Pulo Siregar
Pulo Siregar Wiraswasta

Penggiat Advokasi Nasabah melalui wadah Lembaga Bantuan Mediasi Nasabah (LBMN). Pernah bekerja di Bank selama kurang lebih 15 tahun. Berencana menulis buku yang berkaitan dengan Risiko produk-produk Perbankan. Yang telah terbit sudah 3 buku, yakni: Risiko Kartu Kredit, Risiko Kartu ATM. dan satu lagi buku BEBASKAN UTANGMU 27 Studi Kasus Menyelesaikan Utang Secara legal. (Telah beredar di Toko2 Buku Gramedia seluruh Indonesia)\r\nBagi yang ingin Konsultasi langsung bisa menghubungi:\r\nVia SMS/Whatsapp: 081219699520\r\nVia email: lembagabantuanmediasi@gmail.com Website: www.medianasabah.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Tahukah Bank Indonesia Mengenai Adanya Korban-korban Tak Berdosa Sistem Informasi Debitur?

2 Februari 2017   17:15 Diperbarui: 3 Februari 2017   13:58 3718 2 0
Tahukah Bank Indonesia Mengenai Adanya Korban-korban Tak Berdosa Sistem Informasi Debitur?
Dokumentasi Pribadi

Melalui artikel yang sederhana  ini kami ingin menanyakan kepada pihak Bank Indonesia khususnya bagian yang mengelola Sistem Informasi Debitur (SID)  sebagaimana judul yang kami pilihkan di atas, tahukah Bank Indonesia mengenai adanya korban-korban  tak berdosa  Sistim Informasi Debitur?

Bahwa, kalau memang  sudah tahu,  kami akan menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya  atas kelancangan kami, namun dengan harapan mohon  dapat disampaikan juga  contoh-contoh kasus yang sudah pernah ada, dan penyelesaiannya seperti apa, karena kami ada beberapa korban yang sama yang pernah konsultasi ke kami dan kami sangat bersedih karena tidak bisa membantu,  sehingga kami bisa memberikan informasi baru kepada mereka mengenai hal ini, yang selama ini menjadi hanya pasrah saja akhirnya, karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi perlakuan pihak Bank yang membuatnya jadi korban.

Namun sebaliknya,   kalau memang  belum tahu karena bisa saja belum pernah mendapat infomasinya maka pada saat inilah kami sampaikan informasi tersebut, yang kami tuangkan dalam  artikel ini.

Beberapa contoh kasus

Latar belakang timbulnya  pertanyaan  yang kami ajukan tadi, berikut ini kami sajikan beberapa contoh kasus,  yang bersumber dari mereka-mereka yang konsultasi ke kami melalui SMS, Whatsapp, BBM maupun email.

Untuk sebagai catatan,  Semenjak Buku kami yang berjudul BEBASKAN UTANGMU yang diterbitkan oleh Elexmedia Computindo (Kompas Gramedia Grup) dan dijual di Toko-toko Buku Gramedia di seluruh Indonesia, banyak yang menghubungi kami untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan isi Buku.  BI Checking dan Sistem Informasi Debitur termasuk yang dibahas dalam Buku.

Demikian juga dari yang melalui aktifitas kami  menulis artikel di Media Online Kompasiana dengan url  http://www.kompasiana.com/pulosiregar yang  rata-rata tingkat keterbacaan tulisan kami mencapai puluhan ribu, yang dua tulisan  diantaranya tingkat keterbacaannya pada saat  Artikel  ini dibuat mencapai 95 .000 dan 52.000 an,  dan  masih akan meningkat terus seiring dengan pejalanan waktu, Yang  satunya berjudul BI Checking akan Dihapus Setelah 5 tahun? Dan yang satunya lagi berjudul Bisa Tidak Black List Dihapus?

 Pembaca Buku dan Pembaca artikel kami itulah yang melakukan konsultasi dan atau memberi informasi  kepada kami, karena di Buku maupun di artikel-artikel kami tersebut kami cantumkan sarana komunikasi yang dapat dihubungi apabila ada yang ingin ditanyakan, dikonsultasikan atau di-sharing.

Contoh-contoh kasus tersebut adalah sebagai berikut:

