Pudji Widodo
Pudji Widodo Human Resources

Pemerhati kesehatan militer

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Tangga Pendek AHY Menuju Presiden RI

18 Mei 2019   11:41 Diperbarui: 19 Mei 2019   05:35 287 14 6
Tangga Pendek AHY Menuju Presiden RI
(sumber foto dikhy sasra, news.detik.com)

Tribun Timur.com 14 Mei 2019 merilis upaya kabinetusulanpublik@gmail.com yang melakukan polling terhadap nama-nama yang layak masuk dalam kabinet pemerintahan pimpinan presiden terpilih yang masih ditunggu pemenangnya pada tanggal 22 Mei 2019. Diantara daftar calon menteri tersebut tercantum nama Agus Harimurti Yudoyono (AHY) sebagai kandidat menteri PAN-RB.

Ide jajak pendapat yang mengusulkan AHY sebagai menteri dalam kabinet pemerintah periode yang akan datang, mengingatkan penulis kepada sosok Yoyok Riyo Sudibyo (YRS). Mantan bupati Batang periode 2012-2017 ini memiliki latar belakang yang sama dengan AHY, yaitu alumnus Akademi Militer, namun berbeda kecabangan. AHY berasal dari Korps Infanteri, sedang YRS adalah mantan perwira Artileri. 

Keduanya mempunyai pengalaman karir militer dan berupaya masuk persaingan merebut jabatan publik pemerintahan pada level yang berbeda. Bedanya AHY gagal menjadi gubernur DKI Jakarta, sedang YRS berhasil terpilih dan menjabat sebagai Bupati Batang hanya satu periode sesuai janjinya.

YRS pensiun dini dari militer setelah berdinas 12 tahun dan menekuni dunia usaha pada kurun 2006 -2012 sebelum terpilih sebagai bupati. Jadi ada masa transisi dari dunia militer, kembali ke tengah masyarakat selama 6 tahun menjadi pengusaha dan memimpin 2 perusahaan <1>.  

Beda dengan AHY yang selepas dari seorang Komandan Batalyon langsung dipersiapkan memasuki dunia pertempuran baru berebut kursi DKI-1.  Sebuah model persiapan yang sangat berbeda antara keduanya.

AHY memiliki modal pendidikan lebih beragam. Lulus Akmil tahun 2000, namun pada tahun 2006 dia telah menyandang gelar M.Sc dari Nanyang Technological University Singapura. Sekolah staf dan Komando Angkatan Darat dilaksanakan AHY di AS, dan mendapat gelar MPA dari Harvard  University (2010), sedang titel MA diperolehnya dari Webster University (2015) <2>.

Kesamaan dari kedua mantan Mayor TNI AD ini adalah memiliki pengalaman kepemimpinan lapangan sesuai kecabangan masing-masing. Dengan masa dinas 16 tahun AHY mereguk pengalaman memimpin satuan sejak Komandan Peleton sampai Komandan Batalyon Infanteri Mekanis, mengalami operasi militer di Aceh dan misi operasi perdamaian PBB di Libanon. 

Berbeda dengan YRS yang masa dinasnya lebih pendek yaitu 12 tahun, berpengalaman tugas operasi intelejen di Papua dan tugas teritorial sebagai Danramil lalu banting stir kembali ke tengah masyarakat menjadi pengusaha.

Pengalamannya sebagai perwira intel dan teritorial yang mungkin membuat YRS mengenal karakteristik sosial masyarakat dan tahu cara merebut serta memenangkan hati rakyat. Interaksinya di tengah masyarakat membuatnya memiliki modal sosial, artinya 6 tahun selama kembali menjadi anggota masyarakat sipil tidak berlalu dengan sia-sia sampai mepunyai keberanian maju Pilbup Batang melalui jalur independen. 

Berbeda dengan AHY setelah melepas seragam militernya, lalu "ujug-ujug" (tetiba)  mengikuti pentas pilihan gubernur. Lebih cukup waktu masyarakat Batang menilai sosok YRS karena telah berkiprah di kalangan sipil 6 tahun, dibandingkan masyarakat Jakarta mengenal AHY  kecuali dari prestasi akademis tiga gelar S-2 dari luar negeri dan jabatannya sebagai seorang Danyon infanteri Kostrad serta putra mantan Presiden RI.

Barangkali untuk menutup kekurangan itu, maka pada saat pilgub DKI tandem yang dipasangkan dengan AHY adalah Prof. Dr. Sylviana Murni yang sudah berpengalaman malang melintang di birokrasi DKI Jakarta dengan jabatan diantaranya Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta, Walikota Jakarta Pusat dan terakhir mantan Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta 2015-2016. 

