Mohon tunggu...
Aam Permana S
Aam Permana S Mohon Tunggu... freelance

Menulis, jalan-jalan, merekam kejadian dan nonton sama istri. Mengalir, semuanya mengalir saja; patanjala

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Miris, Talangan Air Saluran Irigasi Digunakan Warga sebagai Sarana Penyebrangan

16 Agustus 2018   10:15 Diperbarui: 16 Agustus 2018   10:19 0 0 0 Mohon Tunggu...
Miris, Talangan Air Saluran Irigasi Digunakan Warga sebagai Sarana Penyebrangan
Warga berjalan di talang air/dokpri

Warga dusun di Kabupaten Sumedang memanfaatkan talang air saluran irigasi untuk menyeberangi Sungai Cipeles, hingga saat ini. Salah satu alasannya, karena talang peninggalan zaman Belanda tersebut, bisa mempersingkat  warga keluar dan masuk ke dusun mereka.

"Sebenarnya, selain talang, ada jembatan gantung Burujul. Namun karena jembatan itu jaraknya jauh, warga tetap menggunakan talang, hingga saat ini," kata Deden, seorang tukang ojeg di Dusun Nangtung RT 04/08, Desa Ciherang, Kec. Sumedang Selatan.

Adapun warga yang biasa menggunakan talang tersebut, adalah warga yang tinggal di empat dusun di daerah perbatasan Kecamatan Sumedang Selatan dan Sumedang Utara. Keempatnya adalah Dusun Nangtung, Rancamaya dan Pangangonan, Desa Ciherang, Kec. Sumedang Selatan, dan  Dusun Ciwaru, Desa Girimukti, Kec. Sumedang Utara.

Selain itu, warga yang biasa menggunakannya, adalah peziarah yang akan menuju Makam Keramat Gunung Nangtung, yang biasanya dari luar kota.

Deden menuturkan, menyeberangi talang air irigasi itu sebenarnya dilarang karena berbahaya. Beberapa tahun lalu, pemerintah setempat bahkan sempat memasang plang larangan menyeberang kepada warga.

Akan tetapi, karena  talang itu bisa mempersingkat waktu tempuh, warga hingga saat ini tetap memanfaatkannya, termasuk anak Sekolah Dasar yang berangkat dan pulang dari sekolah, serta warga yang akan belanja ke pasar karena letaknya dekat dengan jalan Raya Bandung-Cirebon.

Menurut keterangan, warga setempat menggunakan talang saluran irigasi terbuat dari besi untuk penyebarangan tersebut sudah cukup lama.  "Kalau benar cerita orang tua, sejak dibangun Belanda dulu, sudah dimanfaakan warga sebagai penyebarangan," kata Teten, warga Dusun Nangtung.

Aslinya,  talang air tersebut tidak dipasangi papan dan pegangan. Namun sejak digunakan sebagai penyebarangan, warga memasang dua kayu atau papan tebal sebagai pijakan. Warga juga sengaja memasang pegangan dari kawat yang kokoh, sehingga cukup aman.

Namun demikian, tetap saja membahayakan. Kurang konsentrasi saat menyeberangan, bisa saja jatuh ke sungai berbatu di bawahnya yang tinggi sekitar 12 meter dari talang. Lebar talangnya sendiri tidak kurang dari delapan meter.

Makanya, jangan menyeberangi talang air itu ya...!***