Pius Rengka
Pius Rengka Pemulung Kata

Artikel kebudayaan, politik, sosial, budaya, sastra dan olahraga. Facebook:piusrengka. Surel:piusrengka@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Microsoft dan Gelombang Revolusi Industri

15 Mei 2019   12:47 Diperbarui: 15 Mei 2019   16:05 197 6 3
Microsoft dan Gelombang Revolusi Industri
Ilustrasi keamanan data dan teknologi (dok Fintech.id)

Tahun silam, 24 January 2018 di Hotel Aston Kupang diselenggarakan Digital Skill Launching yang bekerjasama Microsoft dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB).

Siapa kiranya yang tak mengenal Microsoft. Siapa pula yang tak mahfum sejarah Microsoft Word. Nyaris, hampir semua umat manusia di belahan bumi ini mengenal komputer atau minimal ketika di bangku sekolah pernah menggunakan Microsoft Word sebagai alat bantu mengerjakan tugas, menulis berita atau artikel dan berbagai kegunaan lainnya. 

Yang belum tahu Microsoft, mungkin tersisa sedikit manusia.  Mereka itu yang  tinggal di pelosok nun jauh di pedalaman tanah air, di lembah yang jauh dari sentuhan pembangunan, termasuk mungkin beberapa tempat di Provinsi NTT. Mereka tak tahu mahluk apakah Microsoft itu.

Masifikasi penggunaan teknologi informasi juga sama kuatnya. Apalagi ada impian para Bupati dan Walikota, menjadikan kabupaten kota dan provinsi sebagai Smart City, Smart Province dan lain sebagainya. Bahkan kendali kontrol dan instruksi birokrasi ke depan melalui dunia maya. Bisnis mobil, sepeda motor, konveksi, sepatu, ikat pinggang, arloji begitu juga.

Bahkan, kini banyak jenis makanan dapat dipesan melalui smartphone. Begitu pun tukang cukur dapat menghampiri tempat di mana pemesan tinggal. Tampak pula implikasi masif yang terkesan seperti jadi korban dari revolusi industri ini ialah banyak gerai toko pakaian terpaksa tutup lantaran pakaian dapat dipesan melalui jaringan online.

Toko sepatu, parfum, pasta gigi dan aneka jenis barang kebutuhan dapat dipesan dengan lekas dan segera melalui jaringan bisnis online. Maka, sejarah relasi antarmanusia pun berubah. 

Pertemuan antar-manusia berubah wajah dari face to face menuju face to smartphone. Kohesi sosial tidak lagi ditentukan oleh frekuensi perjuampaan fisik, melainkan ditentukan oleh perjumpaan maya melalui kepemilikan produk teknologi atau produk ilmu pengetahuan itu. Microsoft adalah satu dari jejaring bisnis handal terkemuka dan salah satu pengubah kultur global itu.

Tentang  apa, mengapa, bagaimana dan siapa penggerak awal di balik imperium bisnis Microsoft dapat ditelusuri melalui media internet. Sejarahnya pun dapat dicari. Profil Microsoft pun hingga kini dapat pula ditemukan perkembangannya. Tetapi, memang, fakta tak dapat dibantah. Dunia kini sungguh telah menyatu, bahkan masyarakat dunia telah menjadi network society (masyarakat berjejaringan). 

Hal itu kian dipercepat oleh masifnya penggunaan teknologi digital di hampir semua pelosok dunia. Kita juga menyaksikan manusia kini sangat bergantung pada handphone. Bahkan lebih baik melupakan kekasih daripada melupakan handphone. Manusia sibuk sendiri-sendiri, tertawa sendiri, menangis sendiri dan seterusnya.

Implikasi lain yang tampak yaitu bahwa globalisasi pengaruh teknologi itu telah membawa dunia dalam sebaran serempak ideologi politik, mulai dari ideologi politik sangat radikal (radikalisme) di kiri atau sangat kiri, dan sangat reaksioner di kanan atau sangat kanan.

Di tengahnya, ditemukan sebaran ideologi yang bernafas kuat pada liberalisme, demokrasiisme, konservatisme dan lain-lain. Kecuali itu, tampak jelas pula pengaruh teknologi sungguh-sungguh menafikan pusat bahkan menihilkan peran pusat atau centrum. Globalisasi teknologi memungkinkan tak ada lagi centrum. Ideology directly going to the roots.

"Dunia kini sungguh telah menyatu, bahkan masyarakat dunia telah menjadi network society (masyarakat berjejaringan)."

Para ahli meramalkan begini. Pada abad selanjutnya, perkembangan ilmu dan teknologi pasti kian bertambah pesat, terutama di bidang-bidang informasi, mikroelektronik, bio-dan genoteknologi, ekoteknologi dan ruang angkasa.  Reduksi relatif dalam ruang dan waktu mempengaruhi cara berpikir dan pada gilirannya kebudayaan (vide: Teuku Jacob, 2006).

Gurunya Adam Smith, Prof. Hutcheson, ahli filsafat, dalam usahanya melihat masyarakat  sebagai fisika (the phisics of society), berkesimpulan  kepentingan diri merupakan  gaya berat dalam fisika sosietal. 

Adam Smith kemudian dalam bukunya yang mempengaruhi dunia sampai sekarang, The Wealth of Nations (1776), meletakkan dasar-dasar filsafat ekonomi live and let live, yang sekarang mencapai puncaknya. Dunia terus berputar pada porosnya, tetapi penduduk di atasnya berpikir dan terus berpikir serta memproduksi hasil pikirannya.

Tibalah kita pada era revolusi industri keempat yang ditandai dengan masifnya internet digital. Lalu akibat ikutannya, dunia  mengecil dan padu menyatu dalam satu genggaman yang terus berjalan. Gejala utama masyarakat berjejaring dunia ialah  tak ada kekuatan pusat (no center),  tak ada superpower (adidaya),  prinsip of rupture, growth to all directions dan mutiple roots.

Dunia dapat saja dikuasai setiap orang melalui sebuah benda mungil, tetapi pengaruhnya dasyat. Dia mampu menyimpan data berapa megabite. Komunikasi lintas orang dan lintas negara kian lekas. Khabar entah dari mana dan siapa dapat segera dan serentak menyebar ke seluruh pelosok dunia.  

Bahkan yang lebih mencengangkan, kendali bisnis dan politik dapat dilakukan saat para pelakunya sedang berpiknik entah di mana di belahan dunia ini, bahkan mungkin sambil membuang tinja. Informasi terus mengalir. Catatan kritis menumpuk.  Kendali taktis politik berlangsung siang dan malam. Tak peduli, zona waktu.

Dalam konteks kelola politik pun, sama saja. Para team sukses pasangan calon bupati dan gubernur di seluruh Indonesia, misalnya, dapat memanfaatkan jejaringan media sosial.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2