Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Reflektifnya Relasi AHY, Jokowi, dan Kader Gerindra

13 Maret 2018   17:20 Diperbarui: 13 Maret 2018   18:51 582 12 6

Reflektifnya relasi AHY, Jokowi, dan kader Geridra, mengapa kader untuk Gerindra, mereka yang bak kebakaran jenggot dan riuh rendah kian kemari dengan tiada kejelasan arah. Usai mengatakan Jokowi dan PDI-P mengusung orang yang itu-itu saja, lha ya jelas lah wong memang masih boleh seacra hukum, toh juga masih disukai, meski yang lain merasa sebaliknya.

Tiba-tiba menjadi panik dengan mau bertemu AHY usai, ada "kedekatan" dan potensi bahwa Demokrat merapat ke kubu pendukung Jokowi. Sangat menarik, jika menilik apa yang para kader dalam hal ini elit mereka. Mengatakan kalau Jokowi panik soal cawapres, nampaknya ini adalah kegalauan dan signal kepanikan mereka sendiri.

Menemui AHY jelas sebagai dua tiga langkah di belakang jika berkaitan dengan apa yang dilakukan AHY dengan mengundang Pak Jokowi ke acara mereka. Pertama ketinggalan langkah mereka yang mendatangi AHY, siapa AHY padahal. Artinya Gerindra ada posisi kalah. Langkah kedua, mereka datang ke AHY, beda dengan AHY datang ke presiden. Jadi apa yang dikatakan selama ini oleh kader Gerindra dimentahkan kader lain. Langkah ketiga, kepanikan yang mereka nyatakan sebagai pihak PDI-P dan Jokowi ternyata merupakan keadaan mereka.

Kepanikan itu pun berlebihan, jika melihat rekam jejak dan langkah politik Pak Beye yang sangat sumir, halus, dan cenderung lambang. Tidak progresif dalam satu langkah selesai. Sebenarnya Gerindar tetap tenang saja, masih belum pasti dan jelas muara Pak Beye ini. Ingat bukan Demokrat, tapi apa kata dan pilihan Pak Beye. Meskipun salah satu petingginya meledek Pak Prabowo tidak pernah menang, toh tidak menentukan apa yang dinyatakan. Yang penting Pak Beye.

AHY pun bukan kandidat ideal menjadi pendamping Pak Prabowo. Beda kasus jika bukan Pak Prabowo yang mau diusung menjadi capres. Mengapa? Duet militer sangat tidak laku bagi demokrasi saat ini. jelas kepanikan lagi jika demikian, karena mereka di satu sisi getol mengatakan Pak Prabowo sebagai calon terkuat, sekaligus mengincar AHY.

Apa sanggup kader Gerindra menyaksikan Pak Prabowo hanya sebagai king maker,atau president maker?Nampaknya tidak. Belum lagi sisi sebelah, PKS yang tentu tidak akan tinggal diam saja ketika ada "anak baru" meninggalkan mereka, jika menjadikan AHY sebagai apapun di dalam koalisi mereka. Baik sebagai pendamping Pak Bowo atau membentuk pasangan baru.

Apa yang dilakukan Gerindra saat ini adalah, sebentuk kepanikan karena mereka tidak mau berbuat sepanjang tiga empat tahun ini. membangun sikap koalisi oposisi yang hanya asal berbeda dengan pemerintah. Padahal dengan sikap demikian sangat kontraproduktif bagi perjalanan panjang mereka. Tiba-tiba pemilu di depan mata.

Oposisi bukan semata beda dengan pemerintah, apalagi model antipati beberapa kader seperti Fadli, Habiburohman, M. Taufik, dan Fahri sangat merugikan perjuangan mereka. Sesaat memang menguntungkan, namun untuk pemilu sama sekali tidak. Apa yang mereka bangun jelas sangat bagus seperti ketika menghadapi isu calon kapolri Pak Budi G dulu. Mereka (Pak Prabowo) mendukung presiden. Artinya bisa menuai sentimen positif dari masyarakat.

Soal yang fundamental malah mereka lupakan dan abaikan. Bagaimana sikap mereka mengenai UU MD3, soal MK, soal korupsi apalagi. Masalah kebangsaan yang sangat mendesak mengenai UU ormas pun mereka malah gagal mengolah menjadi sentimen positif, malah jauh menjerumuskan mereka.

Mereka masih perlu banyak belajar politik praktis yang sangat elegan. Selama ini politik mereka masih emosional, apa yang ditampilkan tidak rasional, cenderung kekanak-kanakan. Kebencian, kemarahan, dan susah mengembalikan citra besar mereka dengan menuding membuat mereka ngos-ngosan menghadapi pilpres kali ini.

Kedepankan politikus model Desmon, Muzani, dari pada Zon, yang malah merugikan sangat telak bagi keberadaan Gerindra sendiri. Keriuhan tidak menguntungkan, jangan lupa kalau masyarakat sudah cerdas. Sikap diam Pak Prabowo melihat sepak terjaang anak buahnya yang acakadut juga bisa dinilai sebagai pembiaran dan mendukung pola demikian.

Siapa yang diuntungkan dengan segitiga AHY, Jokowi, dan Gerindra? Jelas sosok AHY, yang membangun citra dirinya eh malah didukung oleh Gerindra. Gerindra sebenarnya memiliki tanggung jawab sendiri pada pihak Pak Prabowo dengan segala sisinya. Apa yang ditawarkan, apa yang hendak dibangun. Poles ini saja banyak isu strategis yang bisa memoncerkan Pak Prabowo, tidak perlu dengan menjelek-jelekan apa yang dilakukan Pak Jokowi. Jauh lebih elegan dan bermartabat.

Kurangi kampanye negatif ala Zon, dengan banyak komentar tidak penting soal pemerintah. Ingat bukan soal pengawasan ala dewan, toh nyatanya dewan cuma begitu-begitu saja. Apa yang dinyatakan soal pemerintah hanya berbuat cibiran.

Sebenarnya Zon sangat strategis jika mau membangun Senayan menjadi menjual. Absensi dewan membaik saja, tiket nama harus Gerindra akan melambung. Kinerja membaik saja orang akan respek. Lha malah makin buruk, apa yang dinilai? Jelas saja mereka terlibat.

Salam