Mungkin ada yang berpendapat level yang dibandingkan tidak sepadan, ajang pemilihan gubernur apalagi DKI Jakarta,  tentu lebih berat dibandingkan pilbup Batang. Justru karena itu maka mungkin akan lain hasilnya bila ajang kontestasi yang diikuti AHY tidak langsung pilgub DKI Jakarta. 

Figur pembanding yang lain adalah Bupati Parigi Moutong 2 periode, Syamsurizal adalah seorang Kolonel TNI AD yang putra daerah, mengawali kiprahnya mulai dari Wakil Bupati.

Berkaca dari kegagalan pemimpin daerah yang berasal dari kalangan tokoh muda, maka cukup beralasan bila ada yang menaruh harapan agar AHY matang alamiah pada level kepemimpinan kota atau kabupaten. Pada tahap itu terdapat kombinasi pengalaman kepemimpinan lapangan militer, modal kompetensi akademis, diasah dengan situasi birokrasi dimana berkelindan upaya pragmatis yang bersentuhan dengan perilaku korup serta transaksi anggaran antara pejabat perangkat daerah, DPR Daerah dan pengusaha. Dengan spirit tokoh muda yang bersih dan integritas mantan perwira TNI, diharapkan AHY dapat menjadi pemacu pemberantasan budaya korup birokrat di wilayah daerah yang AHY pimpin. Sebelum AHY,  Partai Demokrat pernah memiliki Anas Urbaningrum, politikus muda Demokrat yang dibesarkan dari HMI, sayang karir politiknya tumbang, terhalang jerat kasus Hambalang.

Kesuksesan  menyelesaikan tahapan kepemimpinan daerah seperti yang dilakukan YRS sebagai Bupati Batang, bila hal itu dulu dilakukan AHY akan memungkinkan AHY memiliki modal sosial yang lebih baik dibandingan transformasi mendadak dari seorang Komandan Batalyon langsung masuk ke palagan persaingan Cagub. 

Namun AHY telah memilih tangga menuju panggung pemilihan presiden yang lebih pendek atau singkat melalui jalur Gubernur DKI Jakarta tahun 2016. Sayangnya tangga pendek itu justru tak berhasil dilaluinya.  Bahkan koalisinyapun untuk tahun 2019, memilih calon lain sebagai wapres bukan AHY.

(Sumber dok.foto. Kompas.com)
(Sumber dok.foto. Kompas.com)

Entah bagaimana hasil jajak pendapat yang diinisiasi kabinetusulanpublik@gmail.com, dan apakah presiden terpilih akan memasukkan AHY dalam barisan kabinetnya saya tidak punya kepentingan untuk menulis hal itu. Saya hanya menyampaikan seperti orang lain, AHY mempunyai hak untuk menentukan pilihan hidup dan cara mengaktualisasikan diri agar punya arti bagi masyarakat dan negerinya. 

AHY yang rela memilih cukup sampai pangkat Mayor dalam karir militernya dan memutuskan politik sebagai wahana untuk meyakinkan masyarakat bahwa dia bisa berbuat lebih baik, lebih berpotensi, lebih bisa menyumbangkan tenaga dan pikirannya pada usia yang lebih muda tanpa menunggu purna dinas sebagai Jenderal TNI. 

AHY berusaha mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa dirinya adalah tokoh muda yang layak menjadi pilihan sebagai pemimpin negeri. Plat nomor polisi   mobil yang dikendarainya berseri B 2024 cukup menjadi gambaran aktualisasi diri tersebut.

Meskipun realitanya langkah menuju kontestasi sempat terhambat karena gagal menguasai Jakarta, kini peluang itu terbuka lagi sambil mematangkan diri mengelola pemerintahan bila nanti benar-benar terpilih menjadi menteri. 

Tentu saja dia mungkin akan berhadapan dengan kompetitor tokoh muda nasional lainnya pada tahun 2024 nanti. Saya percaya AHY akan berusaha meyakinkan masyarakat bahwa pilihannya berbakti kepada negara melalui karir prajurit TNI cukup sampai pangkat mayor dan melanjutkan melalui jalur politik merupakan keputusan yang matang. 

PM Israel Benyamin Netanyahu, PM Inggris Winston Churcil dan Presiden AS JF. Kennedy, masing-masing adalah mantan perwira  berpangkat Letnan di angkatan bersenjata negaranya. Mereka berhenti dari karir militernya pada level yang lebih rendah dari AHY dan menempa diri di kancah politik sebelum menjadi pemimpin negaranya masing-masing. 

Langkah AHY bisa menjadi inspirasi anak muda yang lain untuk berani menentukan karir di tengah persaingan yang tidak semakin ringan di bidang apapun.
 

Bendungan Hilir, 17052019.

Sumber :
1.wikipedia.org
2.viva.co.id