Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Deklarasi AM Hendropriyono dan Luhut BP, Antara Olok-Olok dan Kelogisannya

25 Januari 2018   15:54 Diperbarui: 25 Januari 2018   17:38 1050 5 2
Deklarasi AM Hendropriyono dan Luhut BP, Antara Olok-Olok dan Kelogisannya
Foto: Tribunnews.com

Deklarasi AM Hendropriyono dan Luhut BP, antara olok-olok dan kelogisannya, bagaimana masuk dalam nalar dengan keberadaan kedua sosok ini. Jauh lebih banyak  candaan, olok-olokan, dan jika benar, malah menjadikan mereka berdua bahan tertawaan saja. 

Bukan bermaksud melecehkan atau meremehkan keduanya, namun "modal" mereka berdua sangat minim untuk bisa bersaing di dalam kontestasi selevel pilpres. Beberapa hal yang memperlemah bahwa itu fakta sebagai berikut:

Duet militer-militer,bukan barang jualan yang laris manis. Masa lalu dan kisah yang melingkupinya masih kuat terpatri.  Salah satu militer masih wajar. Ingat saat 2004, banyak militer yang masuk dalam rivalitas untuk menuju istana. Toh tidak ada yang dua-duanya militer. Tidak ada yang berani militer menggandeng militer. Hal yang sama masih akan terjadi untuk ke depannya. Artinya, yang memainkan isu ini, tidak terlalu dalam menyandingkan calon.

Parpol pendukung. Ini sangat fundamen, bisa saja PKPI mengusung Pak Hendro, namun apa cukup, sedang kursi di parlemen saja tidak punya. Golkar di mana Pak Luhut aktif, susah bisa memegang Golkar dengan  faksi-faksi yang ada. Sangat susah untuk memiliki kendaraan yang akan mengusung mereka. Partai lain pun telah memiliki "jago" masing-masing. Apalagi ini paket komplit, siapa yang mau mengantar dengan penumpang penuh tanpa ada andil dari parpolnya.

Isu agama, sangat tidak mudah.Hal yang krusial soal agama. Lihat saja DKI kemarin, meskipun jauh lebih karena pribadi Ahok bukan agamanya, namun ini level wakil presiden lho. 

Memang bukan tidak mungkin, namun sangat sulit. Semua sih bisa saja terjadi, hanya hampir mustahil tanpa menimbulkan gejolak dan penolakan. Senjata empuk, jika pun berpindah agama. Sangat lemah untuk ada pasangan ini, dengan latar belakang seperti ini.

Keduanya bukan seolah yang moncer dalam pemilihan, keterpilihannya tidak tinggi meskipun cukup populer. Walaupun petinggi negeri, militer, dan orang terkenal, namun soal keterpilihan sangat meragukan. 

Mereka bukan pribadi-pribadi yang membuat orang langsung suka dan memilih. Tentu bukan pula orang buruk atau jelek dalam arti apapun, namun untuk menjadi pemenang dalam pemilihan langsung, sangat lemah.  Masih banyak figur lain yang bisa melampaui mereka berdua. Jarang juga mengejutkan dalam survey-survey.

Termasuk generasi tua, tidak lagi menjanjikan. Generasi di bawahnya mulai banyak, level Agus Yudoyono saja berani berkiprah kog, mosok orang-orang setua ini masih juga masuk glanggang secara langsung. 

Mereka masa lalu, tidak akan bisa dalam pemilihan. Namun pemikiran, pengalaman, dan kewibaan mereka masih banyak dibutuhkan. Pengabdian di mana pun masih bisa buat mereka berdua.

Pengalaman puntidak menjanjikan. Memang mereka berdua jenderal, pengalaman di dunia mereka lengkap, namun untuk politik dan birokrasi mereka tidak cukup mumpuni. Masih banyak orang yang lebih meyakinkan dan menjanjikan untuk menjadi RI-1 dan RI-2.

Melihat beberapa hal di atas, nampak lebih banyak sebentuk olok-olok daripada beneran. Bagaimana mau yakin dengan tiba-tiba muncul  dua nama yang melengkapi bukan untuk menjadi lebih baik, namun lemah dan saling melemahkan demikian.

Bantahan jelas sudah terdengar. Mereka merasa bahwa hal itu sebuah bentuk kebohongan dan fitnah bahkan bukan menilai sebagai bentuk dukungan atau apresiasi. Artinya mereka paham, kondisi, kapasitas, dan keadaan mereka yang memang tidak cukup untuk bisa bersaing dalam kontestasi setinggi itu.

Bisa saja pelaku itu, penyebar undangan, hanya main-main, olok-olokan, dan tidak ada maksud serius, kucu-lucuan saja di mana tahun panas politik memang bagus dengan adanya lelucon demikian.  namun dengan menyantumkan dua nama orang sebenarnya tidak elok, apapun alasannya, apalagi jika keduanya tidak dimintai izin.

Namun bisa pula bahwa hal itu dilakukan oleh sekelomok orang yang merasa bahwa keduanya bisa menjadi harapan baru dan tawaran alternatif. Jika demikian, tentu tidak elok, karena salah satu nama itu adalah menko yang sedang menjabat.

Pihak lain yang ingin kedua purnawirawan itu mendapatkan sebentuk noda hitam, pun tidak bisa dipungkiri. Mereka berdua banyak diketahui sebagai loyalis presiden saat ini. 

Adanya undangan dan deklarasi tersebut bisa menyulut masalah. Jika  kelompok ini yang main, oklokrsimemang menjadi gaya berpolitik sebagian elit politikus bangsa ini. Jika demikian dan motivasi ini yang ada, patut disayangkan karena masih jauh saja sudah ada bibit-bibit main kasar dan potensi fitnah bisa terjadi.

Apakah perlu laporan ke polisi atau  penyelenggara pemilu? Jika memang mereka berdua merasa tidak tahu apa-apa, perlu. Minimal agar tahu apa maksudnya, jika memang ada yang merasa mereka berpotensi, diminta dengan cara-cara yang baik. Apalagi untuk becanda dan olok-olok, diminta untuk menghentikan, karena ada nama, pakai acara, dan  itu ada rententan yang serius. 

Paling serius jika dilakukan untuk mengadakan "kericuhan" dini bagi pilpres yang akan datang. Semua masih bisa terjadi, dan perlu bijak dan terukur sehingga bermanfaat bukan malah sebaliknya.

Salam