Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

"Amunisi" Baru Jokowi

11 November 2018   21:23 Diperbarui: 11 November 2018   21:27 921 17 11 Mohon Tunggu...

Pilpres kali ini tidak berbeda dengan 2014, dalam arti pesertanya. Konfigurasi banyak berbeda dan berubah cukup siginifikan.  Kurang menarik jika membahas partai politik yang menyeberang atau berpindah haluan, karena toh sudah hampir lima tahun terjadi, dan tidak banyak hal yang baru, hampir begitu-begitu saja.

Lebih menarik justru ketika pembahas orang per orang yang berpindah dukungan dengan atau tanpa gerbong. Cukup semarak karena bisa membawa banyak implikasi yang sangat luas dan tidak mudah bagi pihak yang ditinggalkan.

Yusril Ihza Mahendra.  Lumayan mengagetkan pilihan Yusril untuk merapat ke kubu Jokowi-MA, meskipun tidak secara langsung dalam dukungan formal sebagaimana partai dan ketua umum partai. Posisinya hanya menjadi pengacara dari calon nomor 01. Hal ini tidak sembarangan secara politis lho. Signifikan, gerbong tetap bisa mendorong banyak hal ke koalisi 01.

Alasan bahwa koalisi 02 ternyata tidak memiliki platform dan pandangan soal bagaimana koalisi ke depan memberikan gambaran jelas ketidaksiapan mereka, selain hanya fokus pada kursi bukan mengenai kebersamaan dan bagi pembangunan bangsa dan negara. Kembali menegaskan bagaimana kondisi 02 yang sulit untuk bisa mendapatkan kepercayaan.

Ngabalin. Apa yang ia tampilkan cukup jelas warnanya, apalagi jika berbicara pra2014, susah untuk bisa melihat ternyata bisa dalam barisan yang sama. Tidak heran banyak orang dan pendukung Jokowi yang bertanya-tanya mengenai rekrutan yang satu ini, ternyata cukup membantu.

Politik itu tidak ada yang ideal, adanya adalah kompromi di mana belum tentu orang terbaik itu malah jadi, karena berkaitan dengan kepentingan. Keberadaan Ngabalin cukup membantu di dalam menghadapi "serangan" yang tidak bermutu dan recehan, di mana bahasa yang diambil lebih nyambung dan biarkan yang lain fokus bekerja, dan ialah yang menjadi lawan para sontoloyo. Mirip Gatusso yang bukan soal skil dan teknik, namun keberanian mematahkan serangan.

La Nyalla Mataliti.  Ini pun mengagetkan, namun kekecewaan demi kekecewaan dan keputusasaan di dalam mendapatkan peluang memperoleh jabatan di pemerintahan membuatnya gerah dan memilih mundur. Sangat wajar ketika ia merasa tidak mendapatkan apa yang sepatutnya dan memilih mundur dan bergabung pada piak rival pada masa lalu.

Apa yang ditampakkan lagi-lagi adalah model pembiaraan dan kepemimpinan abai yang membuat orang lain menderita, orang lain hanya menjadi batu pijak, dan habis manis sepah dibuang. Apa yang dinyatakan LNM itu faktual.

Memang cenderung tidak sangat signifikan apa yang ia lakukan, namun bahwa ia adalah bagian cukup dalam inti pada masa lalu, justru jauh lebih merugikan 02 daripada menguntungakn 01. Ini hanya seperti membeli atau transfer pemain dan dijadikan penghangat bangku cadangan, asal bukan dibeli rival semata. Soal kepentingan, bukan manfaat yang signifikan.

Tuan Guru Bajang. Mengagetkan juga, bagaimana ia adalah pimpinan daerah di mana Jokowi kalah dan pimpinan Demokrat juga. Pantas jika Demokrat dan jajaran bak kebakaran jenggot. Implikasi yang cukup luas, tidak heran mereka memainkan dua kaki, di mana mereka tidak terbuka mendukung 02 demi perolehan pileg di kantong Jokowi, hal yang sama terjadi di Papua dan daerah lain.

Hal yang tidak sederhana pola pendekatan ini, sikap saling curiga bisa menyeruak di tengah koalisi 02, dan berbeda dengan LNM karena posisi 01 pun mendapatkan banyak suntikan karena keberadaan gerbong TGB dan Demokrat Papua cukup signifikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x