Mohon tunggu...
Petra Teofani
Petra Teofani Mohon Tunggu... Writer

Senja tak pernah menguasai hari, namun ia mengguratkan rindu pada sanubari

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Ketika Aku Mencintai Api

19 September 2019   23:20 Diperbarui: 19 September 2019   23:25 71 4 1 Mohon Tunggu...
Cerpen | Ketika Aku Mencintai Api
raspberrytart.tumblr.com

"Bapak didik kamu jadi laki-laki yang tegar, bukan anak cengeng."

Selalu terngiang di telingaku kalimat bapak. Dari kecil beliau mendidikku tidak boleh menangis. Menangis hanya untuk perempuan, begitu kata beliau. Perempuan boleh berhati rapuh, laki-laki tidak. Harus selalu kuat, biar bisa melindungi perempuan.

"Malu, cowok kok nangis."

Tidak hanya bapak, orang-orang di sekelilingku juga. Anak laki-laki tidak pantas menangis, bahkan mbrambang (mata berkaca-kaca) pun tidak boleh.

Biasanya aku setuju-setuju saja. Aku hampir tidak pernah menangis ketika menjalani kemoterapi atau rangkaian pengobatan kanker leukimiaku yang lain. Bagaimana tidak, setiap kali mataku berkaca-kaca bapak langsung memandangku dengan tajam. Tatapan itu cukup membuatku menelan tangis, mengingat betapa keras telapak tangan bapak ketika memukulku waktu aku kecil jika menangis.

Aku baru duduk di bangku sekolah dasar ketika aku mulai sering pingsan setelah pelajaran olahraga. Pernah juga aku tak sadarkan diri saat jam istirahat ketika sedang bermain dengan teman-temanku. Orang tuaku yang khawatir segera membawaku ke dokter. Singkat kata, setelah serangkaian pemeriksaan aku didiagnosis menderita leukimia.

Karena masih kecil, aku tidak begitu paham apa yang terjadi. Orang tuaku lebih banyak menyembunyikan fakta-fakta mengerikan dariku. Contohnya fakta bahwa hidupku mungkin tak akan lama lagi.

Bagaimanapun masih ada harapan hidup bagiku. Caranya dengan donor sumsum tulang belakang. Seluruh keluargaku diperiksa, apakah ada yang cocok denganku atau tidak. Ternyata kakakku cocok. Maka keluargaku mulai menjadwalkan operasi donor tersebut.

Seluruh proses itu sungguh membuatku menderita. Aku tertinggal banyak dalam pelajaran karena tidak bisa masuk sekolah. Ditambah lagi aku sudah muak merasa kesakitan ketika menjalani semua kemoterapi, pengobatan, dan tes-tes leukimia ini.

Kemudian aku mengenal seorang gadis berambut coklat halus dan berombak yang sangat ramah. Namanya Talia. Kami bertemu di kantin rumah sakit tempat kami berdua dirawat. Kesan pertamaku adalah ia gadis berwajah paling tidak proporsional yang pernah kutemui. Bagian bawah wajahnya, mulai dari tulang pipi sampai dagu terlihat kurus dan sempit, tetapi bagian pelipis dan dahinya lebar. Dilihat sepintas wajahnya mirip segitiga terbalik.

Talia itu anak yang sangat optimis. Walaupun ia juga baru didiagnosis menderita kanker leukimia, tetapi ia meyakini dengan keteguhan yang tak tergoyahkan bahwa ia akan sembuh. Ia sering membicarakan masa depan dan impiannya padaku. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menjadi sahabat karib. Aku bisa bilang kami sudah menjadi sahabat sejiwa.

Hidup ini memang adil. Akhirnya doa kami berdua untuk sembuh benar-benar dikabulkan. Hanya saja dengan cara yang sedikit berbeda.

Aku yang masih berdiri di bumi ini dan Talia yang terbaring di dalam peti, kami berdua dalam keadaan sehat sempurna. Kanker tak lagi menggerogoti kami berdua.

