Mohon tunggu...
Pepih Nugraha
Pepih Nugraha Mohon Tunggu... Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016.

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016. Setelah menyatakan pensiun dini, hari-hari diisi dengan membaca, menulis, mengajar, dan bersosialisasi. Menulis adalah nafas kehidupan, sehingga baru akan berhenti menulis saat tidak ada lagi kehidupan. Bermimpi melahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal. Saat ini mengelola portal UGC politik https://PepNews.com dan portal UGC bahasa Sunda http://Nyunda.id Mengajar ilmu menulis baik offline di dalam dan luar negeri maupun mengajar online di Arkademi.com.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

10 Langkah Persiapan Wawancara Melalui Zoom

25 Agustus 2020   07:12 Diperbarui: 25 Agustus 2020   10:18 211 18 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
10 Langkah Persiapan Wawancara Melalui Zoom
Ilustrasi wawancara via zoom (Foto: CNN Indonesia)

Teknologi digital hadir untuk mempermudah pekerjaan. Siapa sangka Zoom, sebagai penyedia layanan video digital interaktif, menemukan momentumnya saat pagebluk corona ini melanda dunia, termasuk Indonesia. Sebelum Covid-19 mewabah, tidak banyak orang mengenal aplikasi Zoom, Meet atau Google Hangout.

Manusia selalu mencari celah dalam keterbatasannya, selalu berusaha menghindar dari kesulitan yang memerangkapnya secara konyol. Memang itulah fitrah manusia, tidak lekas menyerah pada keadaan yang datang tiba-tiba tanpa kita duga.

Pandemi bukan berarti aktivitas berhenti. Diam di rumah atas nama "lock down", PSBB atau karantina, bukan berarti tidak bisa bekerja. Badan boleh terkurung, pikiran harus jalan terus. Badan diam, pikiran bekerja.

Dalam kasus tidak ada pandemi, saya seharusnya bertemu banyak narasumber untuk penulisan beberapa buku biografi. Satu narasumber, bahkan bisa saya temui berkali-kali untuk kepentingan ini. Namun, narasumber juga terkunci di rumah, tidak bisa ke luar, pun tidak mau berinteraksi langsung saat wawancara. Lalu apa solusinya: ZOOM!

Semua tahu bagaimana aplikasi digital ini bekerja, tetapi saya tidak ingin membahas dari sisi teknologinya, misalnya bagaimana cara mengoperasikan Zoom. Saya membahas dari sisi kesiapan penulis dalam melakukan wawancara dengan narasumber lewat Zoom, Meet atau Google Hangout, khususnya saat wawancara melibatkan lebih dari empat orang.

Prinsip dasarnya sebenarnya sama saja dengan melakukan wawancara fisik, yaitu:

  1. Membuat janji dengan narasumber kapan wawancara dilakukan, jangan lupa sebutkan berapa anggota tim (penulis) yang akan terlibat dalam wawancara nanti.
  2. Sebaiknya daftar pertanyaan dikirim sebelum wawancara dilakukan, hal ini untuk memberi kesempatan kepada narasumber menyiapkan jawaban yang lebih akurat, sedangkan varian dan subvarian pertanyaan bisa muncul saat wawancara dilakukan.
  3. Tepati janji kapan wawancara dengan narasumber dilakukan. Sebisa mungkin 10 menit sebelum wawancara sudah tersambung ke Zoom, Meet atau Google Hangout. Bahwa narasumber telat karena satu dan lain hal, itu bukan kesalahan pewawancara.
  4. Saat wawancara, tetap berpakaian rapi, sopan, bahkan resmi, setidak-tidaknya mengenakan batik atau kemeja. Sebisa mungkin jangan memakai kaus oblong atau T-shirt, karena kesannya kurang sopan. Posisikan diri seolah-olah ini wawancara fisik.
  5. Pastikan suasana ruangan tempat wawancara dilakukan yang terekam kamera Zoom terlihat rapi, di ruang tertutup yang kedap suara lebih baik. Jika ingin di luar ruang, misalnya di taman atau halaman, pastikan tidak ada distori suara berupa gangguan teriakan orang, suara hewan peliharaan, atau mungkin suara tetangga bertengkar.
  6. Tulis nama jelas (bukan nama samaran) saat mesin Zoom meminta menulis nama pengguna (users) sebelum wawancara dimulai. Ini untuk memudahkan narasumber menyebut nama penanya/pewawancara karena nama pengguna akan tersemat di gambar video masing-masing user's.
  7. Jangan lupa menekan fitur "record", sebablupa merekam fitur akan jadi bencana, agar dengan mudah hasil wawancara atau konferensi dapat diputar ulang untuk kemudian ditranskrip sesegera mungkin.
  8. Jika giliran tidak sedang berbicara atau sekadar mendengar, tekan fitur "mute" (gambar mike) agar suara kita dan di sekeliling kita tidak terdengar pihak lain, terutama narasumber yang sedang berbicara.
  9. Jika ingin minum saat wawancara berlangsung atau mengambil sesuatu di saat giliran narasumber berbicara, tekan fitur "stop video" agar aktivitas kita tidak terekam, beri tanda (sign berupa gerakan tangan tertentu) sebelum izin melakukan aktivitas itu.
  10. Usai wawancara, jangan lupa berterima kasih kepada narasumber dan membuat janji jika suatu saat akan menghubungi lagi via pesan WA/Telegram atau telepon, mana tahu masih ada kekurangan bahan atau ada hal menarik yang belum tergali.

Demikian pengalaman saya pribadi bekerja di rumah saat pandemi dalam menyusun buku biografi. Mungkin penulis lain punya pengalaman yang berbeda. Tidak mengapa, itu akan menambah pengetahuan kita bersama.

Tetapi, pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan singkat ini jelas, yaitu: "tidak ada kata menyerah dalam menulis".

Never surrender!

***

VIDEO PILIHAN