Mohon tunggu...
PETRUS PIT SUPARDI
PETRUS PIT SUPARDI Mohon Tunggu... Penulis - Menulis untuk Perubahan

Saya lahir di Ohe, Sikka, Flores, NTT dan besar di Merauke, Papua. Menyelesaikan pendidikan SD-SMA di Merauke. Kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura. Saat ini, bergabung bersama JERAT dalam penelitian masyarakat hukum adat di kabupaten Keerom, provinsi Papua.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Eksistensi OAP Versus HIV-AIDS

27 November 2022   18:47 Diperbarui: 27 November 2022   18:56 165
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua, September 2022.

Kekinian, eksistensi orang asli Papua (OAP) sedang terancam punah. Salah satu ancaman serius berasal dari penyakit HIV-AIDS. Sejak pertama kali ditemukan di Merauke, pada tahun 1992 sampai saat ini, setelah tiga puluh tahun, per 30 September 2022, kasus HIV-AIDS di Provinsi Papua menjadi 50.011 kasus. Data ini, belum termasuk Provinsi Papua Barat.

Data di atas berasal dari Sistem Informasi HIV-AIDS (SIHA), yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua, yang berasal dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Provinsi Papua. 

Dengan adanya pemekaran provinsi di tanah Papua, ke depan kita akan membaca data-data tersebut di Provinsi Papua, Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Pegunungan. Sedangkan di Provinsi Papua Barat, kita juga akan melihat data HIV-AIDS di tingkat Provinsi Papua Barat Daya, yang baru saja dimekarkan dengan ibu kota di Sorong.

Secara umum, penularan HIV-AIDS di tanah Papua terjadi melalui kontak seksual. Hubungan seksual yang tidak sehat, berganti-ganti pasangan, tanpa menggunakan kondom menyebabkan HIV-AIDS melambung tinggi dalam waktu tiga puluh tahun ini. 

Di sisi lain, tingginya angka HIV-AIDS di tanah Papua mengindikasikan adanya kegagalan Negara dan Pemerintah dalam menerapkan kebijakan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS (P2HA).

Kita mengetahui bahwa HIV-AIDS dapat menular melalui kontak seksual yang tidak aman, jarum suntik dan transfusi darah. Di tanah Papua, kita telah mengetahui bahwa hampir seluruh kasus HIV-AIDS terjadi melalui kontak seksual yang tidak aman. Meskipun demikian, upaya pencegahannya tampak lamban dan tidak berhasil menurunkan kasus HIV-AIDS.

Kita dapat melihat bahwa saat ini, tidak banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang bergerak melakukan advokasi HIV-AIDS. Demikian halnya, pemerintah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota kurang memberikan perhatian serius terhadap P2HA. 

Komisi Pemberantasan Korupsi Daerah (KPAD) mati suri. Dinas Kesehatan pun sangat terbatas dalam memberikan sosialisasi tentang HIV-AIDS kepada masyarakat.

Situasi demikian diperparah lagi dengan perilaku seksual yang tidak aman. Orang mempraktekkan seks bebas, tanpa malu dan takut akan terinfeksi HIV-AIDS. Orang sudah tidak takut pada larangan di dalam adat dan budaya. Orang sudah tidak peduli lagi dengan ajaran agama. Akibatnya, kita bisa lihat sekarang, ada banyak orang asli Papua mati muda karena terinfeksi HIV-AIDS.

Kita bertanya, "Siapa mau peduli dengan HIV-AIDS yang mengancam eksistensi OAP?" Kita harus jujur mengakui, saat ini tidak banyak orang mau peduli dengan HIV-AIDS di tanah Papua. Kita melihat bahwa tidak banyak tokoh adat, tokoh agama, Pastor, Pendeta, pemerintah yang mau peduli pada HIV-AIDS yang menginfeksi OAP.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun