Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis

Penulis Konten | himam.id | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Pengalaman Menyaksikan Langsung Anak Sendiri Dibedah di Meja Operasi

15 November 2019   22:33 Diperbarui: 15 November 2019   22:33 214 5 2 Mohon Tunggu...
Pengalaman Menyaksikan Langsung Anak Sendiri Dibedah di Meja Operasi
Izan ketika mendapat perawatan di rumah sakit (dokpri)

Salah satu momen paling menyedihkan dan mengharukan yang tak akan pernah saya lupakan adalah ketika saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana tubuh putra saya dibedah di meja operasi.

Ketika itu, Izan berusia 4 tahun. Sudah beberapa minggu dia merasa sakit setiap kali kencing. Setelah saya periksakan ke dokter anak di RSI Aisyiah Malang, ada semacam kotoran menyumbat saluran kencingnya.

Kata dokter, Izan harus disunat agar kotoran yang menyumbat bisa hilang dan saluran kencingnya normal kembali. Tapi, bukan itu masalah utamanya. Sewaktu memeriksa, dokter akhirnya menemukan apa yang selama ini kami coba sembunyikan: Izan hanya punya satu testis! Saya pun "diomeli" mengapa tidak sejak awal saya mengonsultasikan kelainan ini pada dokter.

Mengenal Kelainan Satu Testis

Sewaktu Izan lahir, saya sudah menyadari kelainannya tersebut. Hanya saja saya selalu berharap ada "keajaiban" bahwa testis satunya belum tumbuh, dan seiring berjalannnya usia, testis itu akan muncul.

Namun, menginjak usia empat tahun, "keajaiban" yang saya harapkan itu tidak terjadi. Antara takut dan kemungkinan harus dilakukan operasi yang memakan biaya besar, saya pun tidak pernah mengkonsultasikannya ke dokter.

Dalam bahasa medis, pria yang terlahir dengan satu buah zakar atau testis dikenal dengan istilah monorchism. Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya gangguan pada perkembangan embrio dan tidak memiliki gejala apapun. Ada tiga penyebab utama kelainan satu testis ini:

  • Satu testis tidak turun (kriptorkismus) atau undescended testicle. Yakni kondisi ketika hanya satu testis yang turun ke dalam skrotum (kantong testis).
  • Satu testis menghilang (vanishing testis). Yakni bayi memang terlahir dengan satu testis saja karena adanya penyakit torsi testis, cedera, atau ketidakseimbangan hormon pada saat kehamilan. Kondisi ini disebut juga sindrom regresi testis.
  • Pengangkatan satu testis (orchiectomy). Prosedur pembedahan ini dapat dilakukan karena adanya tumor testis, cedera serius, penyakit torsi testis yang tidak diobati, dan kanker prostat.

Bayi yang terlahir dengan satu testis seharusnya dilakukan operasi pembedahan untuk mengetahui apakah testinya tidak turun (kriptorkismus) atau memang hanya ada satu testis saja (vanishing testis). Pembedahan ini penting dilakukan di tahun pertama kelahiran bayi untuk menghindari hilangnya fungsi testis, menjauhkan dari risiko ketidaksuburan, dan mencegah kanker testis.

Kebingungan Ketika Anak Saya Harus Mendapat Operasi Besar

Setelah mendapat penjelasan panjang lebar tersebut, saya hanya bisa pasrah dan menyetujui dilakukannya operasi pembedahan pada anak saya. Yang saya pikirkan saat itu adalah masalah biaya operasinya yang lumayan besar. Sementara asuransi dari kantor saya tidak menanggung jenis operasi seperti ini. Kalaupun saya bisa mengurus reimbursment ke kantor, mungkin tidak sampai separuh biaya saja yang dikembalikan.

Akhirnya, setelah menyampaikan kondisi keuangan saya saat itu, pihak rumah sakit bersedia memberikan keringanan. Hal ini tak lepas dari saran dan "campur tangan" dr. Bambang, salah satu dokter bedah anak senior di kota Malang yang menangani operasi pembedahan anak saya.

Pada hari operasi, saya mendapat "kejutan" lagi. Oleh dr. Bambang, saya diminta menyaksikan langsung operasi pembedahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x