Mohon tunggu...
M U Ginting
M U Ginting Mohon Tunggu... -

penggemar dan pembaca Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Politik

Indonesia Memang Hebat

19 April 2019   13:37 Diperbarui: 21 April 2019   18:47 142
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Memandang-mandang, melihat-lihat dan sedikit meneliti situasi negeri ini disaat-saat  pemilu legislatif dan pilpres yang bersamaan itu dimana semuanya berjalan lancar dan aman, memang orang Indonesia luar biasa, cara pikir dan tingkat kesadarannya. Ini dari segi penglihatan secara umum, bukan dari segi kejadian tertentu yang bisa menjengkelkan dan atau saling menjengkelkan sesama warga seperti dalam suasana kampanye yang baru lalu, banyak hoax, berita bohong dsb.

Tetapi semua teratasi dan tidak sampai bikin onar yang sesungguhnya seperti yang dikehendaki oleh para pencipta onar itu - kalau saya mengatakan penciptanya dari luar, pencipta divide et impera internasional, sama dengan pencipta divide et impera tahun 1965 yaitu kaum neolib NWO yang ketika itu pakai 'taktik komunisme' bikin bangsa Indonesia saling bunuh - 3 juta nyawa melayang menurut panglima operasi 30 Sept Sarwo Edhie (Wikipedia)  https://en.wikipedia.org/wiki/Sarwo_Edhie_Wibowo

Dalam soal ini (1965) tadinya banyak juga yang menginginkan rekonsiliasi menghilangkan permusuhan hasil divide et impera itu, tetapi bangsa ini malah cari jalan yang lebih masuk akal dan sangat efektif, secara ilmiah membaca dan mendapatkan pengetahuan berharga bahwa komunisme itu ternyata adalah hoax besar dalam sejarah kemanusiaan, hoax yang telah berhasil menjungkir balikkan pengertian waras manusia sehingga suka rela membunuhi bangsanya atau bahkan tetangganya sendiri, seperti 1965 itu dan juga kemudian di Kambodja. Mudah-mudahan orang Kambodja juga sudah baca hoax komunis ini. Lihat disini: The Communist Hoax  http://coconutrevival.com/?p=3802

Setelah membaca bahwa komunisme adalah hoax, bisa dibaca lagi komunisme menurut Dr Henry Makow.

What is Communism?

NWO = Communism

"Their agenda is to protect their money monopoly by extending it into a monopoly over everything - power, knowledge, culture, religion -- by re-engineering humanity to serve them. This is the real meaning of Communism."

https://www.henrymakow.com/what_is_communism.html

Re-engineering humanity . . . disitulah hoaxnya, mutar-balik otak manusia. Untuk apa? Duit, duit, power, power . . . Greed and Power. Otak kita diputar balik, kita saling bunuh, kemudian  . . . sim sallabim . . . SDA kita dikeruk setengah abad. Triliunan dolar menguap tanpa suara masuk pundi-pundi bankir rentenir internasional itu, bankir Fed. Tidak cukup disitu, Fed cetak duit pula dan bungakan ke pemerintah AS dan negara-negra dunia. Siapa yang ngerti soal Fed? Bikin duit 'Ex-Nihilo', siapa ngerti? Jelas karena ditutupi hoax juga.

Kita dibodohi, rakyat Indonesia, dan rakyat AS juga dibodohi. Tetapi orang Indonesia mau baca dan belajar, hoax komunisme dan hoax Fed kita sudah mengerti. Begitu juga hoax divide et impera yang disebarkan dalam suasana pilpres 2019 Indonesia, pakai radikalisme/extrimisme tetapi mereka gagal! Bangsa ini berhasil menjaga persatuan dan kedamaian sesamanya walaupun dengan hoax yang bertubi-tubi itu, seperti akun biaya tinggi Saracen itu.

Jangan lupa juga bahwa taktik divide et impera radikalisme/extrimisme sudah pernah juga dipakai oleh Marx pada jamannya dalam mematikan lawan-lawan politiknya ketika itu yaitu kaum sosialis/revolusioner kaum buruh Jerman, orang-orang Bakunin dll. Jadi kalau di era sekarang NWO/bankir pakai alat radikalisme bukanlah soal baru, ulangan yang lama sejak Marx. Dulu memanfaatkan berbagai individu/grup dari kaum pekerja Jerman, sekarang memanfaatkan kaum radikal agamis islam seperti ISIS, HTI, juga memanfaatkan sifat radikal FPI, PKS dsb. Tetapi kenyataannya dalam pilpres kali ini, bangsa ini lebih menghargai persatuannya daripada saling bermusuhan atau bertikai dalam memperjuangkan capres masing-masing secara damai, cara demokratis. Itulah tingkat kesadaran yang sudah lebih tinggi tadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun