Mohon tunggu...
Posma Siahaan
Posma Siahaan Mohon Tunggu... Science and art

Bapaknya Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan. Novel onlineku ada di https://posmasiahaan.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ketika Konsultan Politik Bule Itu Menyarankan Pakai Robot Ahli Statistik dan Robot Pendemo

16 Mei 2019   22:07 Diperbarui: 16 Mei 2019   22:44 0 11 7 Mohon Tunggu...
Ketika Konsultan Politik Bule Itu Menyarankan Pakai Robot Ahli Statistik dan Robot Pendemo
Robot terminator (dok.pri.)

"Robot ahli statistik? Untuk menghitung formulir C1 secara cepat?" Tanya Pak Loroh, calon presiden Negeri Gemah Ripah Lohjinawi (disingkat Negeriloh) penasaran, dia sebenarnya sudah agak kecewa kepada konsultan politik bulenya bernama Anot Siwajahkelenger dari Beruksia yang disewa mahal-mahal 20 milyar ripah (mata uang Negeriloh) untuk menaikkan elektabilitasnya, namun secara metode hitung cepat lembaga survey resmi, dia kalah.

"Tenang, pak Loroh. Masih ada peluang memutar balikkan data dan membuat gangguan virus ke komputer lembaga pemilu resmi. Kami punya robot canggih ahli statistik yang dapat membuat formulir C1 secara instant, dapat menghapus angka-angka di kertas serta menuliskan angka lain dari jarak jauh, dapat memutar angka dari kolom kiri ke kolom kanan dan sebaliknya, bahkan dapat menemukan kecurangan-kecurangan di pihak lawan secara instant dan menghilangkan bukti kecurangan di pihak kita secara instant pula." Si bule Anot memberitahukan contoh robot itu dari tabletnya ke Pak Loroh dan tampaknya sang calon negarawan berminat.

"Harganya berapa, mister Anot. Sewa bulanan berapa, sewa harian berapa, kalau dibeli berapa? Atau bolehkan kami pakai dahulu seminggu, kalau hasilnya bagus, baru dibayar?" Pak Loroh bermaksud nego-nego harga.

"Kalau hanya di pekerjaan statistik, harganya satu proyek pemilu 5 milyar ripah, pak. Tetapi kalau mau si robot sampai dipakai memimpin unjuk rasa ramai-ramai, didandani seperti orang, maju ke obyek-obyek vital Negeriloh, perlu 5 milyar ripah lagi.  Ada juga 100-an robot lain yang tidak bisa berhitung, tetapi dapat maju demonstrasi sambil lempar-lempar batu, kami sewakan satu unit 100 juta ripah saja. Robot-robot ini tidak takut ditembak, tetap maju dan semoga membuat massa orang benaran yang lain menjadi berani merangsek pula." Nah, si bule Anot malah menawarkan proyek lain, dengan harga yang mahal juga.

Pak Loroh merenung, ini konsultan dari Beruksia memang gigih nyari duit dari dia. Sudah hampir pasti kalahpun, dia masih rela dikompasinya, tetapi apa boleh buat, sudah banyak tokoh besar bermimpi si pak Loroh jadi pemimpin Negeriloh. Kalau cara-cara demokratis sulit dicapai, mungkin cara alternatif memang harus ditempuh. Robot statistik yang bekerja serba instant serta robot pendemo yang berani korslet membela harga diri pembayarnya, mau tidak mau harus disewa.

"Saya harap mister Anot, robot-robot anda berhasil membuat saya tercatat sebagai pemenang dalam sejarah Negeriloh, tetapi bukan malah mencatatkan sejarah yang sangat menyedihkan."Kata pak Loroh penuh harap ketika membuat perjanjian kerja sama sewa-menyewa robot-robot tersebut.

"Oh, tidak masalah,pak. Kalau sejarah nanti mencatatkan hal-hal yang negatif, maka saya punya juga robot perbaikan sejarah instant yang nanti akan bekerja memperhalus kalimat-kalimat yang menjelek-jelekkan, bahkan menyisipkan kata-kata pujian yang membanggakan di blog-blog media sosial ataupun di media-media "mainstream". Tapi nantilah itu kita bahas kalau dua bulan lagi hasil kerja robot-robot yang ini dirasakan tidak maksimal." Kata si bule sambil tersenyum dengan giginya yang berkawat bertatahkan intan.

"What?" Pak Loroh geleng-geleng kepala, begitu canggihkah teknologi robot-robotan sampai dapat terjun ke dunia pemilihan umum, dunia demonstrasi dan terakhir ke memperbaiki catatan sejarah seseorang?

"Whateverlah" sudah kepalang basah, bagi pak Loroh, tiada rotan akarpun berguna, tiada dukungan politisi teman lama, dengan robotpun boleh juga.

sumber: dokumentasi Kompal
sumber: dokumentasi Kompal