Mohon tunggu...
Radityo
Radityo Mohon Tunggu... Cuma manusia biasa, banyak salahnya. Gimana donk?

Lewat 7 tahun lebih tinggal di Singapura. Banyak pelajaran, masih banyak juga yang harus dipelajari dari negeri yang disebut titik merah di peta oleh Habibie.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Prediksi Puncak Pandemi COVID-19 Indonesia Pertengahan April Bakal Meleset

7 April 2020   11:46 Diperbarui: 7 April 2020   12:16 108 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Prediksi Puncak Pandemi COVID-19 Indonesia Pertengahan April Bakal Meleset
Droplets (By James Gathany - CDC Public Health Image library ID 11162, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=6701700)

Akhir-akhir ini banyak berita di media Indonesia yang menyatakan tentang puncak pandemi COVID-19 di bulan April, bahkan "dibumbui" dengan pendapat para pakar dan kalangan akademis. Saya - bukan pakar virologi dan model matematis - tidak begitu mudahnya percaya pendapat bahwa puncak pandemi COVID-19 di Indonesia bakal terjadi di pertengahan bulan ini, April 2020.

Pertama, kita perlu lihat fakta bahwa sebagian besar gejala dari penularan virus ini berada dalam kategori ringan (mild). Dan masa inkubasi virus yang dinamai WHO sebagai SARS-nCov-2 ini adalah 14 hari dan ini cukup panjang untuk virus tersebut bisa ditularkan ke orang lain tanpa gejala apapun. 

Satu contoh misalkan tanpa kalian sadari, virus tersebut menempel di tangan dan kalian lupa cuci tangan meskipun sudah pakai masker. Kalian kemudian pulang ke rumah lalu lepas masker, virus menempel di telinga atau pipi dan akhirnya masuk melalui saluran pernafasan. Hari itu juga, kalian tidak serta merta langsung flu, tenggorokan kering, batuk, atau yang lebih parah adalah demam dan susah nafas.

Sebagai reaksi normal, tubuh kita akan mencari tahu jenis gen dari virus tersebut apakah "sudah pernah mengunjungi" tubuh kita sebelumnya atau tidak. Kalau tidak, tubuh akan butuh waktu untuk menciptakan antibodi untuk virus tersebut dan ini proses normal di dalam tubuh kita. 

Jika jumlah virus terlalu banyak untuk ditangani, maka virus ini mampu menduplikasi diri di dalam tubuh kita dan masuk ke area tenggorokan, hingga akhirnya menuju ke paru-paru. Tidak ada reaksi tubuh di awal-awal kalian terinfeksi, dan kalian berpotensi menyebarkan virus ini ketika kalian berinteraksi dengan orang lain dan merasa masih sehat-sehat saja. Reaksi umum berikutnya biasanya akan diawali dengan batuk kering ringan dalam seminggu pertama, hingga pada tahap infeksi paling parah adalah memarnya bagian kecil di paru-paru yang dinamakan alveoli

Jika alveoli memar/memerah, reaksi normal sel adalah mengeluarkan cairan hingga menutup sebagian paru-paru. Ini yang menyebabkan sebagian orang merasa nafasnya berat atau mudah capek / pegal-pegal. Dan masa sejak kalian terinfeksi virus ini pertama kali hingga ke tahap hingga tubuh berada di persimpangan jalan antara harus dirawat di rumah sakit atau benar-benar sembuh dengan sendirinya, adalah 14 hari.

Dan sebaliknya jika virus "sudah pernah mengunjungi" tubuh kita dan tubuh kita punya antibodi untuk melawan, menurut studi akan butuh waktu lebih cepat secepat 24 jam untuk tubuh kita melawan kembali virus tersebut. Alasannya ya tubuh kita sudah punya "rekaman data" tentang virus yang menyebabkan penyakit COVID-19 ini. Itu sebabnya di China meskipun belum teruji secara klinis, pasien-pasien yang sudah pernah sembuh diminta untuk melakukan donor darah untuk diambil plasmanya. Plasma tersebut menurut ahli mengandung antibodi virus COVID-19.

Kedua, faktor budaya. Virus penyebab COVID-19 ini sejarahnya muncul sejak bulan Oktober 2019, yang beberapa waktu lalu - jika kalian mengamati berita internasional di luar negeri - ramai berita tentang siapakah pasien nol (0). Tetapi, sejak Oktober 2019 hingga awal Januari 2020 selama 3 bulan lebih sama sekali tidak ada berita besar mengenai virus ini. 

Hingga polisi China menganggap bahwa ini berita bohong dan penyebarnya patut dihukum karena hoax. Masih ingat Dr. Li Wenliang (almarhum) yang berusaha memperingatkan publik tentang munculnya virus ini? Dr. Li memperingatkan tentang adanya virus ini yang bisa menyebar dengan mudahnya, hingga biro keamanan publik China mendatangi Dr. Li dan meminta dia tidak menyebarkan informasi palsu hingga akhirnya menandatangani surat pernyataan.

Dr. Li Wenliang (By Source, Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=63046734)
Dr. Li Wenliang (By Source, Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=63046734)
Tetapi, kenapa Januari 2020 hingga Februari virusnya langsung "meledak" di seantero China? Jawabannya adalah budaya, dimana China merayakan tahun China dan banyak orang pulang kampung kemudian tanpa disadari menyebarkan ke keluarga dekatnya atau saudaranya. Masa inkubasi 14 hari ditambah dengan adat pulang kampung ketika tahun baru ini cukup ampuh untuk membuat jutaan penduduk China terpapar virus ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x