Susy Haryawan
Susy Haryawan Wiraswasta

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jalan Sunyi Jokowi

3 Januari 2019   10:00 Diperbarui: 3 Januari 2019   10:16 627 31 20

Macam ragam kepemimpinan. Pemimpin pun beragam dalam memimpin. Ada yang heboh, suka upacara dan keglamoran, ada pula yang diam-diam menghanyutkan. Ada pula pemimpin yang meledak-ledak di dalam menyikapi isu dan fakta yang ada. Itu adalah gaya, pilihan, dan bisa otentik atau hanya akting. Semua adalah sah-sah saja.

Ada pula pilihan sebagaimana sebuah lembaga negara yang gegap gempita dengan mengadakan konferensi pers, bahasa yang berapi-api bak orator ketika menyatakan sebuah kasus. Dramatisasi pun tercipta ketika memperlihatkan pelaku kasus dengan atribut tertentu. Media tentu senang bisa mengira-ira, menerka, dan akhirnya nyanggong di depan lembaga itu waktu-waktu yang sudah bisa diperkirakan.

Eh ternyata ada juga pejabat negara yang suka bersikap demikian. Meniru  aksi dalam sebuah ajang pencarian bakat. Datang dengan gaya bak selibritas yang sedang mau audisi, dan keluar dengan bahasa drama mengatakan ini dan itu dengan podium yang dikeliling wartawan. Tampaknya memang kepemimpinan drama mendapatkan  momentumnya. Soal hasil bisa dilihat sendiri.

Jargon dalam iklan kampanye paling fenomenal, di mana sebagian pemain utama yang berapi-api dengan bahasa dan bahasa tubuh yang menyatakan untuk tidak melakukan kejahatan luar biasa, namun menjadi pemain utama. Satu demi satu antri ke dalam kurungan KPK. Hingga kini pun masih banyak disebut-sebut dalam persidangan, namun masih bebas yang tertekan tentunya, karena lambat atau cepat akan juga turut ke sana.

Ada pula pemimpin yang mengambil cara senyap, sunyi, dan tidak perlu kehebohan, karena heboh itu bisa membawa dampak ke mana-mana. Hasil bisa nol besar. Ternyata pilihan itu toh relatif membawa kemajuan dan perubahan yang signifikan. Beberapa fakta kesenyapan itu sebagai berikut;

Pemilihan Kapolri di mana waktu itu bisa berabe jika tidak memilih salah satu calon. Kedekatan dengan partai politik dan posisinya bisa membuat kisruh. Toh bisa terselesaikan dengan relatif baik. Gejolak yang ditakutkan toh tidak terjadi. konsolidasi juga berjalan mulus dan hingga kini adem ayem. Persoalan keberanian dan komunikasi yang berjalan apik.

Papa minta saham dan penyelesaiannya. Salah melangkah ranjau meledak. Para petualang telah mengintai untuk mengambil alih kekuasaan. Nama-nama kuat ada di sana, Reza Chalid, Setya Novanto, dan Free Port terlibat. Semua riuh rendah, toh semua juga selesai tanpa gejolak di permukaan dengan berlebihan. Reza Chalid dan Petral terpental. Padahal semua pada jerih dengan reputasinya. Kisah berlanjut hingga  bakpao politik.

Bakpao politik yang memenggal kepala Dasamuka sakti mandraguna. Kini masuk penjara dan diam di sana (entah faktanya). Orang paling licin itu pun bisa dipidana dengan tanpa menimbulkan kegaduhan yang luar biasa. Bagi yang takut, akan tetap begitu saja, meraja lela dengan leluasa. Puluhan tahun licin melebihi belut mandi oli.

Kisah demo berjilid 212. Siapa sangka pemerintahan masih bisa berlanjut, di mana banyak pihak sangat pesimis untuk bisa bertahan dan banyak pihak yang jelas optimis akan menjadi pejabat baru dengan cara yang berliku. Ada yang akan memperoleh durian runtuh dengan memakai tangan pihak lain dan mengorbankan juga siapapun yang bisa dikorbankan. Kepentingan dan impian banyak pihak saling mengintai dengan mata nyalang, dan lagi-lagi bisa diatasi.

Pansus KPK yang menghabiskan energi, sehingga dewan miskin hasil, toh tidak mampu menggoyang pemerintah dan KPK yang sasarannya adalah bubar. Jika KPK bubar, tentu pemerintah akan digulingkan. Semua bisa selesai, dan KPK masih menyiduki pejabat baik daerah ataupun pusat.

Asian Games, banyak  yang pesimis, sebagai tuan rumah karena perlu dana besar apalagi jika membandingkan dengan hasil yang biasanya sangat minim. Ternyata gerak cepat dengan pembinaan yang terukur membawa hasil gilang gemilang. Orang dan pihak yang mengatakan negatif serta pesimis soal anggaran tidak lagi bisa lagi berkata-kata.

Prestasi besar diikuti dengan pembagian bonus sebagai wujud nyata perhatian pemerintah ternyata menjadi buah atas kerja keras banyak pihak tanpa adanya kegiatan dan seremoni yang berlebih-lebihan. Kerja nyata tanpa membuat kehebohan.

Ketika ada orang berbicara seolah bersih dari korupsi, dan model pemerintahan yang dulu digulingkan adalah yang terbaik, sehingga mau dihidupkan lagi, kemudian diwartakan dan dibicarakan soal perjanjian dengan Swis. Semua tentu paham kalau Swis dengan banknya adalah tempat paling aman bagi maling berdasi. 

Dunia berubah dan perjanjian yang tidak digembar-gemborkan itu, kini dinyatakan dan Singapura pun konon mengikuti untuk setuju membuka daftar penyimpan yang potensial adalah pelanggar hukum. Kinerja sejak 2017 yang hanya diam kini dinyatakan dengan lantang.

Pengambilalihan  FP yang hingga kini mau digoreng ke sana ke mari, apalagi yang seharusnya mengambilalih sejak lama, merasa malu, ikut-ikut barisa sakit hati untuk menyalah-nyalahkan. Lha tidak berbuat kog kini ribut. 

Kerja senyap lintas kementrian ternyata bisa membawa hasil di akhir 18 lalu dengan baik. Gejolak antarnegara yang sering didengungkan tidak terjadi. Sangat  bisa dipahami, jika yang biasanya ikut bancakan kini meradang. Kerja senyap itu didengungkan dengan luar biasa bahasa mereka.

Pembangunan jalan tol yang gila-gilaan itu terus menerus dituding begini dan begitu. Jelas lah karena mafia yang selama ini banyak memperoleh untung kini buntung. Menggunakan moment untuk bisa kembali memperoleh panggung mereka berteriak sok nasionalis, padahal hanya mau menyuarakan kepentingan sendiri.

Senyap dan sunyi itu baik ketika menguntungkan lebih banyak pihak. Bangsa dan negara menjadi pertimbangan. Jika riuh rendah itu karena ingin populer, siapa yang menjadi fokus? Jelas dirinya, bukan bangsa ini. Namun jangan lupa bahwa mereka yang biasa mendapatkan "jatah" itu kini membangun kebersamaan dengan berbagai-bagai cara untuk kembali memperoleh jatah yang terenggut.

Rakyat kini yang memperoleh manfaat, apa iya mau diwakilkan lagi seperti era-era lampau? Semua hanya elit yang menikmati dan merasakan.

Terima kasih dan salam