Analisis

Peluang PDIP Khianati Jokowi

13 Juni 2018   14:15 Diperbarui: 13 Juni 2018   14:21 677 1 1


Artikel ini pertama kali tayang di Pinterpolitik.com
Pertemuan Puan Maharani dengan Prabowo Subianto menimbulkan spekulasi terbentuknya poros PDIP-Gerindra. Selentingan yang menyebut belum adanya SK penugasan dari PDIP untuk pencapresan Jokowi, membuat dugaan berpindahnya dukungan partai banteng ke calon lain pun menguat. Akankah PDIP mengkhianati Jokowi?

"Betrayal is the only truth that sticks."

:: Arthur Miller (1915-2005), penulis drama ::

Kisah pengkhianatan dalam politik bukanlah hal baru. Mulai dari aksi Marcus Junius Brutus yang mengkhianati pamannya, Julius Caesar di Romawi, hingga Dona Marina di Meksiko yang lebih memihak penjajah Spanyol ketimbang rakyatnya sendiri adalah sebagian dari kisah tersebut.

Ini sama halnya dengan aksi Mir Jafar di India yang lebih memihak tentara Inggris, atau aksi penakluk asal Spanyol, Francisco Pizarro yang menghancurkan kerajaan Inca lewat taktik pengkhianatan.

Nyatanya, kini kisah serupa juga berpeluang untuk terjadi lagi di Indonesia. Apa pasal?

Adalah kabar rencana pertemuan Ketua DPP nonaktif PDIP, Puan Maharani dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang menjadi pemicu spekulasi itu. Pertemuan ini sempat digadang-gadang sejak beberapa waktu lalu, dan kini muncul lagi ke permukaan beberapa hari terakhir.

Wacana pertemuan ini memang disebut-sebut bertujuan untuk mendinginkan situasi politik nasional yang belakangan makin panas jelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Namun, spekulasi bermunculan terkait peluang PDIP dan Gerindra membentuk koalisi mengulang Pilpres 2009. Bahkan ada wacana yang muncul dari Partai Gerindra untuk memasangkan Prabowo dengan Puan sebagai pasangan capres-cawapres.

Tunggu dulu, bukannya PDIP sudah mengumumkan akan mendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 nanti? Kok malah berbelok?

Mungkinkah PDIP Khianati Jokowi?

Wacana koalisi PDIP-Gerindra ini memang paling kuat dihembuskan oleh Partai Gerindra sendiri. Secara politik, tentu ada maksud untuk membuat masyarakat bingung terkait manuver politik tersebut, yang diharapkan akan menaikkan citra politik partai berlambang kepala burung itu. Namun, jika wacana koalisi ini terbukti benar adanya, maka ini tentu akan menjadi manuver politik yang cukup mencengangkan untuk diamati.

Ketua DPP Gerindra, Desmon Mahesa misalnya menyebutkan bahwa jika menemukan kecocokan, pertemuan Puan dan Prabowo berpeluang mengulang kisah "asmara politik" Gerindra dan PDIP seperti pada Pilpres 2009 lalu.

Pinterpolitik.com
Pinterpolitik.com
Saat itu, Megawati Soekarnoputri yang berpasangan dengan Prabowo Subianto mewakili koalisi yang melawan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sekalipun kalah pada Pilpres 2009, kedekatan hubungan itu berlanjut pada Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu, ketika kedua partai ini mengusung pasangan Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) -- sekalipun kisah keduanya berujung menjadi tuduhan "pengkhianatan politik" saat Pilpres 2014. Walaupun demikian, hubungan Mega dan Prabowo disebut-sebut masih terjalin baik.

Sikap politik elit Gerindra yang kini mendukung koalisi PDIP-Gerindra ini sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada April 2018 lalu. Saat itu, petinggi-petinggi partai tersebut secara meyakinkan mengatakan bahwa koalisi PDIP-Gerindra tidak akan mungkin terjadi lagi di tingkat nasional. Tengok saja pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono yang menyebut partainya enggan berkoalisi dengan PDIP lagi.

Alasannya, selain karena sebagian besar kader Gerindra masih "dendam" atas pengkhianatan PDIP terhadap perjanjian Batu Tulis terkait dukungan kepada Prabowo untuk Pilpres 2014, ada sikap menghormati posisi PKS sebagai partai "partner in crime" -- tentu bukan dalam makna sebenarnya -- yang berpotensi menjadi pasangan Gerindra pada Pilpres 2019.

Namun, belakangan ini, posisi PKS memang mulai terlihat goyah dalam hal koalisi dengan Gerindra, seiring keengganan Prabowo mengambil cawapres-cawapres usulan PKS, serta makin dekatnya Gerindra dengan PAN.

gerindra-pdip-mau-malu-tapi-mau-5b20c322f133440e583f1653.jpg
gerindra-pdip-mau-malu-tapi-mau-5b20c322f133440e583f1653.jpg
Maka, perubahan sikap elit-elit Gerindra ini tentu saja menunjukkan perubahan peta politik yang sedang terjadi, di mana sangat mungkin Prabowo dan partainya kini jadi memperhitungkan semua kemungkinan politik yang bisa ditempuh, termasuk berkoalisi dengan PDIP.

Lebih jauh, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, Arief Poyuono bahkan mengatakan bahwa pihaknya yakin PDIP belum memberikan Surat Keputusan (SK) penugasan sebagai capres kepada Jokowi, sehingga peluang mendukung pasangan lain masih terbuka lebar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3