penting SIAPA yg menulis, yg penting APA yg ditulis" (Ragile 2009). Pendiri #PlanetKenthir. Pro #Gusdurian. Lahir: 1960. Kuliah Sastra Inggris. Gawe Software Komputer ; Keuangan. Nama: Agil Abdullah Albatati (Engkong Ragile). FB: Agil Abd Albatati. Twitter: @KongRagile. Alamat: Kemang Jakarta Selatan

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Ketawa dan Menangis Veteran Amerika bila Menyimak TV-ONE dan Tribunnews

21 Februari 2012   08:01 Diperbarui: 25 Juni 2015   19:23 3368
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bulutangkis. Sumber ilustrasi: PEXELS/Vladislav Vasnetsov

Dr.Kevin Barret dan kawan-kawan veteran Amerika tak cuma tajam mengorek kebiadaban pemerintah yang telah menumpahkan darah rakyat sendiri. Tapi juga punya selera humor ketika menyingkap kebohongan pemerintah. Kevin Barret tak sungkan meluncurkan artikel sembari menertawakan kebohongan Pentagon (Departemen Pertahanan Amerika) mengenai serangan bunuh diri dengan pesawat terbang ke markas Pentagon pada 11-09-2001.


Baru-baru ini melalui postingan berjudul "9/11 Laugh Riot?" Kevin Barret menempeli gambar ilustrasi yang jenaka. Namun pembaca pun memahami betapa dia sesungguhnya sangat prihatin dan sedih hati. Karena rakyat Amerika jadi tumbal untuk apa yang resminya dinamakan "Serangan teroris 19 September 2001" atau "9/11". Sebuah skandal rekayasa Amerika-Israel dengan tumbal 3000 nyawa warga Amerika. Sebuah akal bulus agar punya alasan untuk memulai perang ke seluruh negeri Muslim. Demikian kesaksian Kevin Barret, juga kawan-kawannya di Veterans Today.


Siasat "false flag attack" semacam itu sudah jadi Rahasia umum, sudah diakui di dunia akademis ahli sejarah. Yang berbuat diri sendiri, yang disalahkan orang lain. Dan itu bukan pertama kali. Tahun 1941 Amerika merancang serangan Jepang ke Pearl Harbour. Ratusan Tentara Amerika dijadikan tumbal demi ikut Perang. Lalu menjatuhkan bom atom di Hirosima & Nagasaki.


Bagaimana Indonesia?


Kevin Barret dan kawan-kawan di Veterans Today pastinya terbahak-bahak sambil menangis sedih bila nonton prilaku kaum intelek dan pejabat Indonesia. Inilah Indonesia, salah satu korban operasi rahasia Amerika untuk menciptakan cheos agar punya alasan untuk intervensi. Khususnya guna melenyapkan atau membunuh siapa saja yang menghalangi agenda PENJAJAHAN AMERIKA aka ZIONIS: NEW WORLD ORDER.


Ambilah contoh berikut ini:


1) TV-One. Sangat sering membahas talk show tentang terorisme. Menyedihkan! Hampir semua nara sumber menyalahakan publik dan kelompok yang diberitakan tertangkap tangan. Tanpa pernah menelusuri siapa yang mendalangi semua itu. Apakah mereka tidak tahu bahwa agenda "War on Terror" adalah strategi global Amerika untuk menjajah dunia? Apakah tidak tahu bahwa 97 negara sudah diplot sejak 2002 agar tidak stabil melalu operasi rahasia? Apakah tidak tahu penyusupan inteligen asing melalui "covert operation" dengan kaki tangan domestik? Apakah tidak tahu pelaku di lapangan cuma orang-orang bodoh yang dilatih dan diorganisir untuk menciptakan kerusuhan?


Mungkin TV-ONE dan narasumber tidak sadar dijadikan "cheerleaders" bagi penistaan dan pembantaian ( tumbal ratusan nyawa ) demi melayani kepentingan asing. Menjadi penyambung lidah media massa asing yang menyesatkan publik bahwa negara dalam keadaan gawat.


Veteran Amerika tentu akan tertawa terbahak-bahak sambil mengucurkan air mata sedih. Betapa sedihnya, pemirsa TV-One yang jadi korban kebiadaban kekuatan asing malah dibohongi seakan Indonesia sarang teroris. Veteran Amerika tau bahwa agen Zionis-Amerika dkk yang menciptakan, melatih, mendanai teroris. Ingat Bush dan Osama partner lama.


2) Tribunenews, 11-10-2011 mengutip pernyataan Khofifah Indar Parawangsa, Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama (NU): ibu-ibu perlu menangkal radikalisme dan terorisme. Kedengarnya manis dan bijak. Namun hakekatnya Khofifah gelap mata, sama dengan tokoh lain, hanya menyalahkan pelaku di lapangan lalu tutup mata siapa dalang di belakang terorisme.


Ingatlah apa kata Gus Dur tentang insiden Bom Bali, "inside job". Ingatlah kata Mentri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton baru-baru ini bahwa perlu referendum Papua karena terjadi tindak kekerasan. Ingatlah di Papua korporasi asing menggenggam raksasa Freeport melalui Jimmy Carter, Henry Kissinger, Rio Tinto-Rothchilds.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun