Radivadilla
Radivadilla Pejuang Sarjana Sastra

Mahasiswa Sastra Jepang yang tidak bisa bahasa Jepang. Senang menulis apapun kecuali skripsi. Kritik dan saran, silakan layangkan e-mail ke : radivadilla@gmail.con

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Perlukah Apresiasi Berlebihan pada Atlet Indonesia?

4 September 2018   18:27 Diperbarui: 4 September 2018   19:07 633 1 0
Perlukah Apresiasi Berlebihan pada Atlet Indonesia?
tribunnews.com

Ajang olahraga terbesar se-Asia, Asian Games ke-18 telah berakhir pada tanggal 2 September 2018 lalu. Antusiasme para atlet, panitia penyelenggara dan masyarakat membuat Asian Games 2018 terasa semakin meriah dan spektakuler. 40 cabang olahraga telah dipertandingkan dan ada 45 negara yang berpartisipasi memperebutkan medali.

Sebagai tuan rumah, Indonesia menunjukkan dominasi prestasinya di kalangan negara-negara Asia Tenggara. Dengan total 98 medali yang terdiri dari 31 medali emas, 24 medali perak dan 43 medali perunggu, Indonesia menduduki posisi keempat di bawah China, Jepang dan Korea Selatan. Asian Games 2018 merupakan pencapaian terbesar Indonesia dalam sejarah. Pencapaian terbesar Indonesia sebelumnya yaitu pada Asian Games ke-4 pada tahun 1962 di Jakarta.

Ucapan terima kasih dan apresiasi masyarakat beserta kepala pemerintahan telah menyebar luas untuk menjunjung keberadaan atlet yang menyumbangkan medali bagi Indonesia. Sebut saja Hanifan, atlet pencak silat peraih emas yang namanya melejit akibat aksinya merangkul dua pejabat negara dari kubu yang berbeda.

Atau pebulu tangkis Jonatan Christie yang semakin terkenal setelah melakukan selebrasi membuka baju setelah memastikan medali emas di partai final bulu tangkis tunggal putra. Asian Games 2018 boleh saja masih meninggalkan kesan, masyarakat boleh saja merasa bangga pada pahlawan olah raga yang berjaya. Namun apakah sesuatu yang berlebihan tersebut pantas dilakukan?

tribunnews.com
tribunnews.com
Hampir setiap hari berbagai macam pemberitaan mengenai prestasi atlet-atlet Indonesia bermunculan di media internet dan penyiaran. Mulanya pihak mereka akan mempublikasikan prestasi para atlet sebelumnya, tentang latihan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, tentang kejuaraan yang pernah diikuti.

Lalu, kabar lain di luar hubungan dengan prestasi pun bermunculan. Sebut saja hubungan antara dua pesilat pasutri peraih medali emas Iqbal dan Sarah yang baru menikah bulan Maret lalu, juga hubungan Hanifan dan Pipit yang baru bertunangan paska keduanya memenangkan medali emas di cabor pencak silat. Bahkan kehidupan atlet sepak takraw kembar Lena dan Leni yang diberitakan sebagai bekas pemulung dan buruh cuci.

Pertanyaannya, apakah semua pemberitaan tersebut merupakan apresiasi yang layak untuk para atlet kita?

Jawabannya dapat kita lihat lewat prestasi Lalu Muhammad Zohri, pelari muda dari Indonesia yang memenangi Kejuaraan Dunia Atletik Junior 100 meter di Finlandia. Mulanya, nama Lalu Muhammad Zohri tidaklah dikenal. Setelah kabar tentang kemenangannya di Finlandia merebak di internet, media berlomba-lomba mengorek informasi mengenai pelari 18 tahun tersebut.

Mereka menyebutkan Zohri tinggal di rumah yang tidak layak huni di Lombok, sekolahnya tidak lulus dan berbagai macam pemberitaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan prestasi Zohri. Beberapa pengamat telah mengkhawatirkan pemberitaan ini. Apakah tidak terlalu berlebihan menguak privasi atlet yang sebenarnya hanya cukup dikenal namanya saja? Bukan malah latar belakang kehidupan, keluarga dan percintaan.

Kekhawatiran itu terbukti pada Asian Games 2018. Semua masyarakat berkumpul, menantikan aksi Zohri mengukir prestasi untuk kedua kalinya. Tentu saja masyarakat Indonesia berharap banyak dengan Zohri, bahkan beberapa di antara mereka pasti sudah terlalu yakin kalau pelari 18 tahun itu akan memenangi pertandingan karena sebelumnya sudah mendapat predikat juara dunia.

Tapi apa yang terjadi? Zohri hanya mampu finis di peringkat ketujuh. Mungkin banyak yang berpikir itu dikarenakan dalam sebuah pertandingan menang kalah adalah hal yang lumrah terjadi. Tapi tidakkah Anda berpikir bahwa kekalahan Zohri juga dikarenakan pemberitaan media yang terlalu berlebihan?

Asian Games 2018 baru saja berakhir. Namun perayaan kemenangan masih berlanjut. Para atlet diberi bonus, jabatan PNS, rumah, motor dan lain sebagainya. Mereka juga dipanggil ke stasiun televisi satu ke stasiun televisi yang lain. Mulanya diwawancarai mengenai prestasi dan perasaannya setelah memenangkan medali.

Selanjutnya akan mulai ditanya mengenai hubungan percintaan, tentang latar belakang keluarga, tentang isu-isu yang beredar di internet dan semua pertanyaan yang lebih pantas ditanyakan kepada artis daripada kepada atlet. Kita belum bisa melihat bagaimana keadaan para atlet selanjutnya setelah mengalami over exposed di berbagai macam media. Apakah mereka akan tetap berprestasi? Ataukah mereka justru merasa tertekan?

Satu hal lagi yang akan merugikan para atlet adalah apabila di pertandingan berikutnya mereka gagal. Orang-orang yang terlalu memuja dan mendewakan para atlet akan kecewa. Jika rasa kecewa mereka ada untuk mendukung atlet tersebut akan lebih baik. Namun bagaimana bila kekecewaan mereka justru menjatuhkan para atlet dengan komentar negatif?

Singkatnya, pemberitaan yang terlalu berlebihan juga akan berdampak pada tekanan mental dan rasa percaya diri atlet tersebut. Mereka akan takut gagal, takut dibenci oleh bangsa yang ia bela sendiri.

Jadi, berbijaklah dalam mengapresiasi prestasi para atlet Indonesia. Mereka menukar hidup normalnya dengan berlatih bertahun-tahun, menunjukkan pada dunia tentang keberadaan bangsa Indonesia melalui prestasi. Mereka hanya ingin dikenal karena prestasi, bukan karena siapa pacarnya dan bagaimana kondisi rumahnya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi refleksi ke depannya.