Kemoterapi dan operasi tidak membuatku menangis, tapi ini lain. Ini adalah sahabat sejiwaku yang kini telah pergi. Meninggalkan separuh jiwaku yang koyak berdarah-darah.

Sekarang katakan padaku, bagaimana rasanya jika tubuhmu dibelah dua?

Orang bodoh pun pasti tahu rasanya karena orang bodoh juga bisa merasa sakit. Sampai menjerit hingga pita suara putus pun rasanya tak cukup.
Kau pikir jiwa tak punya perasaan?

Aku baru duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika mengantarkan sahabatku, belahan jiwaku menuju perhentian terakhirnya.

Setidaknya di saat-saat terakhirnya ia telah mewujudkan salah satu dari sekian banyak impiannya. Memiliki pacar. Sungguh aku tidak tahu apakah itu impian yang wajar bagi gadis seumurannya, tapi aku bahagia telah mewujudkannya. Kami resmi menyandang status sebagai pacar satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke-14. Tepat tiga bulan sebelum ia pergi.

Hatiku terasa tertancap pisau mengingatnya. Separuh diriku telah merelakannya pergi, sadar bahwa aku bukan siapa-siapa yang berhak memperpanjang penderitaannya, tapi separuh diriku yang lain masih ingin menggenggam tangannya yang kini sudah terkubur tanah merah.

"Ar, ayo pulang. Lihat, ibumu sudah lelah. Sudah cukup kau memandangi nisan Talia, dia tetap tidak bakal bangkit lagi," bapak menyentuh bahuku. Dari sudut mataku aku bisa melihat ibu menggeleng perlahan, memberi tanda pada bapak agar tidak mengusikku. Namun aku hanya mengangguk pada bapak dan mengikuti beliau berjalan pergi.

Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa. Seolah kepergian Talia tidak ada artinya. Seolah hanya aku yang masih merasakan kesakitan itu dalam dada.

Semua laki-laki dalam keluarga besarku selalu diajari untuk tidak mengekspresikan emosi. Apalagi kesedihan. Jangan tunjukkan, tahan saja dalam hati. Tetapi lama-lama kesedihan itu semakin menghimpit. Menyesakkan dada, bahkan menghambat napasku. Aku tidak bisa menahannya lebuh lama lagi.

Tugas-tugasku terbengkalai, nilai-nilai menurun, tidak  bersemangat, dan tidak berminat bergaul. Demikianlah guru-guru mendeskripsikan perubahan drastis pada diriku. Dan satu lagi yang paling parah, yang membuat bapak murka adalah bajuku mulai kerap berbau rokok.

"Siapa yang ajari kamu merokok, hah? Apa kamu tidak pernah belajar dari bapakmu ini, yang kena infeksi saluran pernapasan gara-gara merokok sejak muda? Kamu mau cari mati? Jangan main-main kamu sama itu rokok. Apalagi kamu baru kelas tiga SMP. Hidupmu masih panjang. Belajar yang baik, jangan aneh-aneh."

Hatiku memberontak. Temanku, Ray bilang merokok bisa meringankan pikiran. Itu adalah obat andalannya saat sedang banyak masalah. Jika tidak dengan merokok, lalu bagaimana lagi aku bisa melepaskan semua pikiran ini? Tapi tentu saja aku tidak bisa membantah bapak. Bagaimanapun, bapak adalah panutanku.

Satu atau dua minggu kemudian bapak membawaku ke seorang psikolog. Barulah aku tahu, ternyata ibu yang memberitahu bapak bahwa mungkin aku punya masalah berat hingga aku berubah seperti ini. Mungkin ini ada hubungannya dengan kematian Talia. 

Ah... ibu memang satu-satunya orang yang bisa memahamiku dengan baik. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpamu, ibu....

(Bersambung)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x