Philip Manurung
Philip Manurung Dosen

lahir di Medan, merantau ke Jawa, tinggal di Sulawesi, melayani Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sana Mens Sana Fide

4 Februari 2019   13:28 Diperbarui: 4 Februari 2019   14:11 35 2 1

Kata dasar "Tuhan" di dalam sila "Ketuhanan yang Maha Esa" agaknya belakangan ini lebih suka diterjemahkan sebagai "agama". Di Indonesia, beberapa political-enterprise gemar memakai agama yang dianggap esa untuk menyiram rating elektabilitas mereka. Dalam masyarakat kita yang kadung "mabuk-agama" dan "mabuk-persekusi", aktor-aktor politik menikmati panen raya di kantong-kantong konstituen yang agamawi.

Diktum yang sementara ini dianut oleh aktor-aktor politik adalah "meski tidak saleh, yang penting tampak saleh." Lihat saja jajaran baliho memuat wajah-wajah caleg yang berlomba tampak saleh dan santun. Pertanyaan yang harus dianalisis, darimana datangnya kebutuhan itu?

Jualan citra sebagai orang saleh hanya manjur bila ada orang-orang yang mau membelinya. Di dalam pasar politik saat ini, pembeli potensial bagi produk citra agamawi itu tentu saja adalah semua insan beragama. Atau, apakah semuanya?

Insan Agamawi yang Tidak Percaya Diri

Disadari atau tidak, pribadi yang menilai dirinya lebih rendah (dari kenyataan) menampilkan gejala kurang percaya diri (low-self-esteem). Orang-orang seperti ini, mudah digelisahkan oleh kegagalan dan mudah tertekan. Gejala ini dapat menghinggapi semua insan, yang ber-Tuhan maupun ateis.

Rukun iman (rules of faith) di dalam agama menekankan sejumlah tuntutan atas insan yang mengaku ber-Tuhan. Tuntutan-tuntutan itu, baik positif (perintah) maupun negatif (larangan), dimaksudkan agar umat beragama beroleh akses ke surga/ firdaus/ nirwana. Pribadi yang kompetitif menerima tuntutan agamawi ini sebagai ajang pembuktian diri, sedangkan yang rendah diri merasa tertekan dan tidak berpengharapan (hopeless).

Dalam usaha mendapatkan gratifikasi secara instan, pribadi yang rendah-diri-rohani (spiritually-low-self-esteem/ SLSE) akan memilih salah satu dari beberapa opsi: memproyeksikan imannya kepada citra seorang saleh (projected-faith), mengadopsi iman komunal (borrowed-faith), atau menginisiasi kebajikan tertinggi pengorbanan diri (blitz-faith). Karena dibutuhkan keberanian besar untuk mengambil langkah terakhir, dan adalah lebih mudah, "pengidap" SLSE cenderung mengimputasi diri ke dalam suatu identitas kolektif. Di sanalah ia memperoleh kepercayaan diri.  Ekspektasi inilah yang sering dieksploitasi di dalam ruang-ruang politik.

Membangun Kepercayaan-Diri-Rohani pada Insan Agamawi

Kepercayaan diri hanya sebanding dengan pemahaman harga diri. Memulihkan citra diri umat seharusnya merupakan bagian dari pelayanan pemuka-pemuka agama. Banyak gereja dan yayasan Kristen telah menyediakan fasilitas konseling nirlaba. Meskipun begitu, ada pula pemuka agama yang menabukan pendekatan psikologis.

Insan-insan agamawi perlu menghayati kembali natur citra dirinya yang sejati. Mereka dapat menemukannya di dalam Kitab Suci. Alkitab, misalnya, mengisahkan bahwa manusia diciptakan menurut citra Allah, dan selanjutnya, Yesus Kristus mati untuk menebus mereka. Betapa tinggi derajat manusia, dan betapa hinanya bila ia dieksploitasi demi kepentingan politis yang fana.

Di Indonesia belum ada studi yang khusus menyelidiki tingkat kepercayaan diri insan agamawi terhadap keimanannya. Pengetahuan akan hal ini akan menolong para pemuka agama, dan pada gilirannya pemerintah, untuk mengambil tindakan-tindakan edukatif dan kuratif untuk mewujudkan umat beragama yang semakin menghargai keragaman justru karena pede dengan imannya.