Mohon tunggu...
Mohamad Irvan
Mohamad Irvan Mohon Tunggu... Penulis dan Aktifis Sosial

Sedang belajar jadi Penulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pemajuan Kebudayaan, Belajarlah dari Nenek Moyang Kita

30 Oktober 2019   09:50 Diperbarui: 11 Desember 2019   22:51 139 3 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pemajuan Kebudayaan, Belajarlah dari Nenek Moyang Kita
budaya-culture-5dba32b9d541df076e75b423.jpg

Akhir-akhir ini di tanah air sedang gencar-gencarnya penggalakan mencintai budaya nusantara atau budaya lokal, misalnya berpakaian tradisionil seperti kebaya, taria-tarian lokal. Penggalakan kembali mencintai budaya nusantara kerap dimunculkan di berbagai tempat dan berbagai acara.  Ini merupakan efek dari upaya pemerintah untuk memajukan kebudayaan Indonesia, adalah amanat dari UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang pada tahun 2018 menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Indonesia, yang menghasilkan sebuah dokumen strategi kebudayaan Indonesia. Dan pada tahun ini pemerintah melalui Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbud, menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Nasional yang berlangsung pada awal Oktober 2019.  Kita apresiasi upaya pemerintah yang sudah mulai menunjukkan perhatiaannya bagi pemajuan kebudayaan Indonesia, yang sudah sejak lama abai.

Gencarnya ‘gerakan’ mencintai budaya nusantara atau lokal bisa jadi karena kecemasan terhadap   ‘gerakan’ yang agresif  dari suatu kelompok dari  agama tertentu yang memaksakan budaya gurun pasir dipakai dan diterapkan di tanah air, menyeragamkan budaya nusantara yang heterogen dan majemuk kepada masyarakat Indonesia. Hal ini menimbulkan gesekan-gesekan yang menurut saya adalah gesekan antar budaya, bukan gesekan antara budaya dengan ‘agama’, karena agama juga berada di ranah budaya seperti  halnya bahasa, pakaian, kebiasaan, dan adat istiadat, dan sebagainya.  Bisa jadi mata pemerintah mulai terbuka matanya terhadap pentingnya mengelola kebudayaan sebagai salah satu strategi untuk menjaga dan memilihara persatuan dan kesatuan Indonesia.

Kebudayaan Indonesia, Kebudayaan Nasional, Kebudayaan Nusantara
Keaneka ragaman budaya Indonesia, merupakan harta kekayaan Indonesia. Keaneka ragaman budaya pastinya bisa tercipta adanya kebebasan berekspresi  dan adanya toleransi budaya. 

Adalah berkat kecerdasan dan kebijaksanaan budaya dari para leluhur dan nenek moyang kita yang dengan cerdas dan bijaksana tidak mempertentangkan budaya lokal dengan budaya dari luar, asing/baru ataupun  menolak mentah-mentah budaya asing/baru, sehingga mereka sukses menyerap budaya asing/baru tersebut yang malah memperkaya budaya lokal mereka. 

Nah, seharusnya kecerdasan dan kebijaksanaan nenek moyang kita tersebut yang mestinya dijadikan tauladan, panutan, acuan dan pertimbangan oleh para pengambil keputusan, para pembuat kebijakan jaman “now” .

Banyak orang yang menyamakan kebudayaan Indonesia dengan Kebudayaan Nasional dan Kebudayaan Nusantara. Padahal ketiganya memiliki cakupan yang berbeda. Kebudayaan Indonesia terdiri dari kebudayaan nasional dan daerah yang berada  di dalam wilayah Negara Republik Indonesia dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua.

Banyak yang belum mengetahui bahwa menurut peneltian para ahli antropologi  bahasa bangsa Papua dengan bahasa-bahasa di nusantara itu masih satu keluarga yaitu keluarga rumpun atau penutur bahasa Austronesia.

Austronesia mengacu pada wilayah geografis yang penduduknya menuturkan bahasa-bahasa Austronesia. Wilayah tersebut mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah, Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa latin austrālis yang berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti "pulau".  Bangsa Papua masuk dalam keluarga bangsa melanesia.

 Dengan demikian bahasa jawa, Melayu, dan bahasa-bahasa di wilayah Indonesia masih bersaudara dengan bahasa-bahasa di Papua. Jadi jangan lagi membedakan Indonesia dengan Papua. Karena ternyata secara bahasa masih bersaudara.

Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan, maka cakupan geografi juga mencakup daerah tersebut. Sebuah studi juga menunjukkan adanya masyarakat penutur bahasa  Melayu di pesisir Sri Langka.


Kebudayaan nasional adalah kebijakan politik negara untuk menggali dan menetapkan suatu produk budaya daerah yang telah diterima secara luas masyarakat Indonesia sebagai milik bersama dan menjadi identitias bangsa, misalnya Batik, Candi Borobudur.

Kebudayaan Nusantara
Kata nusantara sering digunakan  pada masa Majapahit  untuk menyebut pulau-pulau di luar Jawa. Namun sebenarnya kata nusa merupakan sinonim dari dwipa, yang berarti pulau. Sementara Pulau Jawa sendiri pada masa itu disebut sebagai Jawadwipa.

Istilah kata nusantara kembali diperkenalkan oleh Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang juga dikenal dengan nama Dr. Setiabudi, sebagai nama untuk negara Indonesia. Nama ini dipilih dengan pertimbangan tidak mengandung unsur kata India, seperti yang terdapat pada nama resmi Nederlandsch-Indie atau Hindia Belanda yang diberikan oleh bangsa Belanda ketika menjajah negeri kita. Dr. Setiabudi  mengambil nama ini dari Pararaton yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 dan diterjemahkan oleh J.L.A Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada 1920.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN