Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Simalakama Anies Baswedan

21 Januari 2020   09:00 Diperbarui: 21 Januari 2020   09:55 1345 19 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Simalakama Anies Baswedan
Kondisi Taman Selatan Monas saat masa revitalisasi di Jakarta, Senin, 20 Januari 2020. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Monumen Nasional (Monas), Isa Sanuri, mengklaim pohon-pohon yang ditebang oleh pengelola sebenarnya direlokasi atau dipindahkan ke area lain. TEMPO/Subekti.

Simalama Anies Baswedan

Cukup menarik apa yang dilakukan Anies selama kepemimpinannya. Hal-hal yang tidak fundamental ia lakukan dengan segera, namun hal yang mendasar malah seolah terlupa. Beberapa hal bisa disebut, soal pembenahan trotoar yang baik-baik saja. Atau mengubah taman dengan pembetonan. Belum lagi soal anggaran yang menjadi bahan ledekan, toh dewan diam saja.

Jauh lebih lucu komentar dewan, ada dua, kaget dan kecolongan. Ini soal bantuan kepada ormas tertentu yang tidak ada dalam anggaran awal. Kecolongan ketika menyaksikan penggundulan kawasan Monas. Mereka ini sebagai pengawas harusnya jauh lebih keras bersuara, bukan sekadar normatif. Bandingkan ketika Ahok yang menjadi gubernur, seperti apa teriakan mereka.

Melihat reaksi dewan, kog jadi cenderung melihat ini sebagai sebuah upaya mau terlihat membela kepentingan rakyat, prorakyat, namun seolah enggan karena ada sesuatu bersama gubernur. Lihat kala dengan Ahok mana ada model-model santun seperti ini. langsung jebrat-jebret, lapor sana lapor sini. Ini kog tidak, kaget, kecolongan, dan sejenis itu. Sama sekali tidak ada tindakan konret sama sekali.

Lucu tidak, ketika pohon-poho ditebangi, ini bukan perdana, dan ini sudah kesekian kali, mereka merasa kecolongan. Kecolongan itu kalau mereka jauh, tidak tahu apa-apa, diam-diam, lha ini di depan mata  kog, 190 pohon, bukan batang bambu. Toh bambu ratusan juga di depan mata diam saja juga. Reaksi yang cukup lucu atau maaf tolol??

Ketika lembaga yang mengawasi saja sejinak itu, apalagi pemerintah pusat. Susah mau berbuat karena memang bukan pelanggaran hukum. Ini ranah etik, soal kepantasan, dan itu bukan soal hukum, yang menjadi acuan ketika pemerintah pusat harus turun tangan.

Ajang pemborosan ketika banjir dan akhirnya pemerintah pusat mengambil alih. Lagi-lagi ini soal patut atau tidak, ketika ada anak buah yang pekerjaannya diambil alih atasan, artinya si bawahan itu tidak berguna. Toh masing dengan penuh percaya diri membuat framing ini dan itu, bergaya dengan begitu keyakinan tinggi paling hebat.

Apakah ia tidak tahu atau mabuk atau halusinasi? Kolaborasi, karena kepentingan politis, ia memainkan peran seperti itu. Ada kepentingan yang akan menaguk untung dengan model politik yang jelas ini ada skenario di baliknya. Di depan mata ugal-ugalan menghambur-hamburkan uang, dan itu faktual bukan melanggar hukum. Membongkar yang sudah ada, sah-sah saja karena memang itu keputusan pejabat yang berwenang.

Lagi-lagi soal kepantasan dan itu tidak bisa diukur oleh hukum. Jelas saja susah dengan menjerat memakain koridor hukum, karena memang sudah dirancang dengan seteliti mungkin agar bisa lolos. Dan malah itu dipakai untuk juga menjerat pihak lain. Jebakan ganda, yang jeli dilakukan.

Perlu ingat, bagaimana gagah perkasanya Reza Chalid, atau licinnya si belut Setya Novanto, toh bisa diselesaikan juga, tanpa dampak berlebihan. Memang perlu waktu, mengalahkan kekuatan bukan dengan kekerasan dan asal-asalan.

Sabar subur menjadi point penting. Menghadapi orang model demikian, dengan bantuan di belakang yang demikian banyak perlu perhitungan cermat. Para penyokong ini bukan mendukung si Anies, namun kepentingan mereka. Ada pelaku megakorup yang mulai tercekik. Ini jelas menggunakan kendaraan yang bisa menghantam pemerintah siapapun itu. Kalau mental pun mereka hanya kehilangan uang, bukan kehilangan muka. Kalau menang, tetap bisa mengendalikan banyak hal. Kelompok ini banyak banget.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN