Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengamuk Ditilang, Murid Menantang Guru, Dewan Menghina Ulama, Gambaran Peradaban Kacau

12 Februari 2019   09:00 Diperbarui: 12 Februari 2019   09:09 856 42 27

 Kemarin, ada sebuah pemberitahuan yang dibagikan  melalui media percakapan, mengenai permainan yang mengandung kekerasan. Dalam akhir daftar permainan, ada keterangan, bahwa anak yang memainkan permainan dengan tema kekerasan selama 20 menit, akan mudah melakukan kekerasan dan kehilangan empati.  

Tidak bisa menghormati orang tua, tidak fokus belajar, apalagi jika ada iming-iming hadiah.  Malah jadi ingat pada hidup bersama bangsa ini, yang makin kacau dan riuh rendah tidak karuan.

Salah satu yang mengidab peradaban kacau adalah KPK, ketika membuat jargon Berani Jujur Hebat. Jujur itu keharusan, tuntutan minimalis, bukan prestasi sehingga hebat. Ternyata budaya sejak zaman dulu kalau yang bernama adi luhung, tinggal slogan. Miris ya.

Beberapa waktu lampau, Pak Jokowi sowan ke rumah Ibu Shinta Nuriyah, ibu negara keempat Republik Indonesia. Sikap duduk Pak Jokowi yang ndepis, bukan dimaknai ingah-ingih, namun penghormatan pada pribai yang nilai unggul, patut dihormati, dan menjadi rujukan. Kelas guru bangsa yang jauh di atas banyak hal, bukan semata remeh temeh.

Eh hari-hari ini, paling tidak ada tiga kejadian, peristiwa, dan kisah yang sangat miris. Dari level elit hingga sangat biasa. Ada keterwakilan di sana. Kejadian pertama, ada pelanggar lalu lintas, tidak mengenakan helm, berjalan melawan arus, eh ditilang tidak bisa menunjukan STNK. Ketika mau ditilang, ngamuk dan merusak motornya.

Mirisnya, ketiga ditangkap polisi dengan berbagai pertimbangan, salah satunya dugaan ia membeli sepede motor bodong, ia menangis. Entah ke mana menguapnya keberanian, kesangaran, dan kejawaraannya ketika merusak kendaraannya.

Peristiwa kedua, ada siswa, merokok di kelas, dan ternyata di kelas mengenakan topi. Entah sekolah macam apa, ada perilaku ugal-ugalan seperti ini. Jelas merokok usai SLTP jelas pelanggaran parah, di kelas lagi. Mengenakan topi di dalam kelas, sedang pelajaran itu juga mempertontonkan bagaimana kedisplinan sekolah itu.

Ditegur ngamuk dan malah menantang sang guru dengan memegang kerah baju dan juga kepala. Ini sudah luar bisa gendengnya, si anak.  Kejadian yang sama ketika diselesaikan nangis. Ora pandak, ora sumbut, tidak sepadan dengan gayanya yang menantang dan menarik kerah gurunya.

Eh di level lebih tinggi kelasnya, ada juga pimpinan dewan pusat meradang karena adanya doa dari seorang kyai, sepuh lagi tidak sesuai dengan keinginan dan kerinduannya. Membuatkan puisi doa yang tertukar sebagai reaksi dan bentuk kemarahannya. Desakan demi desakan untuk menarik puisinya, sekadar bentuk sesal dan maaf, namun tetap saja melaju dengan tingkah tengiknya.

Ketiganya memberikan fakta adanya ketidakhormatan pada pihak lain, emosional karena alasan yang parah karena membenarkan perilaku salah, reaksi yang berlebihan dan tidak sepadan, bahkan keliru. Cerminan yang memberikan bukti dan fakta bahwa permainan kekerasan juga hiburan yang berupa kekerasan itu sangat berpengaruh. Daya rusaknya demikian kuat.

Kekerasan baik fisik atau verbal itu sama buruknya. Jangan katakan, toh hanya kata atau kalimat, bukan fisik. Sikap permisif atas perilaku kasar dan kekerasan dalam bentuk kata, kalimat, dan makian, sedikit banyak  juga berdampak, dan ikut mempengaruhi kebiasaan, peristiwa dalam kehidupan bersama.

Peran agama masih jauh dari harapan. Bagaimana agama masih sebatas label, ritual, dan hafalan ini dan itu. Ada sebuah  kutipan bijak, kalau orang yang masuk gereja dan merasa Kristen, sama juga orang yang di dalam garasi dan merasa mobil. Agama itu perilaku, bukan sekadar ibadat dan ritual apalagi hapal ini dan itu, namun tidak mengamalkannya dalam hidup nyata.

Pendidikan pun sama saja. Hanya mengejar nilai rapor, rangking, lulus UN, dan ijazah atau gelar semata. Bagaimana pendidikan dan pengajaran itu memberikan nilai lebih di dalam jenjang pendidikan. Ada perubahan sikap dan perilaku menjadi lebih baik, bukan malah lebih buruk.

Pendidikan baik sekolah ataupun agama, harapanya adalah mampu membedakan mana yang baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas, bernilai moral atau tidak, mirisnya ternyata hal itu tidak ada sama sekali bekasnya. Pendidikan hanya sebuah jenjang naik tangga, di atas entah mau apa lagi. Kebingungan dan bisa saja sesat dan malah menimbulkan kekacauan karena tidak tahu mau apa.

Sikap bingung, frustasi, kekacauan dalam melihat masa depan, membuat peserta didik juga gamang mau apa sekolah, kalau tahu di depan sana tidak ada yang baik dan benar. Mau jadi siswa lurus, lempeng, atau pembunuh sekalipun sama saja kog akhirnya. Lihat tuh sekolah kedinasan yang sering sok militeristik, sering ada yang mati. Kadang si pembunuh bisa jadi pejabat tinggi negeri ini. Apa tidak miris?

Meradang, mudah ngamuk, dan tidak bertanggung jawab kan sikap kanak-kanak kalau orang dewasa jelas orang frustasi. Menghormati pihak yang lebih tua dan dituakan seolah menguap, tidak heran dinasihati untuk belajar, si bapak  tiri malah disewakan pembunuh bayaran.  

Peradaban kacau ini hanya karena dihuni segelintir elit dan politikus takut kalah. Miskin prestasi dan ngamuk setiap hari. Campur aduk antara agama dan politik, pendidikan, dan segala sesuatunya, namun munafik juga masih merajalela. Bagaimana jika sepemikiran, sama pilihan politik adalah kwan, namun yang berbeda dinilai sebagai musuh. Nilai agama dan pendidikan jelas jauh dari itu semua bukan?

Tertib hidup bersama masih jauh dari harapan. Apalagi bicara konsensus dan norma tidak tertulis. Masih jauh dari harapan dan idealitasnya.

Terima kasih dan salam