  • Pinjaman sudah dilunasi tahun 2011. Surat Lunas sudah ada. Akan tetapi belakangan diketahui pas pengajuan KPR (tahun 2016)di Bank BCA,  ternyata saldo terhutangnya masih ada. Kolektibiltas 5.  Pengajuan KPR pun ditolak dengan alasan tidak lolos BI Checking. Bank Pelapor Bank Permatx.  Korban pemilik nomor Handphone :  +6287723663xxx
  • Pinjaman sudah dilunasi tahun 2009 dan jaminan pinjaman sudah dikembalikan.  Sama dengan contoh kasus di atas, pengajuan KPR ditolak BTN. Bank Pelapor BPR Artxx Pamenaxx Warujajexx Carubxx. Nomor Handphone:  085649100xxx
  • Pinjaman di BRI ditolak karena tidak lolos BI Checking. Informasi dari BI Checking, ada pinjaman di Bank Mandixx 40 jt, padahal menurut nasabah tidak pernah pinjam di Bank Mandixx. Setelah di cross chek ke Bank Mandixx, pihak Bank Mandixx malah menyatakan bahwa BI salah input data Debitur.  Nomor Handphone : 082242920xxx
  • Dalam BI Checking tertera memiliki Kredit Macet 100 jt ke BPR Kuningxx, padahal nasabah merasa tidak pernah punya pinjaman di Bank tersebut.  Bank BPR tersebut sudah membuat semacam Surat Keterangan tidak punya utang, akan tetapi tetap saja mengalami penolakan, karena setiap Bank tempat mengajukan kredit selalu berpegang pada hasil BI Checking. Korban, yang konsultasi melalui whatsapp nomor Handphone:  +62877236631xxx
  • Dalam BI Checking ada tercantum punya Kredit Griya BNx, dan setelah diklarifikasi, pihak BNx mengakui tidak punya pinjaman KPR.  Nasabah disuruh membuat surat pernyataan, namun akhirnya tidak ada tindaklanjut. Korban,  yang konsultasi melalui whatsapp nomor Handphone:  +62878046357xxx
  • Ketika Nasabah mengajukan KPR ternyata di BI Checking ada collect 5  di Bank Megx. Ketika dikonfirmasi ke Bank Megx, data-data tidak sesuai, yang akhirnya diketahui ada fraud yang dilakukan oleh oknum karyawannya. Jumlah terhutang 500 jt. Korban,  yang konsultasi melalui Blackberry massengger atas nama Ronxx-(Lungx). Nomor PIN: D52B02xx
  • Saldo nihil tapi masih muncul kolektibilitas 5. Bank Pelapor Bank Megx
  • Salah satu contoh kasus terbaru. Yang masih aktual. Ada Bank Pelapor yaitu Bank CIMX Niagx  melaporkan adanya utang atas nama seseorang sebesar Rp. 79.500.000. Kolektibilitas 5 semenjak tahun 2012.  Ketahuannya  ketika seseorang tersebut mengajukan pinjaman di salah satu Bank. Dan tentu saja langsung ditolak pengajuannya. Akan tetapi ketika seseorang tersebut melakukan konfirmasi ke Bank Pelapor yang tercantum dalam print out BI Checking tersebut, hingga saat Makalah ini dibuat belum ada kejelasan sama sekali. Seseorang tersebut juga dilempar kesana kemari, dari Kantor Cabang yang satu ke Kantor Cabang yang lain. Malah  ada kesan dilecehkan atau  diremehkan.  Harus seperti itukah yang harus dialami? Sudah jadi korban, ditambah lagi ada perlakuan yang semena-mena? Nomor Handphone : 08119779xxx

Itulah contoh-contoh kasusnya.

Dan tentu  bukan hanya itu. Masih ada beberapa yang pernah konsultasi, tapi sudah terhapus datanya, karena merasa tidak diperlukan lagi, sehingga dapat dikatakancontoh-contoh ini hanya sebagian kecil saja, karena hanya dari  yang bisa melakukan hubungan komunikasi dengan kami, sementara kami sendiri ini bukanlah siapa-siapa.  Waktu, Ruang lingkup,  sarana komunikasi dan informasi kami sangat terbatas. Kalau mempunyai waktu, ruang lingkup, sarana komunikasi yang lebih luas lagi,  daya tampungnya pasti akan lebih besar lagi.

Dan supaya contoh-contoh kasus diatas tidak menjadi dianggap fitnah,  informasi palsu atau hayalan belaka, yang tentu kami juga tahu akibatnya apa, kami siap mempertanggung-jawabkannya. Datanya  masih lengkap semua. Apabila diperlukan kami akan siap bantu. 

Apa yang harus diperbuat?

Setelah mengetahui adanya permasalahan besar ini, dalam arti   korban-korban tak berdosa ini, apa yang harus kita perbuat?

Mengabaikannya?

Atau membiarkannya?

Menurut hemat kami, dalam perspektif perlindungan nasabah sangatlah tidak bijaksana apabila kita mengabaikan dan atau membiarkannya. Seyogiyanyalah kita harus berbuat sesuatu demi mencegah semakin banyak jatuhnya  korban-korban yang sama. Apalagi seperti yang kami sebutkan di atas contoh kasus yang ada ini baru hanya sekelumit, mungkin masih banyak lagi yang belum terekspos.

Bahwa untuk diketahui juga,  sebagai tambahan informasi, berdasarkan pengamatan kami dari hasil sharing dengan mereka-mereka yang melakukan konsultasi kepada kami tersebut,  potensi penambah “korban-korban tak berdosa” dari jenis permasalahan  seperti ini sangat  sering terjadi karena kurangnya  kordinasi pelaporan antara Bank dengan grup banknya yang berupa leasing, atau  multifinance,  dimana sering terjadi di grup perusahaannya tersebut sudah lunas, namun karena kurangnya kordinasi pelaporan yang disebutkan tadi, data di BI Checkingnya masih tetap belum up-date, maka jadi Nasabahlah  yang menjadi korban. Apalagi rata-rata Nasabah leasing atau multifinance tersebut tidak mengetahui adanya kerjasama dengan group Bank masing-masing. Sehingga kadang Nasabah menjadi bingung sendiri, merasa tidak pernah pinjam di Bank tersebut, tapi kok ada datanya di BI Checking?

Untuk kasus seperti ini kami sangat khawatir,  belum ada sosialisasi yang memadai mengenai Sistim Informasi Debitur berikut akibat-akibat yang ditimbulkannya,  apabila terjadi kelalaian, kealpaan atau kekurang-mengertian personil yang membidangi di Grup atau Mitra Kerja Bank tersebut.

Pengalaman empirik

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4