Rachmah Dewi
Rachmah Dewi Content Author

DEW | Books Author | Content Writer | I'm write based on my experience | Email: dhewieyess75@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Hidup di Zaman yang Dinilai dari Tanda “Love” di Media Sosial

5 Oktober 2016   12:52 Diperbarui: 5 Oktober 2016   21:00 333 3 0
Hidup di Zaman yang Dinilai dari Tanda “Love” di Media Sosial
Sumber gambar: www.suara.com

Zaman sekarang ini, semua pasti sepakat kalau kemajuan teknologi mampu mengubah segalanya. Kenapa saya bilang segalanya? Karena zaman sekarang, zaman yang bernama zaman digital ini, semua terasa dibuat simple dan mudah hanya sebatas lewat genggaman dan sentuhan jari lewat smartphone atau tablet.

Manusia berlomba-lomba membeli gadget terbaru dan termahal, guna sebagai tolok ukur keberhasilan dalam sebuah hidupnya. Banyak di sekitar saya, orang-orang yang selalu membeli gadgetkeluaran terbaru demi suatu nilai prestige dalam hidupnya.

Dalam bahasan artikel kali ini, saya bukan mau membahas tentang apa-apa saja gadget terbaru yang sekarang ini sedang happening, berapa harganya, apa spesifikasinya. Sama sekali bukan! Tapi yang mau saya bahas di artikel saya adalah tentang penggunaan sosial media kekinian seperti path dan instagram yang memengaruhi persahabatan. Lha, kok bisa? Gimana ceritanya?

Jadi, saya baru saja melakukan riset kecil-kecilan. Sederhananya di kalangan teman-teman terdekat saya. Saya mengajukan pertanyaan “Eh, mau nanya deh. Buat lo, memutuskan untuk memberikan vote di postingan path temen lo itu (entah itu berupa tanda love, gasped, frowned, atau laughed) itu karena apa sih alasan nya? Dan jawaban nya beragam, salah satu dari mereka bilang: karena postingan nya bagus, bermanfaat, bikin ketawa, dan ada beberapa lain nya yang jawab: “karena dia sahabat gue banget dari SMA, ya masa’ gue gak ngasih respon apa-apaan. Biarpun postingan nya gak bagus-bagus banget, ya gue kasih vote deh soalnya kan gue best friend-nya dia banget.”

Oke jadi zaman sekarang, persahabatan pun dinilai hanya dari sebatas ngasih vote di path ya? Batin saya. Hal itupun berlaku untuk kasus posting foto di instagram. Lagi-lagi jawaban nya sama “ya karena di sahabat gue lah, makanya gue liked fotonya.” Lagi-lagi balik saya berucap dalam hati, oh jadi ukuran peersahabatan zaman sekarang dilihat hanya berdasarkan itu ya?

Kemudian, saya sempat nanya lagi, ke teman-teman di sekitar saya: “Terus, misalnya lo berteman sama orang di path nih, tapi kenapa setiap temen lo posting, lo gak memberikan vote apapun alias Cuma lo seen aja? Padahal dia juga temen lo kan?” saya bertanya demikian. Kemudian jawaban nya juga bermacam-macam, “ya karena postingan nya kurang seru, kurang lucu, kurang asyik ya jadi gue Cuma nge-seen aja kalo dia posting di path.”

Beberapa berkata demikian. Ada juga yang bilang “gue iri sama dia, apa-apa selalu beli barang baru terus di post di path, terus sukanya jalan-jalan mulu, kulineran mulu, terus selalu pamer sana-sini jadi ya gue males sih berikan vote buat postingan path-nya dia. Jadi ya gue cuma nge-seen saja.” terus saya tanya balik “lha, kalau lo gak suka sama postingan-nya dia, kenapa lo gak unshared saja path-nya? Kan timeline lo jadi ‘bersih’ tanpa postingan-nya dia. Kemudian jawaban nya “ya, gak enak juga sih kalo di unshared, kan dia kenal gue, gue kenal dia walaupun gak deket.” Dan yang terakhir ada juga yang ngejawab begini “ya karena dia mantan gue, orang yang pernah nyakitin gue, jadi ya gue males banget mau nge-voted postingan-nya dia, ngasih liked di instagram-nya.” Oh jadi ada masalah pribadi juga ya yang menyangkutpautkannya! hehehe

Mendengar opini yang berbeda-beda di atas, adakah yang salah? Jawabannya: tidak. Semua benar dan saya pun tidak menyalahkan jawaban dari masing-masing teman-teman saya tersebut. Sosial media adalah ruang bagi semua orang untuk mengapresiasikan diri. Semua berhak kok mau comment, memberikan liked, memberikan voted, dan sebagainya. Ya kalau gak mau ngelihat postingan orang-orang di sekitar, simple saja: jangan punya akun media sosial. Jangan punya kehidupan di dunia maya.

Contoh postingan di path | Sumber: www.ardilas.com
Contoh postingan di path | Sumber: www.ardilas.com
Namun, ada baiknya, kalau memerhatikan etika-etika yang ada dalam media sosial. Seperti:

1. Jangan posting kata yang tidak bermanfaat di Path atau Instagram

Untuk kasus ini, saya banyak sekali menemukan khususnya di timeline path saya. Di mana ada salah seorang teman saya yang memposting kata-kata yang isinya: keluhan, kegalauan (soal percintaaan), atau cacian. Saya tidak tahu tujuan nya apa orang tersebut memposting kata-kata demikian, mungkin bisa jadi menarik perhatian teman-teman nya agar memberikan vote di postingan path-nya tersebut. Karena ada, bagi sebagian orang life goals-nya adalah: mendapatkan banyak vote serta comment di postingan nya tersebut.

2. Jangan sering-sering posting foto selfie di Path

Untuk yang kedua ini, biasanya saya banyak menemukan kasus pada teman-teman wanita saya yang hobi banget foto selfie. Iya, selfie boleh kok. Tapi, alangkah lebih baiknya kalau postingan foto selfie tersebut diarahkan kepada media yang cocok seperti instagram yang memang khusus memposting untuk foto. Kalau menurut saya, path adalah media sosial untuk berbagi momen atau pengalaman. Jadi kasihan nanti untuk teman-teman path-nya kan kalau sering-sering lihat foto selfie kita? Menurut penilaian kita wajah kita cantik atau ganteng, tapi menurut penilaian teman lain?

3. Jangan posisikan path sebagai twitter

Maksudnya gimana? Gini, maksudnya adalah: misalnya kita menghadiri acara yang menurut kita seru, tempatnya juga gaul dan kekinian. Tapi tahukah kalau sharing foto atau check-in tempat berkali-kali itu sangat annoying lho ternyata menurut beberapa penuturan dari orang-orang di sekeliling saya, misal:

“Just arrived at boyolali Club” 10:42pm

“Just meet my friends” 10:44pm

“Dangdut koplonya baru mulai nih” 10:47pm

Nah, kalau postingan-nya di path lebih banyak berformat seperti “Live Tweet” ya alangkah lebih baik kalau nulis nya di twitter saja, media yang jelas-jelas dikondisikan untuk menulis kalimat-kalimat dengan karakter maksimal 140 kata. Bukan begitu?

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2