Mohon tunggu...
Philip Manurung
Philip Manurung Mohon Tunggu... Pengajar

lahir di Medan, merantau ke Jawa, tinggal di Sulawesi, melayani Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Mie Pinangsia Pasar Gedhe: Mewah dengan Lanskap Titanic

3 Maret 2019   17:48 Diperbarui: 3 Maret 2019   17:52 0 1 1 Mohon Tunggu...

Dari November 2016 hingga Oktober 2017 yang lalu saya menjalani masa praktik di Surakarta. Untuk orang yang terbiasa merantau seperti saya, tidaklah sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Sebelumnya saya pernah mengenyam pendidikan selama 5 tahun di Yogyakarta yang bertetangga dengan Solo.

Lagipula, saya tidak pernah rewel soal makanan. Sebagai ras Batak, secara harfiah saya adalah omnivora dalam definisi sebenarnya. Slogan yang diajarkan kepada saya adalah: "Segala yang berkaki empat boleh dimakan, kecuali meja; itupun karena keras."

Meskipun begitu, rasa bukanlah kualitas yang dapat dikorbankan sebab lidah kami dididik dengan keras: kalau asin, asin sekalian; gurih, gurih sekali; pedas, pedas sepedas-pedasnya. Tidak boleh ada rasa yang abu-abu.

Sebagai orang yang terbiasa dengan kelezatan mie pangsit Siantar, saya pesimis dapat menemukan kenikmatan yang setara itu di kota lain. Maka, tidak ada ekspektasi berlebih ketika suatu hari saya diajak makan siang di Mie Pinangsia di Pasar Gedhe.

Mewah dengan View Pusat Kota

Tiba lepas tengah hari, kami memarkir mobil di sebelah Utara Pasar Gedhe. Dari situ kami berjalan menyusuri pinggir pasar dan menyeberang jalan Urip ke arah bangunan di sebelah Barat. Dulu katanya di jalan itu terdapat jembatan penyeberangan.

Sampailah kami  di dasar bangunan bergaya art-deco yang sekarang menjadi sentra buah-buahan. Harus diakui, lokasi warung Mie Pinangsia ini agak tersembunyi. Pelancong tidak akan menyadari keberadaannya dari bawah kecuali ia mendongak dan melihat spanduk namanya. Itulah alat promosi satu-satunya.

Dan, naiklah kami melalui tangga di samping ATM.

Warung Mie Pinangsia berada di lantai 2 persis di sebelah kiri tangga. Tempatnya sangat sederhana. Hanya empat atau lima meja tersedia dan sebuah dapur di bagian dalam sebagai tempat produksi. Semua meja terletak di pinggir, menempel pada pagar pengaman. Masing-masing mendapat sekapling pemandangan pusat kota Surakarta. Berdiri di situ membuat saya membayangkan adegan Titanic yang termasyhur ketika DiCaprio dan Kate Winslet berdiri di pagar anjungan kapal.

Saya langsung terpikat. Suasana di lantai dua itu menyerupai oase di padang gurun. Pengunjung terlindung dari sengatan matahari, dan jauh dari keributan pasar di bawah. Sangat menenteramkan hati. Saya hampir lupa alasan kunjungan saya sampai mata saya menatap display menu yang berdiri di atas meja.

Keunggulan Tekstur dan Bawang Putih

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x