Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Demo 121, Kontraproduksi bagi Hidup Berbangsa dan Bernegara

12 Januari 2018   06:37 Diperbarui: 12 Januari 2018   08:30 2162 37 35

Demo 121, kontraproduksi bagi hidup berbangsa dan bernegara. Ingat ini kepentingan sekelompok orang yang bernama FPI, ingat besar-besar bukan soal agama.  

Coba dipikir dengan kepala waras dan jernih, kalau orang numpang di rumah orang, mau sementara atau terus menerus, tanpa kontribusi, artinya tidak bayar, tidak ikut merawat, hanya hidup di situ, eh malah ngamuk saat disurh pergi, karena tidak mau ikuti aturan yang punya rumah. Mana yang waras coba?

Demo, sejatinya sah-sah saja  bagi alam demokrasi, tapi juga lihat kepentingannya lah. Jangan demi sekelompok orang, merugikan lebih banyak kelompok. Apa sih urgensinya dengan berdemo dengan alasan yang sangat jelas dan mendasar kog pemblokiran akun itu. Memangnya bisa menekan orang atau lembaga lain dengan modal dan model yang itu-itu saja.

Reputasi panjang mengenai "pelanggaran hukum dan ketentuan" dan kekerasan tentu menjadi alasan yang cukup kuat bagi pihak FB untuk mengambil tindakan. Toh sudah banyak juga yang dibawa ke ranah hukum positif hidup berbangsa dan bernegara. Perilaku mereka sendiri yang memang tidak patut, bukan malah menuduh pihak lain sebagai pelaku penindasan dan ketidakadilan.

Dalam sebuah buku spiritual disebutkan, orang, jelas lembaga juga, kalau merasa selalu mendapatkan ketidakadilan, perlu melakukan cek ke dalam diri, ada masalah apa, keberanian untuk melihat hal ini, jujur pada diri sendiri, akan ketemu masalahnya di mana. Sering orang akan mencari-cari ke mana-mana padahal kotoran ayam itu nempel di pipi. 

Pantes baunya di mana-mana karena memang ikut itu. Nah di sinilah masalah itu, bukan pada siapa-siapa. Selalu saja menuduh pihak lain sebagai merugikan, ketika dikritik ngamuk dan melakukan intimidasi secara berlebihan.

Mengapa perlu bersikap reaktif dan berlebihan, tidak pernah mau memeriksa diri dulu? Karena bawah sadarnya sudah tahu kalau dia itu sebenarnya bermasalah. 

Tidak berani mengakui dan jujur dengan diri sendiri, akhirnya berlku reaktif, menuduh orang yang merugikan mereka, pembenaran atas perilaku buruk mereka biasanya mencari teman yang sama-sama memiliki persoalan. Ketika pribadi-pribadi demikian yang mengelola organisasi, ya kelihatan arah, warna, dan coraknya.

Masukan akan dinilai dan dipahami sebagai permusuhan, mengapa? Karenaa apa yang diukurkan itu, adalah takaran perilaku mereka. Baju tidak akan diukur oleh badan lain bukan?

 Dan itu selalu demikian karena tidak ada yang menyadarkannya. Semua memahami, mengalah, dan selalu memberi fasilitas.  Mengalah dalam konteks demikian dinilai kalah dan selalu ditindas.

Apa yang dilakukan jauh lebih merugikan daripada manfaat yang mereka berikan. Bagaimana bisa melakukan demo yang sering berakhir ricuh dan merusak, membuat jalanan macet, itu bukan semata warga Jakarta, di sana juga banyak orang asing yang tentu jadi miris, ini Jakarta apa hutan dengan hukum rimbanya sih? Demo sih demo, tapi juga yang jelas lah agendanya, apa yang mau dibela, bukan dikit-dikit demo, boikot, tapi masih juga memakainya.

Pilihan demo juga apa sudah tepat dengan berbagai rekam jejak mereka sendiri yang tidak sejalan dengan hukum positif, sering melakukan "penegakan hukum" versi sendiri, memaksakan kehendak dalam banyak hal. 

Hal-hal itu juga terbawa dalam  bermedia sosial. Coba saja bayangkan, kalau numpang mobil atau nebeng, eh malah ngata-ngatain mobilnya jelek, bau, tidak pernah dirawat, masih lagi malah memaksa ke utara sedang yang memiliki kendaraan maunya ke barat, pas ada persimpangan.

Apa sih yang dimaui dengan media sosial, ini media sosial apa media soksial jadinya. Sosial artinya dasarnya dari socius, teman,artinya ya berteman, bukan malah menebarkan permusuhan dan perselisihan.  Masalah ada di mana sih sebenarnya FB atau FPI? Ranah kinerja FB itu seluruh dunia lho, menemui masalah belum banyak negara di dunia. FPI yang lokal banget itu, sudah ditolak di mana saja bisa dilihat oleh simbah.

Perbaiki diri dululah, daripada mempermalukan diri sendiri dengan hukum rimbanya, membawa banyak pasukan yang sangat merugikan itu, kepolisian juga harus ekstra mengawasi. Keras dikir mewek, tidak ditegasi nanti berulah yang bisa berujung ke mana-mana.

Kedewasaan spiritual itu bukan dari mulut yang berteriak, jauh lebih berkualitas yang tenang dan diam. Bukan juga banyaknya yang berbicara mengenai dukungan apalagi penthungan

Pemaksaan kehendak, pemaksaan yang sama, serta keinginan menjadi yang ter dalam banyak hal, menunjukkan kepribadian kerdil yang perlu banyak-banyak belajar hal yang spiritual.

Bagaimana orang menjadi simpatik kalau ucapan dibalas dengan cacian, pikiran dibalas dengan gerudugan.  Mencaci maki maksiat dirinya sendiri juga melakukan. Mengatakan agama namun nilai agama jauh dari ucapan apalagi perilaku. Sudahlah, terlalu banyak rekam  jejak buruk daripada kebaikan yang sudah ditanamkan.

Salam