Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Menkes Terawan Sibuk atau Disembunyikan?

29 September 2020   15:08 Diperbarui: 29 September 2020   16:39 327 34 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menkes Terawan Sibuk atau Disembunyikan?
ilustrasi gambar dari kompas.com (ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI)

Sudah banyak yang tahu kalau Najwa Shihab atau lebih akrab disapa Mbak Nana, sangat tajam dalam setiap wawancaranya khususnya ketika berhadapan dengan politisi. Saat menjadi tamu pada salah satu acara talkshow, Najwa Shihab pernah memberikan penjelasan seperti ini. Untuk mewawancarai politisi yang piawai retorika kita memang harus tajam. Jika tidak tajam, politisi itu suka bersembunyi pada bahasa-bahasa bersayap yang penafsirannya bisa macam-macam.

Jika seorang politisi berkata 5, misalnya, harus dikejar lagi ini 5 beneran, 5 lebih sedikit atau 5 kurang sedikit. Atau jangan-jangan sebenarnya angkanya 4,275 tetapi dibulatkan ke 5 biar lebih cantik penampakkannya. Kira-kira gambarannya seperti itu.

Ini yang membuat kursi tamu di acara Mata Najwa bisa jadi kursi panas, terutama bagi narasumber yang tidak siap dengan wawancara ala Najwa Shihab. Di sisi lain, acara ini terus dinantikan karena kerap menghadirkan tokoh-tokoh terkait dari problem sosial atau politik yang sedang aktual.

Saat ini kita sedang menghadapi badai pandemi Covid-19, yang jumlah kasus hariannya terus menanjak. Per 28 September 2020 jumlah kasus Covid-19 di tanah air mencapai 278.722 kasus. Belakangan ini penambahan kasus harian sudah di atas 3.000 kasus, beberapa kali di atas 4.000 kasus.

Dalam penanganan pandemi skala nasional, kemenkes-lah institusi eksekutif yang memiliki otoritas tertinggi. Jadi sudah sewajarnya, kalau sosok Menteri Kesehatan menjadi figur yang paling ingin didengarkan suaranya terkait dengan kebijakan-kebijakan strategis yang diambil,  tidak terkecuali oleh program talkshow yang sudah punya nama besar seperti Mata Najwa.

Ketidakhadiran Menkes Terawan pada beberapa kesempatan Mata Najwa, membuat kita bertanya-tanya, mengapa Menkes susah mengalokasikan waktu untuk hadir dan berbagi kepada publik? Walaupun atmosfir wawancara Mata Najwa kerap "ditakuti" banyak politisi (seperti sudah dipaparkan di atas), pada sisi lain, wawancara tersebut juga merupakan kesempatan emas bagi narasumber untuk memberi penjelasan secara gamblang kepada publik.

Dengan fenomena kursi kosong ini, saya (dan juga pasti sebagian masyarakat yang lain) malah jadi curiga. Apa ada masalah serius dalam grand design penanggulangan Covid-19 tanah air yang berpotensi membuat masyarakat "shock" jika berhasil dikuliti oleh Najwa Shihab?

Memang Pak Terawan ini sosok yang tidak biasa, agak nyentrik, cenderung berpikir out of the box, dan kerap mengambil posisi yang berseberangan dengan pandangan arus utama. Bahkan juga tercatat pernah memiliki relasi yang kurang akur dengan IDI. Ada sesuatu yang dilihat oleh Joko Widodo dalam karakter Pak Terawan yang membuatnya dipercaya menduduki kursi Menkes pada periode ke-dua pemerintahannya.

Sayangnya, walaupun sudah mengemban jabatan yang lebih strategis (dan politis) Pak Terawan belum bisa sepenuhnya menyesuaikan diri. Pak Terawan masih jadi sosok yang eksentrik dengan ucapan-ucapan yang penuh spontanitas. Dan dalam dunia politik yang penuh taktik dan retorika, karakter seperti ini bisa jadi kontraproduktif.

Ini yang membuat saya juga sampai pada kesimpulan ini. Jangan-jangan ketidakhadirannya di Mata Najwa bukan atas inisiatifnya sendiri, tapi karena pertimbangan dari berbagai pihak terkait dan mungkin juga atas instruksi dari presiden sendiri. Pak Terawan cukup berpikir dan mengeksekusi dari balik layar. Urusan konpers dan ngomong di depan awak media (apalagi yang "riskan" seperti Mata Najwa) kasih ke orang lain saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x