Analisis

Jelang Pilgub Bali, Lingkungan dan Disiplin Wisatawan Harus Jadi Prioritas

12 Juni 2018   11:16 Diperbarui: 12 Juni 2018   11:38 169 0 0
Jelang Pilgub Bali, Lingkungan dan Disiplin Wisatawan Harus Jadi Prioritas
  sumber gambar : www.pemburuombak.com

Tak kurang dari dua minggu lagi, masyarakat Bali akan memilih calon gubernur dan wakil gubernur yang akan memperebutkan tahta tertinggi tanah Dewata. Dua pasang calon yaitu Koster- Ace dan Mantra- Kerta tentunya sudah menyiapkan program terbaiknya untuk meyakinkan pemilih. Persaingan kedua pasang calon pun semakin ketat. 

Bukan tak mungkin pada pemilihan  nanti, selisih suara keduanya pun akan sangat tipis. Harapan dan tuntutan pastilah ada dari masyarakat Bali untuk kedua pasang calon tersebut. Mulai dari segi kesehatan, tenaga kerja, ekonomi, sampai pariwisata. Dari sekian harapan dan tuntutan tersebut tentu ada hal yang harus menjadi prioritas apabila salah satu dari dua kandidat calon tersebut terpilih yaitu masalah lingkungan dan masalah disipilin wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Masalah lingkungan tentu saja menjadi sorotan tajam di Bali. Reklamasi Teluk Benoa menjadi yang paling dipersoalkan. Memang sejak diterbitkanya Perpres tentang reklamasi tersebut, banyak elemen masyarakat yang protes dan demonstrasi secara terus menerus  menuntut agar Perpres tentang reklamasi tersebut dicabut. Bukan tanpa alasan, karena masyarakat menilai reklamasi akan membuat lingkungan alam Bali semakin buruk yang menyebabkan kerusakan alam bahkan bencana. 

Analisis Dampak Lingkungan pun belum jelas dan belum meyakinkan masyarakat Bali tentang dampak reklamasi tersebut. Disinilah tercipta ketidakpercayaan masyarakat Bali terhadap pemimpinya yang dianggap hanya berdiam diri dalam menangani polemik berkepanjangan ini. Untuk itulah calon gubernur yang terpilih nanti perlu menyelesaikan secara konkret seputar reklamasi Teluk Benoa ini. Diskusi, penjelasan, dan langkah tegas dalam mencabut Perpres pun harus dilakukan demi menghindari timbul polemik baru.

Kemudian masalah yang bahkan menjadi sorotan dunia adalah sampah. Beberapa objek wisata yang terkenal seperti Pantai Kuta dipenuhi dengan sampah. Hal ini tentu membuat wisatawan tidak nyaman bila berkunjung ke objek wisata di Bali. Penyebabnya adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. 

Selain itu, minimnya jumlah tempat sampah di suatu objek wisata juga akan memicu ketidaksadaran masyarakat tersebut. Mereka yang berkunjung ke suatu objek wisata akan memilih untuk membuang sampah sembarangan ketimbang membaea sampah ke rumah. 

Permasalahan sampah di objek wisata  memang berakibat buruk bagi pariwisata Bali. Wisatawan pun akan berkurang karena tidak nyaman dalam berwisata. Hal ini tentu harus menjadi prioritas calon gubernur dan wakil gubernur nanti apabila terpilih.  Memang sulit jika terus melakukan program pembersihan apabila masyarakatnya sendiri tidak sadar, sampah yang berserakan di objek wisata akan tetap ada. 

Penghimbauan, peraturan dan sistem denda dinilai perlu diterapkan diberbagai tempat umum termasuk objek wisata. Bila perlu dibuatkan poster menyindir  yang membuang sampah sembarangan. Namun, harus disertai dengan pembuatan tempat sampah yang banyak dan tempat pembuangan akhir yang cukup di tempat umum. Dengan hal ini, masyarakat akan semakin sadar dan sampah pun tidak berserakan lagi.

Disiplin wisatawan terutama wisatawan asing di Bali juga harus diprioritaskan. Belum lama ini viral di media sosial wisatawan asing yang secara sembarangan menaiki Pelinggih (tempat Tuhan bersthana) di salah satu pura di Bali. Entah karena tidak tahu atau memang berniat heboh, wisatawan asing tersebut memanjat Pelinggih seperti layaknya panjat tebing dan menduduki bagian atas Pelinggih tersebut. 

Sontak aksi tidak tahu diri wisatawan tersebut membuat geram masyarakat Bali dan mempertanyakan pengawasan pelaku pariwisata. Sebab bagaimana bisa seorang wisatawan bisa naik ke tempat Ibadah dengan cara yang melanggar norma. 

Untuk itulah calon gubernur yang terpilih nanti perlu memerhatikan pengawasan tindakan disiplin terhadap wisatawan terutama asing. Pengetahuan dan disiplin dalam berwisata harus diberikan agar tidak terjadi kejadian serupa yang tentu saja merugikan masyarakat Bali.

Siapapun yang terpilih nanti, hal tersebut harus diprioritaskan untuk mewujudkan Bali Shanti lan Jagadhita