Mohon tunggu...
Siswa Rizali
Siswa Rizali Mohon Tunggu... Komite State Investment Fund

econfuse; ekonomi dalam kebingungan

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Strategi Sederhana Investor Awam

5 September 2020   11:48 Diperbarui: 5 September 2020   11:53 134 2 0 Mohon Tunggu...

Catatan terbaru dipublikasi di harian KONTAN, sabtu, 29 Agustus 2020

= = = = = = = = = 

Satu pelajaran terpenting dari kasus kerugian investasi saham, seperti yang dialami klien Jouska dan PT Jiwasraya, adalah: portofolio terkonsentrasi pada 5-10 saham, apalagi saham berfundamental lemah, sangat berisiko tinggi. Saham-saham dengan fundamental lemah juga dapat mengalami suspensi berkepanjangan dan akhirnya delisting sehingga menyebabkan kerugian total.

Sebenarnya investor ritel awam dapat tenang berinvestasi dengan cara: diversifikasi, realokasi aset (rebalancing), meminimumkan biaya transaksi, dan memanfaatkan keajaiban waktu untuk mengembangkan investasi (the magic of compounding).

Diversifikasi Kelas Aset

Diversifikasi adalah salah satu cara paling efektif meminimumkan kerugian akibat kegagalan sebuah investasi. Diversifikasi dapat dilakukan: di antara kelas aset (across asset class), antar instrumen di kelas aset yang sama (across securities), antar wilayah geografi (across market), dan antar waktu (across time).

Misal ada empat kelas aset finansial, yaitu: tabungan/deposito, valuta asing/emas, obligasi, dan saham. Setiap kelas aset mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing baik dari aspek likuiditas, risiko volatilitas, dan potensi imbal hasil.

Setiap kelas aset juga mempunyai siklus yang berbeda terkait dinamika pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Tabungan returnnya paling rendah dan paling berisiko kehilangan daya beli bila inflasi tinggi, namun tetap diperlukan saat mendesak atau melakukan investasi terbaik bila ada koreksi harga obligasi, emas, dan saham.

Dalam kondisi ekonomi stagnan dan inflasi rendah, seperti di era 2011-2020, obligasi menjadi pilihan investasi yang memberikan imbal hasil stabil yang lebih baik. Sedangkan saat ekonomi mengalami pemulihan dan tumbuh tinggi seperti era 2003-2010, maka saham memperoleh return paling tinggi, rata-rata mencapai 35% per tahun.

Emas dan valas menjadi pelindung dari kegagalan kebijakan moneter, namun tidak memiliki arus kas dan volatilitasnya sangat tinggi. Emas memiliki kelebihan dibandingkan valas, karena emas bisa menjadi pelindung nilai atas kegagalan kebijakan moneter domestik dan juga global, seperti di tahun 1971-1974, 2008-2010 dan 2020. Kelemahan emas adalah: risiko menyimpan aset berharga di rumah dan biaya transaksi relatif tinggi.

Perbedaan karakteristik aset dan korelasinya dengan siklus ekonomi, membuat setiap kelas aset mempunyai fungsi unik dalam struktur portofolio investor.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN