Mohon tunggu...
Anwar Effendi
Anwar Effendi Mohon Tunggu... Mencari ujung langit

Sepi bukan berarti mati

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Yang Sedang Pacaran, Hati-Hati Memasuki Gua Ini

17 Maret 2020   14:33 Diperbarui: 17 Maret 2020   19:01 73 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yang Sedang Pacaran, Hati-Hati Memasuki Gua Ini
wisatawan berfoto di latar muka Goa Sunyaragi | dokpri

Mendengar kata gua (goa), pikiran kita pasti membayangkan hal-hal yang seram. Memasuki entah goa yang terbentuk dari alam atau gua buatan, selalu saja ada rasa berdebar.

Wajar mengalami hal tersebut. Biasanya, kondisi gua selalu gelap. Pengunjung yang masuk harus membawa lampu penerangan. Biasanya, pemandu wisatawan menyewakan lampu senter, sebagai bekal menelusuri gua.

Tapi jauhkan dulu kesan menakutkan, kalau kita berkunjung ke Gua Sunyaragi Kota Cirebon. Wajah baru Gua Sunyaragi sekarang lebih familier. Penataan secara menyeluruh, membuat pengunjung betah berlama-lama di kawasan Gua Sunyaragi.

Dulu Gua Sunyaragi, namanya sempat menasional, dengan seringnya digelar pentas tari kolosal. Itu berkat dukungan sejumlah tokoh nasional, yang ingin seni tradisional di kawasan Cirebon dan sekitarnya terangkat ke level internasional.

Salah satu upaya penataan Gua Sunyaragi, yakni dengan dibangun panggung budaya. Panggung tersebut dimaksudkan untuk mewadahi kegiatan para seniman lokal.

Tribun (tempat duduk) penonton untuk menikmati sendratari di panggung budaya Sunyaragi | dokpri
Tribun (tempat duduk) penonton untuk menikmati sendratari di panggung budaya Sunyaragi | dokpri
Bahkan untuk mendukung kemegahan Gua Sunyaragi, dibangun pula fasilitas Pusat Jajan Segala Ana (Pujagalana). Di tempat itu, pengunjung bisa menikmati segala macam makanan dan minuman khas Cirebon.

Namun seiring waktu, pengelolaan Gua Sunyaragi seperti tidak terurus. Fasilitas di panggung budaya banyak yang rusak. Area sekitar panggung budaya lebih banyak ditumbuhi ilalang.

Lebih parah lagi, Pujagalana yang sempat jadi tempat tongkrongan warga Cirebon hingga larut malam, lambat laun jadi sepi. Lama kelamaan, para pedagang di sana memilih cabut, tidak melanjutkan usaha.

Pujagalana jadi tempat yang tidak bertuan. Lokasi tersebut jadi tempat yang menyeramkan. Setelah rata dengan tanah, tumbuhlah pohon-pohon liar. Pengunjung pun jadi agak malas untuk datang ke sana.

Kini Gua Sunyaragi menampilkan wajah baru. Panggung budaya Gua Sunyaragi, asyik untuk nongkrong-nongkrong lagi. Dari situlah pintu masuk bagi wisatawan. Loket pembelian tiket masuk ada di sisi kiri.

Pada hari-hari biasa, pengunjung dikenakan harga tiket senilai Rp 10.000,00. Harga akan berubah di akhir pekan, menjadi Rp 20.000. Rombongan wisatawan juga bisa menggunakan jasa pemandu, dengan biaya Rp 50.000,00.

Kompleks Gua Sunyaragi selain dilengkapi panggung budaya, kini menambah fasilitas lainnya beruapa wahana flying fox dan sepeda gantung. Wahana ini jadi favorit wisatawan untuk berfoto ria.

Dari lokasi ini pengunjung bisa menikmati indahnya Taman Sari Sunyaragi | dokpri
Dari lokasi ini pengunjung bisa menikmati indahnya Taman Sari Sunyaragi | dokpri
Walau dikenal sebagai gua, objek wisata ini tidak melulu berupa lorong-lorong yang gelap. Ada juga tempat lain berupa taman, kolam, jembatan penghubung, dan menara pengawas.

