Mohon tunggu...
Phadli Harahap
Phadli Harahap Mohon Tunggu... Freelancer - Aktif di Komunitas Literasi Sukabumi "Sabumi Volunteer"

Seorang Ayah yang senang bercerita. Menulis dan Giat Bersama di sabumiku.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Pantai Kuta Mandalika, Kain Tenun dan Kearifan Budaya Lokal sebagai Potensi Wisata Dunia

18 November 2021   19:58 Diperbarui: 18 November 2021   20:01 198 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pantai Kuta Mandalika Tahun 2021. Foto Koleksi Pribadi

Pengalaman berlibur di Pantai Kuta Mandalika adalah kenikmatan tiada dua dan tidak pernah terlupakan, masih terekam jelas diingatan bisa menyentuh langsung pasir merica dan melihat langsung para perempuan sedang menenun kain songket. Pada tahun 2012, setelah menuntaskan semua misi pekerjaan di Lombok, saya dan tiga orang teman ingin berwisata ke Pantai Senggigi. Namun rencana tersebut berubah setelah mendapatkan saran dari resepsionis hotel Giri Putri Lombok tempat kami menginap.

Resepsionis hotel tersebut menjelaskan kalau Senggigi terlalu ramai kunjungan wisatawan lokal maupun asing. Jika niatnya ingin bersantai dan menikmati keindahan alam, ia merekomendasikan untuk mengunjungi Pantai Kuta Mandalika, Lombok. Ia menerangkan bahwa Pantai Kuta adalah objek wisata alam dengan panorama yang cantik, memiliki putih yang berbeda, air laut dengan nuansa benar-benar sangat biru, dan bisa melihat bule berjemur di tepi pantai di sana.

Kami pergi ke pantai Kuta Mandalika dengan menyewa mobil yang dipesan atas saran pihak hotel juga. Lokasi hotel yang berada di Selaparang, pusat kota Mataram berjarak sekitar 50 km atau harus menempuh waktu selama 1 jam menuju pantai. Lalu, perjalanan dilakukan sekitar pukul 11.00 WITA ketika matahari sedang terang-terangnya.

Ternyata, oh ternyata perjalanan wisata kala itu sungguh sangat menarik. Karena niat awalnya hanya sekedar menginjakkan kaki di pantai, tetapi malah mengenal budaya lokal dan melihat proses kerajinan tangan secara langsung.

Mengenal Langsung Desa Wisata Sade, Belajar Menenun, dan Bersentuhan dengan Pasir Merica

Ketika menuju Pantai Kuta kami melewati Desa Sade Lombok yang ternyata sangat terkenal sebagai salah satu Kampung Tradisional Suku Sasak. Karena tetap mempertahankan tata cara kehidupan dan keaslian budaya lokal yang bermata pencaharian sebagai petani dan identik dengan perempuan yang menenun kain songket. Serta, rumah adat tampak dominan terbuat dari kayu berdinding ayaman bambu, dan atap alang-alang kering.

Setelah itu, sopir yang mengantar kami menawarkan untuk singgah ke sebuah Sentra Kerajinan Tenun. Dua orang teman perempuan saya pun mencoba untuk menenun sebentar di sana. Seorang penenun mengatakan bahwa  menurut kepercayaan orang Sasak, "Kalau perempuan sudah bisa menenun, berarti dia sudah siap untuk menikah."

Kedua teman saya pun semangat belajar menenun sembari berdoa, "Dekatkanlah jodohku ya Allah." Kami tidak lupa berkeliling area penjualan kain tenun yang didampingi pemandu lokal yang mampu menjelaskan mengenai budaya sasak, cara menenun kain, dan ragam jenis kain songket yang ada di sentra kerajinan tenun dengan baik. Setelah puas 30 menit berada di sana, waktunya pergi ke Pantai Kuta Mandalika.  

Pada waktu itu, jalan  menuju Pantai Kuta lumayan mulus dan suasananya sepi. Jadi penasaran bagaimana perubahan kondisinya sekarang ini. Sehingga, perjalanan terasa lancar tanpa hambatan sama sekali. Lalu, sampailah di pantai yang berada di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Pajang garis pantai sepanjang 7,2 Kilometer.

Tak lama turun dari mobil, mulut tak kuasa ingin mengucap, "Subahanallah indah nian ciptaanNya." Sepertinya Pantai Kuta Mandalika Lombok ini ketika Tuhan terlampau bahagia, bukan sekedar cuma tersenyum. Iringan angin seoalah manarik tubuh dan jejak kaki di pasir putih seakan memaksa untuk menarik langkah segera beranjak ke tepi pantai.

Kemudian, deburan ombak menyambut kedatangan kami berganti-gantian. Benar kata resepsionis hotel tersebut bahwa pantai Kuta Mandalika memang cantik sekali. Sangkin terpana menatap menatap ke arah lautan, tak terasa sebelah sepatu milik teman saya hanyut digulung ombak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Selengkapnya
Lihat Travel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan