Bola Pilihan

Socrates, Sang Filsuf Brazil

12 Juli 2018   12:07 Diperbarui: 12 Juli 2018   12:04 283 2 2
Socrates, Sang Filsuf Brazil
Socrates, gelandang serang tim nasional Brazil PIala Dunia 1982

Socrates yang selama ini kita kenal adalah seorang filsuf dari Athena, Yunani yang terkenal dengan cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolut atas satu permasalahan melalui satu dialektika. Akan tetapi, Brazil juga mempunyai seorang filsuf sepak bola yang terkenal di masanya. 

Scrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira, MD (Doctor of Medicine) atau dikenal dengan Socrates lahir di Belm do Par, Brazil pada 13 Februari 1954. Hal luar yang biasa adalah Socrates bukan hanya maestro di lapangan hijau, tetapi juga maestro dalam bidang akademiknya, yaitu bidang kedokteran. Ia memperoleh gelar MD (Medical Degree) dari Faculdade de Medicina de Ribeirao Preto.

Sungguh hal luar biasa mengingat dia memperoleh gelarnya di bidang kedokteran pada saat dia masih sebagai pemain sepakbola. Socrates merupakan pemain Brazil yang berposisi sebagai attacking midfielder (AMF), tetapi dapat juga berposisi sebagai second striker (SS) maupun sebagai central midfielder (CMF). Socrates pernah bermain di Piala Dunia edisi 1982 di Italia dan Piala Dunia 1986 di Meksiko. Pada Piala Dunia 1982 dia menjabat sebagai kapten. Walaupun dia tidak berhasil membawa Brazil sebagai juara dunia sepanjang karirnya, dia termasuk salah satu pemain yang dipilih Pel sebagai 100 pesepak bola terbaik FIFA.

Hal yang cukup unik dari Socrates adalah dia pemain Brazil dengan tinggi badan 193 cm. Untuk ukuran pemain Brazil, dia berukuran sangat besar untuk posisi gelandang, mengingat rata-rata tinggi pemain gelandang Brazil sekitar 175-180 cm. Dengan badannya yang sangat besar, dia juga seorang pengumpan yang luar biasa dan dapat mengorganisasi timnya dengan baik. Selain itu, dia memiliki ciri khas dengan tidak menggunakan pelindung tulang kering (deker). Dia juga memiliki umpan terobosan akurat hingga kemampuan mencetak gol dengan kedua kakinya. Kemampuannya membaca permainan lawan sangat diakui dan Socrates terkenal dengan passing terkenalnya yang disebut blind heel pass (passing menggunakan tumit tanpa melihat).

Socrates tampil sebanyak 62 kali sebagai pemain tim nasional Brazil dan mencetak 22 gol. Tendangan gledeknya tentu membuat kiper manapun takut untuk menangkis tendangannya. Hal ini diakui oleh kiper tim nasional Brazil Piala Dunia 1982, Waldir Peres. Salah satu gol terkenal pemain bernomor punggung 8 tersebut adalah pada saat Piala Dunia 1982 di mana saat itu Brazil mengalahkan Italia dengan skor 4-1. 

Pada saat itu, dia menerima umpan terobosan dari sisi kiri pertahanan Italia, kemudian dia melakukan sprint dan menendang bola dari sudut sempit. Bola pun meluncur deras kolong kaki kiper Italia. Socrates memulai karir profesionalnya dari klub Botafogo SP pada tahun 1974, kemudian pada tahun 1978 pindah ke klub Corinthians. Di sana, dia tampil sebanyak 297 kali dengan 172 gol. Jumlah gol ini merupakan gol terbanyak yang pernah ditorehkan olehnya sepanjang karirnya.

Dia juga pernah bermain di klub Fiorentina. Dia hanya bermain satu musim dengan mencatatkan 25 penampilan dan 6 gol. Hal yang unik adalah dia dikontrak oleh klub Garforth Town pada Northern Counties East Football League di Inggris sebagai pelatih sekaligus pemain. Dia pernah bermain sebagai pemain pengganti melawan Tadcaster Albion selama 12 menit. Hal itu terjadi pada 20 November 2004. Selain aktif sebagai pesepakbola, ia juga aktif sebagai politisi. 

Ketika Brazil ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014, ia mengkritik pemerintah Brazil, di mana seharusnya pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan daripada membangun fasilitas Piala Dunia. Selama dia berkarir di Corinthians, ia bersama teman-temannya mendirikan organisasi masyarakat bernama Corinthians Democracy. Mereka melakukan protes terhadap rezim yang berkuasa terhadap para pemain sepak bola. Mereka juga memberikan dukungan terhadap demokrasi dengan menggunakan jersey bertuliskan Democracia Corinthiana.

Selain itu, Socrates bersama Wladimir, fullback Corinthian, juga menambah sablonan di bawah nomor punggung mereka dengan tulisan Vote on 15th. Hal ini berkaitan dengan pemilihan pertama kali yang dilakukan pada tanggal tersebut setelah militer mengambil alih pada tahun 1964. Slogan yang dicetuskan oleh Socrates adalah Ganhar ou perder, masa sempre com democracia, yang berarti menang atau kalah, demokrasi tetap menjadi pilihan.

Pemain yang mengidolakan Fidel Castro ini dikenal sebagai peminum dan perokok berat. Kehidupan pribadinya tidak semulus karir sepak bolanya. Namun, dia selalu membantahnya. 

Sayangnya, kebiasaan Socrates tersebut yang turut mengakibatkan kematiannya. Ia meninggal dunia di So Paulo, Brazil pada 4 Desember 2011 di umur 57 tahun. Penyebabnya adalah komplikasi dan keracunan makanan. Walaupun Socrates tidak setenar maupun sehebat Pel, tapi dia tetap dikenang sebagai salah satu legenda sepak bola Brazil sepanjang masa. Socrates merupakan dokter dan filsafat jenius yang menunjukkan magisnya di lapangan sepak bola dengan blind heel passnya dan tendangan gledeknya. 

Walaupun tim nasional Brazil tidak bermain lagi di Piala Dunia 2018, jangan nonton bola tanpa kacang garuda. Siapa jagoanmu di final Piala dunia 2018?