Secara harfiah, Gua Sunyaragi memiliki arti tempat menyepi/berserah/mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa. Sunyaragi terbagi dua kata, yakni Sunya dan Ragi. Sunya (Sunyi) yang bisa diartikan usaha mendekatkan diri dan Ragi (Raga) yang berarti tubuh. Jadi Gua Sunyaragi dulu dijadikan tempat Raja (Kasepuhan) untuk bersemedi/menyepi/mendekatkan diri kepada Sang Pecipta.

Di kompleks Gua Sunyaragi, ada beberapa gua. Namun tidak keseluruhan berbentuk lorong dan gelap. Ada juga yang cuma berbentuk ruangan, yang dulunya berfungsi tempat melakukan aktivitas atau menyimpan barang.

Urut-urutannya ada Gua Pengawal. Difungsikan sebagai tempat prajurit yang turut raja saat bersemedi. Sementara Gua Pande Kemasan dijadikan tempat menyimpan alat-alat perang dan perabotan keraton. Berbeda dengan Gua Pengawal, Gua Simanyang murni berfungsi sebagai pos penjagaan

Salah satu pintu masuk menuju Gua Sunyaragi | dokpri
Salah satu pintu masuk menuju Gua Sunyaragi | dokpri
Nah wisatawan yang ingin uji nyali, boleh mencoba lorong Gua Peteng. Sesuai dengan namanya Peteng (gelap), gua ini memang masih menyimpan rahasia. Konon menurut cerita, dulu gua ini merupakan jalan penghubung untuk evakuasi petinggi keraton dari kejadian yang tidak diinginkan.

Kegiatan istirahat juga difasilitasi di kompleks Gua Sunyaragi, tepatnya di Gua Langse. Tempat ini dulunya sebagai lokasi beristirahat petinggi keraton. Ada juga Gua Arga Jumut yang difungsikan sebagai tempat perjamuan tamu-tamu raja.

Selanjutnya yang wajib dikunjungi wisatawan, yakni Gua Padang Ati. Sesuai namanya, tempat ini bisa menerangkan hati. Saat suasana hati terang/bersih merupakan waktu yang tempat untuk melakukan permohonan/keinginan hati.

Tempat perjamuan | dokpri
Tempat perjamuan | dokpri
Sedangkan Gua Klanggengan berfungsi untuk bertapa khusus bagi raja atau sultan agar jabatanya kekal abadi. Pada zamanya, tidak semua orang, kecuali raja yang berada di tempat itu.

Agak ke belakang ada juga disebut Gua Pawon. Bisa diartikan sebagai ruang dapur (pawon). Ruangan tersebut berfungsi untuk menyimpan makanan yang sudah dimasak. Ruangannya agak dingin dan menjamin makanan yang disimpat di situ jadi awet.

Sementara Gua Lawa (Kelelawar) lokasinya berbeda. Pengunjung jarang yang mau masuk gua tersebut dan pemandu pun tidak memberi rekomendasi. Gua tersebut memang tempat bersarangnya kelelawar.

Usai berkunjung ke Gua Sunyaragi jangan lupa menikmati makanan khas Cirebon berupa Sega Jamblang | dokpri
Usai berkunjung ke Gua Sunyaragi jangan lupa menikmati makanan khas Cirebon berupa Sega Jamblang | dokpri
Mengiringi cerita sejarah, ada juga cerita-cerita mitos yang berkembang di masyarakat Cirebon terhadap Gua Sunyaragi. Seperti mitos, jika sedang berpacaran disarankan jangan mengunjungi Gua Sunyaragi. Konon, kalau memaksa berkunjung ke sana hubungan tidak akan lama atau bisa putus.

Ada juga cerita yang mengingatkan pengunjung agar tidak menyentuh patung "Perawan Sunti". Terutama yang yang masih lajang, baik perempuan maupun laki-laki, jika menyentuh patung tersebut akan sulit jodoh.

Lantas bagaimana jika ada wisatawan yang tidak sengaja menyentuh patung "Perawan Sunti". Solusinya yang bersangkutan disarankan memasuki Gua Klanggengan. Hubungan yang pacaran akan membaik kembali. Atau yang masih lajang jadi dimudahkan mendapat jodoh.

Percaya atau tidak? Itu terserah Anda.(Anwar Effendi)***

VIDEO PILIHAN